• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Anak Broken Home Lebih Berpotensi Terkena BPD?

Benarkah Anak Broken Home Lebih Berpotensi Terkena BPD?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Harvard Medical School Affiliate, anak dengan kondisi Borderline Personality Disorder (BPD) tidak selalu dipicu oleh masalah keluarga salah satunya broken home

Banyak juga anak dengan BPD memiliki keluarga yang harmonis dan orangtua yang perhatian. Seperti dilansir dari The Conversation, disebutkan kalau 80 persen orang dengan gangguan kepribadian ambang memiliki riwayat trauma. Bisa karena dampak dari pelecehan emosional, fisik, atau seksual. Penjelasan selengkapnya baca di bawah ini!

Mengenal BPD dan Risikonya

BPD adalah gangguan kesehatan mental yang berdampak pada cara berpikir dan merasakan tentang diri sendiri dan orang lain. Ini bisa menyebabkan masalah pada kehidupan sehari-hari. Termasuk masalah citra diri, kesulitan mengelola emosi dan perilaku, serta pola hubungan yang tidak stabil.

Orang dengan BPD memiliki ketakutan yang kuat akan pengabaian atau ketidakstabilan, dan mungkin mengalami kesulitan mentolerir sendirian. Kemarahan yang tiba-tiba, impulsif, dan perubahan suasana hati seringnya dapat membuat orang sekitar menjauh. 

Baca juga: Ini 4 Pemicu Gangguan Mental Borderline Personality Disorder

Biasanya gejala gangguan kepribadian ini lebih parah ketika pengidapnya menginjak usia muda, tetapi secara bertahap akan membaik seiring dengan pertambahan usia. Tanda dan gejala BPD adalah:

1. Ketakutan yang kuat akan pengabaian, bahkan melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan nyata atau yang dibayangkan.

2. Memiliki pola hubungan yang tidak stabil.

3. Perubahan cepat dalam identitas diri dan citra diri yang mencakup pergeseran tujuan dan nilai, dan melihat diri sendiri buruk.

4. Periode paranoia yang berhubungan dengan stres dan hilangnya kontak dengan kenyataan. Bisa berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.

5. Pola perilaku impulsif dan berisiko.

6. Melakukan ancaman atau perilaku melukai diri, sering kali sebagai respons terhadap rasa takut akan perpisahan atau penolakan.

7. Perubahan suasana hati yang cepat; bahagia, lekas marah, malu, kemudian cemas.

8. Perasaan kosong yang berkelanjutan.

Informasi selengkapnya mengenai gejala BPD bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Penanganan Gangguan BPD

Perawatan untuk gangguan BPD dilakukan untuk mengelola dan mengatasi kondisi. Mulai dari psikoterapi atau terapi bicara. Tujuan psikoterapi adalah untuk membantu:

1. Fokus pada kemampuan saat ini sehingga tetap beraktivitas seperti biasa.

2. Belajarlah mengelola emosi yang terasa tidak nyaman.

3. Kurangi dorongan impulsif dengan mengamati perasaan ketimbang melakukan tindakan. 

Selain mendapatkan bantuan profesional, penting juga menggali informasi mengenai BPD sehingga kamu bisa mengelolanya dengan baik. Pelajari tentang gangguan ini sehingga kamu dapat memahami penyebab dan perawatannya

Baca juga: Suka Marah-Marah Tanpa Sebab, Waspada Gangguan BPD

Belajarlah untuk mengenali apa yang dapat memicu ledakan kemarahan atau perilaku impulsive. Cari bantuan profesional dan patuhi rencana perawatan hadiri semua sesi terapi dan minum obat sesuai petunjuk.

Bekerja sama dengan penyedia kesehatan mental untuk mengembangkan rencana untuk apa yang harus dilakukan pada saat terjadi krisis berikutnya. Pertimbangkan untuk melibatkan orang-orang terdekat dalam perawatan yang membantu mereka memahami dan memberikan dukungan.

Kelola emosi dengan mempraktikkan keterampilan koping, seperti penggunaan teknik pernapasan dan meditasi mindfulness. Tetapkan untuk diri sendiri dan orang lain dengan mempelajari cara mengekspresikan emosi secara tepat dan tidak mendorong orang lain sehingga memicu pengabaian atau ketidakstabilan.

Jangan membuat asumsi tentang apa yang orang rasakan atau pikirkan tentang dirimu. Pertahankan gaya hidup sehat, seperti makan makanan sehat, aktif secara fisik, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Jangan salahkan diri sendiri atas gangguan ini, tetapi kenali dan bertanggung jawablah untuk menanganinya.



Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Borderline Personality Disorder.
Harvard Medical School Affiliate. Diakses pada 2020. Breaking Down Myths About Borderline Personality Disorder.
The Conversation. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder is a hurtful label for real suffering – time we changed it.