• Home
  • /
  • Benarkah Bumil yang Terkena Rubella Picu Cacat pada Bayi?

Benarkah Bumil yang Terkena Rubella Picu Cacat pada Bayi?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Benarkah Bumil yang Terkena Rubella Picu Cacat pada Bayi?

Halodoc, Jakarta - Sudah sejak lama pemerintah menghimbau masyarakat mengenai pentingnya pemberian vaksin MR, atau measles and rubella, pada anak-anak. Rubella, jika menyerang anak-anak atau orang dewasa mungkin tidak terlalu berbahaya. Namun, jika terjadi pada ibu hamil, akan ada ancaman bahaya bagi janin dalam kandungan.

Janin yang terinfeksi rubella, berisiko mengalami berbagai bagai efek buruk. Mulai dari sindrom rubella kongenital hingga kematian. Nah, sindrom rubella kongenital adalah salah satu penyebab paling umum cacat lahir pada bayi. Selain itu, rubella pada ibu hamil juga bisa menyebabkan keguguran dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Baca juga: Ini Pentingnya Vaksin Rubella untuk Anak

Bahaya Infeksi Rubella saat Hamil

Seperti telah dikatakan sebelumnya, infeksi rubella pada anak maupun orang dewasa umumnya tidak terlalu berbahaya. Sebab, sistem kekebalan tubuh dapat membantu melawan virus tersebut. Namun, lain halnya jika virus ini menginfeksi ibu hamil, karena janin di dalam kandungan belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna untuk melawan infeksi virus.

Infeksi virus rubella pada ibu hamil paling berbahaya jika terjadi pada trimester pertama kehamilan, atau ketika usia kehamilan mencapai 12 minggu. Soal sindrom rubella kongenital, sindrom ini adalah penyakit berbahaya ya karena dapat memicu bayi lahir dalam keadaan cacat. Berikut beberapa gangguan yang mungkin terjadi pada bayi akibat infeksi rubella saat hamil:

  • Penyakit jantung bawaan.
  • Penyakit mata, seperti katarak hingga glaukoma.
  • Gangguan intelektual.
  • Gangguan pertumbuhan.
  • Berat badan lahir bayi rendah.
  • Gangguan perkembangan.
  • Kesulitan belajar.
  • Tuli.
  • Diabetes.
  • Pembesaran hati dan limpa.
  • Luka di kulit.
  • Perdarahan.

Baca juga: Alasan Kenapa Ibu Hamil Perlu Waspada Rubella\

Gejala Infeksi Rubella pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang Terinfeksi virus rubella, terutama jika berada di ruangan yang sama lebih dari 15 menit dengan orang yang terinfeksi virus ini, sebaiknya segera menghubungi dokter. Agar lebih cepat dan mudah, ibu hamil bisa download aplikasi Halodoc dan gunakan untuk berbicara dengan dokter lewat chat atau buat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

Secara umum, gejala infeksi rubella pada ibu hamil adalah:

  • Demam ringan hingga tinggi.
  • Peradangan pada mata atau konjungtivitis.
  • Ruam kulit yang terasa gatal dan tidak kunjung hilang dalam waktu tiga hari.
  • Bercak merah biasanya mulai muncul di area belakang telinga, kemudian menyebar ke kepala, leher, perut, dada, tangan dan kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama yang berada di belakang leher.
  • Gejala seperti sedang flu, seperti pilek, mata berair, sakit tenggorokan, dan batuk atau bersin.

Gejala rubella pada ibu hamil biasanya baru akan muncul dua atau tiga minggu setelah terpapar virus. Orang yang terinfeksi rubella akan berada pada kondisi paling menular, pada satu minggu sebelum bercak merah muncul hingga 4 hari setelah bercak hilang.

Bisakah Infeksi Rubella pada Ibu Hamil Dicegah?

Cara paling efektif untuk mencegah infeksi rubella pada ibu hamil adalah vaksinasi. Jika setelah pemeriksaan ternyata kamu belum memiliki kekebalan terhadap infeksi rubella, berikut cara yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus ini:

Baca juga: Perlu Tahu Vaksin MR dan MMR untuk Anak

1. Sebelum Hamil

Jika kamu sedang merencanakan kehamilan, tetapi belum pernah menerima vaksin rubella, segera pergi ke pusat pelayanan kesehatan untuk menerima vaksin. Setelah divaksin, berilah jenis ditanya 1 bulan sebelum kembali menjalani program hamil.

2. Saat sedang Hamil

Jika kamu belum menerima vaksin rubella tetapi sudah hamil, cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi rubella adalah dengan sebisa mungkin tidak berkontak dengan orang yang terinfeksi virus ini. Sebab, vaksin rubella tidak dapat diberikan pada ibu hamil.

3. Setelah Melahirkan

Karena tidak dapat diberikan saat hamil, vaksin rubella baru bisa diberikan setelah melahirkan. Dengan begitu, tidak akan bisa mengeluarkan rubella pada anak sebelum ia mendapatkan vaksin sendiri nanti. Selain itu, pemberian vaksin rubella juga akan mencegah penularan kehamilan selanjutnya.

Referensi:
Boston Children’s Hospital. Diakses pada 2020. Congenital Rubella - Symptoms and Causes.
WHO. Diakses pada 2020. Rubella.
Pregnancy, Birth, and Baby. Diakses pada 2020. Rubella German Measles.