• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Proses Penularan Difteri yang Perlu Diwaspadai

Begini Proses Penularan Difteri yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Penyakit difteri disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Corynebacterium diptheriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan, sehingga membuat pengidapnya kesulitan dalam bernapas. Bakteri ini akan menginfeksi seseorang dengan kekebalan tubuh yang rendah, dan sangat berbahaya bagi anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun. Begini proses penularan difteri yang perlu diwaspadai.

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Proses Penularan Difteri

Bakteri penyebab difteri akan menyebar jika seseorang tidak sengaja menghirup cairan dari hidung dan mulut pengidap. Tak hanya cairan tubuh, bakteri dapat menyebar melalui benda-benda yang telah terkontaminasi cairan tubuh pengidap. Penyakit yang satu ini merupakan penyakit yang mudah menular, bahkan tanpa disadari. Berikut beberapa proses penularan yang terjadi:

  • Penularan melalui benda yang telah terkontaminasi, seperti alat makan, mainan atau handuk pengidap.

  • Penularan melalui sentuhan langsung dengan luka atau bisul di kulit pengidap.

  • Penularan melalui kontak langsung dengan hewan yang telah terinfeksi.

  • Penularan melalui susu atau makanan yang belum melalui proses sterilisasi.

  • Penularan melalui udara yang terkontaminasi air liur pengidap.

Bakteri dapat dengan mudah menyebar dan menginfeksi banyak orang. Maka dari itu, pengidap difteri biasanya akan diobati di ruangan khusus agar tidak semakin banyak orang yang terinfeksi. Gejala biasanya baru akan muncul selama 2-5 hari setelah seseorang terinfeksi. Namun, tidak semua pengidap mengalami gejala yang sama. 

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Kenali Gejala yang Muncul

Biasanya, gejala baru akan muncul setelah lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel terbentuk. Selain lapisan tipis tersebut, gejala yang muncul dapat meliputi sakit tenggorokan, pilek, batuk, suara serak, demam, lemas, menggigil, serta adanya pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Sedangkan gejala berat dapat ditandai dengan:

  • Mengalami gangguan penglihatan.

  • Mengalami keringat dingin.

  • Mengalami sesak napas.

  • Mengalami perubahan pada detak jantung menjadi lebih cepat.

  • Mengalami perubahan warna kulit menjadi lebih pucat.

Pertolongan medis darurat dibutuhkan jika kamu mengalami sejumlah gejala parah tersebut. Jika diketahui adanya gejala ringan muncul, kamu dapat langsung menemui dokter di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jika gejala ringan dibiarkan begitu saja, gejala parah akan muncul dan dapat membahayakan nyawamu.

Baca juga: Waspada Penyakit Menular, Ini 6 Gejala Difteri

Langkah Pencegahan Infeksi Difteri

Pencegahan yang paling efektif dilakukan dengan imunisasi. Imunisasi untuk mencegah penyakit difteri sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu  vaksin DPT-HB-HiB, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda secara bertahap. Berikut imunisasi yang diberikan:

  1. Imunisasi pertama saat anak berusia di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-HiB yang diberikan dengan jarak 1 bulan. 

  2. Imunisasi lanjutan saat anak berusia 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-HiB.

  3. Imunisasi lanjutan saat anak kelas 1 SD  sebanyak 1 dosis vaksin DT.

  4. Imunisasi lanjutan saat anak kelas 2 SD  sebanyak 1 dosis vaksin Td.

  5. Imunisasi lanjutan saat anak kelas 5 SD  sebanyak 1 dosis vaksin Td.

Kelima imunisasi yang diberikan tersebut diharapkan mampu melindungi anak dari difteri di sepanjang hidupnya. Setelah lengkap, ibu dapat memberikan imunisasi saat mereka memasuki usia remaja, yaitu saat berusia 11-18 tahun guna memaksimalkan keefektifan imunisasi. Bagi mantan pengidap difteri, imunisasi ini dapat dilakukan guna mencegah difteri datang dan muncul di kemudian hari.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2019. Everything You Need to Know About Diphtheria.
NHS. Diakses pada 2019. Diphtheria.