• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah COVID-19 Pengaruhi Kesehatan Mulut dan Gigi?

Benarkah COVID-19 Pengaruhi Kesehatan Mulut dan Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah COVID-19 Pengaruhi Kesehatan Mulut dan Gigi?

“COVID-19 telah menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia. Penyakit yang terjadi karena infeksi virus ini memang sangat membahayakan. Tak terhitung telah berapa orang gugur karena tak mampu melawan ganasnya infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas ini. Kini, beredar kabar terbaru bahwa COVID-19 bisa memengaruhi kesehatan mulut dan gigi.”

Halodoc, Jakarta – Ya, wacana tentang penyakit COVID-19 yang katanya bisa turut memengaruhi kesehatan mulut dan gigi sedang diteliti oleh para ilmuwan dan pakar kesehatan. Melalui sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Oral Radiology, para peneliti menuliskan bahwa kesehatan mulut yang tidak terjaga bisa turut berperan dalam penularan virus corona. 

Penelitian tersebut mencatat, mulut bisa berperan sebagai pintu masuk virus corona. Ini disebabkan karena sel yang berada pada lidah, gigi, dan gusi dibekali dengan enzim yang bisa mengubah angiotensin-2 atau ACE-2. Enzim ini adalah sejenis reseptor yang bisa meningkatkan peluang masuknya virus ke dalam sel. Sayangnya, pada orang-orang dengan kesehatan mulut yang tidak terjaga, tingkat reseptor ACE-2 ini bisa dibilang lebih tinggi. 

Sementara itu, pada studi lain yang diterbitkan dalam British Dental Journal, disebutkan bahwa kemungkinan ada kaitan antara masalah kesehatan yang menyerang gusi dan perubahan pada plak gigi dengan meningkatnya risiko komplikasi akibat penyakit COVID-19. Ini berarti, kurangnya kebersihan pada area mulut dan gigi bisa meningkatkan potensi berpindahnya bakteri dari mulut ke paru-paru. Dampak yang terjadi tentu meningkatnya risiko infeksi bakteri selain COVID-19.

Baca juga: Wajib Tahu 4 Kegiatan yang Dilarang bagi Anak Selama PPKM

Peradangan pada Gusi dan Infeksi COVID-19

Peradangan pada gusi atau gingivitis menjadi salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai. Kondisi ini terjadi karena kebersihan mulut dan gigi yang tidak terjaga. Gejala yang muncul ketika terinfeksi masalah kesehatan ini termasuk bau mulut, terasa tidak enak pada mulut, gusi mengalami pembengkakan dan berwarna kemerahan, dan gusi berdarah ketika melakukan flossing atau menggosok gigi. 

Pasalnya, kebersihan mulut yang tidak terjaga bisa mengakibatkan penumpukan bakteri yang melekat pada gigi sehingga menyebabkan terbentuknya plak. Inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya radang gusi. Para peneliti menduga, orang yang mengidap COVID-19 yang sifatnya melemahkan imunitas tubuh bisa berarti orang tersebut tidak menjaga dan mempraktikkan kebersihan mulut yang baik dan benar. 

Kondisi ini akan meningkatkan peluang tumbuhnya plak pada gigi sehingga risiko mengalami gingivitis pun tentu akan lebih tinggi. Tak hanya itu, mengalami gusi berdarah juga bisa menjadi salah satu gejala dari COVID-19, karena peneliti mendapatkan pengamatan bahwa gejala gingivitis yang dialami cenderung mereda setelah infeksi virus corona mereda. Meski begitu, tetap diperlukan penelitian lanjutan terkait kondisi ini untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. 

Baca juga: Gingivitis pada Gusi, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Bisakah Penyakit COVID-19 Mengakibatkan Gigi Sensitif?

Ternyata, tidak ada studi yang secara intensif membahas mengenai kaitan antara COVID-19 dengan sensitivitas gigi. Sebenarnya, seseorang mengalami gigi sensitif ketika lapisan enamel yang merupakan lapisan paling luar untuk melindungi gigi mengalami kerusakan atau melemah. Gejala gigi sensitif, antara lain:

  • Terasa nyeri atau tidak nyaman ketika sedang mengunyah makanan atau minum.
  • Lebih peka terhadap makanan atau minuman yang terlalu panas atau terlalu dingin.
  • Mengalami nyeri setelah terpapar udara yang dingin.
  • Lebih peka terhadap makanan atau minuman yang memiliki rasa asam atau manis. 

Guna meringankan gejalanya, biasanya dokter akan menyarankan untuk menggunakan pasta gigi yang dibuat khusus untuk gigi sensitif atau menggunakan pasta gigi dengan bulu sikat yang ekstra lembut. Namun, jika gejala tak kunjung mereda, kamu perlu melakukan pemeriksaan gigi ke dokter. Sekarang membuat janji untuk periksa ke rumah sakit terdekat tak lagi sulit dengan pakai aplikasi Halodoc. Segera download aplikasinya dan buat janji kapan saja untuk berobat. 

Mulut Kering dan Infeksi COVID-19

Xerostomia atau dikenal juga dengan mulut kering terjadi saat air liur tidak mampu menjaga kelembapan pada mulut. Kondisi ini akan membuat seseorang mengalami kesulitan untuk membersihkan partikel makanan yang ada di dalam mulut, memecah makanan yang sedang dikonsumsi, hingga menelan makanan. 

Sebuah studi mengemukakan bahwa mulut kering bisa mengindikasikan gejala dari penyakit COVID-19. Meski begitu, alasan yang dikemukakan masih bisa dibilang belum jelas. Peneliti mengungkapkan, mulut kering berpotensi menjadi dampak dari infeksi virus corona yang menginfeksi dan mengakibatkan kerusakan pada kelenjar ludah. Tak hanya itu, kondisi tersebut juga bisa terjadi karena kebersihan mulut yang kurang baik dan efek samping dari pengobatan COVID-19 yang sedang dijalani. 

Meski begitu, tanpa adanya penanganan, mulut kering bisa berdampak pada peningkatan risiko terjadinya kerusakan gigi dan infeksi pada mulut. 

Baca juga: Cara Mengobati Sariawan Tanpa Rasa Perih

Sariawan dan COVID-19

Sama halnya dengan infeksi virus lainnya, infeksi virus corona juga mengakibatkan kerusakan pada sistem kekebalan sehingga membuat tubuh rentan mengalami kondisi sekunder lain. Beberapa orang yang dinyatakan sembuh dari penyakit COVID-19 mengaku mengalami sariawan, baik pada lidah, gusi, maupun langit-langit mulut. Gejala lain yang mungkin muncul, termasuk: 

  • Muncul benjolan berwarna merah atau putih pada area mulut bagian dalam.
  • Mengalami rasa tidak nyaman ketika sedang makan maupun minum.
  • Merasakan sensasi seperti terbakar pada mulut.

Meski begitu, seharusnya kondisi ini membaik dengan penanganan ringan dalam waktu satu hingga dua minggu. Jika gejala tidak mereda atau semakin parah, segera konsultasikan pada dokter. 

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi: 
Dursun Ali Sirin and Fatih Özçelik. 2021. Diakses pada 2021. The relationship between COVID-19 and the dental damage stage determined by radiological examination. Oral Radiology 3: 1-10.