• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Corona Varian Delta Berdampak Besar pada Penyintas Lansia?

Benarkah Corona Varian Delta Berdampak Besar pada Penyintas Lansia?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Benarkah Corona Varian Delta Berdampak Besar pada Penyintas Lansia?

“Virus corona varian delta menjadi perhatian karena lebih mudah menular dan berdampak besar, terutama pada lansia. Seorang penyintas bisa terinfeksi kembali, bahkan meski sudah divaksinasi dua kali. Hal ini sebabkan virus corona varian delta semakin memperburuk sistem kekebalan tubuh. Itulah pentingnya untuk tetap disiplin pada protokol kesehatan.”

Halodoc, Jakarta – Belum lama ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa virus corona varian delta atau B1.617.2 yang pertama kali ditemukan di India sebagai varian of concern (VOC). Hal ini menandakan bahwa varian tersebut termasuk jenis virus yang mengkhawatirkan karena lebih mudah menular dibandingkan dengan strain Alpha yang ditemukan di Inggris. 

Lantas seperti apa dampak dibandingkan virus corona sebelumnya? Dilansir dari CNN Indonesia (16/06/2021), Ketua Tim Penelitian Whole Genome Sequence (WGS) SARS-CoV-2 Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Gunadi PhD, Sp.BA menyampaikan varian delta B1617 berdampak buruk jika menyerang penyintas lanjut usia (lansia). Mengapa demikian?

Baca juga: Ini Cara Virus Corona Menyerang Tubuh

Virus Corona Varian Delta Memperlemah Kekebalan Penyintas Lansia

Virus corona varian delta disebut bisa menurunkan kekebalan tubuh lansia meskipun mereka sudah mendapatkan dua dosis vaksinasi. Dari hasil penelitian, dr. Gunadi menemukan bahwa B1617 berpotensi menyebabkan reinfeksi yang justru semakin memperlemah kekebalan tubuh penyintas. 

“Semakin tua pasien COVID-19 maka varian delta ini akan memperburuk kekebalan tubuh pasien tersebut,” jelas dr. Gunadi yang dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan yang terbit pada Senin (14/06/2021).

Tidak hanya itu, varian delta memiliki dampak yang lebih besar lagi, yaitu menginfeksi kembali penyintas COVID-19 dan semakin memperlemah kekebalan tubuh penyintas. Pada kondisi sebelumnya, jika seseorang sudah terinfeksi COVID-19, maka ia mendapatkan antibodi secara alami. Adanya varian delta ini dapat menurunkan kekebalan tubuh lansia meskipun sudah mendapatkan vaksinasi sebanyak dua dosis. 

Tentu saja orang yang paling berisiko akan varian delta adalah orang yang belum mendapatkan vaksinasi sama sekali dan mereka yang tidak memiliki respon imun yang kuat terhadap vaksinasi, seperti orang berusia tua atau lansia. 

“Dalam hal ini bisa dikatakan pemerintah sudah tepat menyasar target vaksinasi bagi golongan lanjut usia karena mereka kelompok yang rentan apabila tertular COVID-19 apalagi varian delta,” lanjut dr. Gunadi.

Baca juga: Terjangkit Virus Corona, Kapan Gejalanya Akan Berakhir?

Bahkan orang-orang yang mendapatkan vaksinasi COVID-19 secara lengkap tetap harus melakukan tindakan pencegahan dengan menjalankan prokes (protokol kesehatan) secara tertib. Terutama saat berada di tempat umum, di mana orang lain mungkin memiliki virus corona. 

Gejala Virus Corona Varian Delta Berbeda-beda pada Setiap Orang

Para dokter di China menemukan bahwa ketika varian delta menyebar ke seluruh dunia, orang-orang mengalami gejala yang berbeda dan bisa lebih parah dibandingkan virus corona sebelumnya. 

Demam biasa terjadi. Tingkat virus dalam tubuh meningkat lebih tinggi dari sebelumnya terlihat selama pandemi. Namun, akan lebih banyak orang yang sakit parah dalam 3 atau 4 hari. 

Baca juga: Mutasi Virus Corona dan Kemampuan mRNA Terbatas

Di Inggris, dimana varian delta merupakan 91 persen dari kasus baru, ditemukan bahwa gejala yang paling banyak dilaporkan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek. Untuk orang berusia muda, mungkin terasa seperti pilek. Tapi mereka masih bisa menyebarkan virus ke orang yang lebih berisiko terkena penyakit parah, termasuk mereka yang belum divaksinasi sepenuhnya. 

Bahkan orang dengan infeksi tanpa gejala bisa menularkan virus ke orang lain. Penting untuk selalu waspada terhadap gejala lain dari infeksi virus corona, seperti batuk, sesak napas, sakit kepala, kelelahan, atau kehilangan indera perasa atau penciuman. 

Jika kamu mengalami gejala yang dicurigai infeksi virus corona, segera hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
CNN Indonesia. Diakses pada 2021. Ahli: Corona Varian Delta Perburuk Kondisi Penyintas Lansia
Sehat Negeriku Kemkes RI. Diakses pada 2021. Interaksi Sosial yang Tinggi Penyebab Lonjakan Kasus COVID-19
Healthline. Diakses pada 2021. The COVID-19 Delta Variant: Here’s Everything You Need to Know
Medical News Today. Diakses pada 2021. The delta variant of SARS-CoV-2: What do we know about it?