• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Dermatitis Atopik Disebabkan Faktor Keturunan?

Benarkah Dermatitis Atopik Disebabkan Faktor Keturunan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benarkah Dermatitis Atopik Disebabkan Faktor Keturunan?

Halodoc, Jakarta – Artis peran tanah air, Mona Ratuliu, baru saja mengabarkan anak bungsunya, Numa Kamala Srikandi, mengalami gangguan kesehatan pada kulit yang dikenal sebagai dermatitis atopik. Melalui akun Instagram pribadi miliknya, Mona mengatakan bahwa disekitar wajah putrinya mengalami ruam kemerahan. Ia juga menceritakan bahwa kondisi dermatitis atopik tidak hanya dialami oleh putri bungsunya saja. Putri ketiganya, Syanala Kania Salsabila, nyatanya juga mengalami hal yang hampir serupa dengan adiknya. Lalu, benarkah dermatitis atopik bisa terjadi akibat adanya riwayat keluarga atau faktor keturunan?

Baca juga: Mencubit Pipi Bayi Disebabkan Dermatitis Atopik, Ini Faktanya

Dermatitis atopik sendiri merupakan salah satu peradangan yang terjadi pada kulit dan menyebabkan muncul ruam serta rasa gatal pada kulit. Umumnya, kondisi dermatitis atopik akan muncul pada anak-anak sekitar usia 5 tahun. Berbagai faktor dapat memicu munculnya kondisi dermatitis atopik atau yang dikenal juga dengan eksim. 

Dermatitis atopik juga sangat umum terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Tidak ada salahnya ketahui lebih banyak mengenai dermatitis atopik, agar kamu mengetahui perawatan yang tepat bagi kondisi dermatitis atopik.

Riwayat Keturunan Menjadi Salah Satu Faktor Pemicu

Penyebab dermatitis atopik secara umum belum diketahui secara pasti. Melansir WebMD, kondisi dermatitis atopik sendiri bukanlah bentuk suatu reaksi alergi tertentu. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi dermatitis atopik, seperti:

  1. Riwayat keturunan atau genetik.
  2. Fungsi sistem kekebalan tubuh yang tidak bekerja secara optimal.
  3. Lingkungan dengan kondisi gangguan kesehatan yang serupa.
  4. Berbagai aktivitas yang membuat kondisi kulit menjadi lebih sensitif.
  5. Gangguan pada kulit yang menyebabkan kulit kehilangan kelembapannya sehingga mengakibatkan kuman atau bakteri lebih mudah untuk masuk dalam kulit.
  6. Memiliki gangguan pada endokrin.

Melansir National Institute of Allergy and Infectious Disease, faktor genetik atau keturunan dan lingkungan menjadi salah satu faktor pemicu yang paling umum menyebabkan seseorang mengalami kondisi dermatitis atopik. Anak-anak dengan kondisi orangtua memiliki riwayat serupa nyatanya lebih rentan mengalami kondisi dermatitis atopik.

Baca juga: Ketahui Fakta Lengkap Mengenai Dermatitis Atopik

Kenali Gejala Dermatitis Atopik

Umumnya, dermatitis atopik menyebabkan gangguan pada kulit berupa gatal-gatal sebelum muncul ruam kemerahan pada kulit. Setelah itu, terdapat perubahan lain pada kulit, seperti penebalan kulit yang menyebabkan kulit terlihat bersisik yang disertai dengan rasa gatal pada malam hari dan juga kulit yang sangat kering. Pada orang dewasa, kondisi ini rentan muncul pada bagian tangan, leher, serta kaki.

Pada anak-anak, biasanya gangguan kulit juga akan terlihat pada bagian lipatan siku dan lutut. Tetap jaga kondisi kulit selalu sehat dan bersih. Meskipun terasa gatal, tetapi sebaiknya hindari menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal, hal ini dapat menyebabkan luka terbuka yang semakin meningkatkan risiko infeksi pada pengidap dermatitis atopik. Segera gunakan aplikasi Halodoc dan bertanya langsung pada dokter jika anak atau kamu sendiri mengalami beberapa gejala yang terkait dengan kondisi dermatitis atopik. 

Pengidap dermatitis atopik biasanya akan lebih rentan mengalami infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Jangan ragu kunjungi rumah sakit terdekat dan lakukan pemeriksaan ketika ruam pada kulit berisi cairan kuning atau nanah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa telah terjadi infeksi pada kulit.

Perawatan Dermatitis Atopik

Meskipun dermatitis tidak dapat diobati, tetapi dengan melakukan perawatan yang tepat pengidap dermatitis atopik akan terhindar dari infeksi yang menjadi komplikasi dari dermatitis atopik. Penggunaan beberapa jenis obat-obatan bisa dilakukan untuk mengurangi rasa gatal dan gejala yang muncul terkait dermatitis atopik. 

Melansir Mayo Clinic, penggunaan krim untuk mengatasi rasa gatal serta obat antibiotik akan diberikan oleh dokter untuk mengurangi gejala dan kondisi komplikasi yang dialami oleh pengidap dermatitis atopik. Tentunya, penggunaan jenis obat-obatan harus sesuai dengan saran dan anjuran dokter.

Selain itu, ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah untuk mengurangi gejala yang muncul, seperti mandi dengan air yang tidak terlalu panas untuk mengatasi rasa gatal, hindari menggosok kulit terlalu keras, gunakan sabun yang memiliki kandungan pelembap, serta gunakan pakaian yang menyerap keringat.

Baca juga: 4 Tips untuk Ibu Jika Bayi Alami Dermatitis Atopik

Bagi anak-anak atau bayi yang mengalami kondisi dermatitis atopik, sebaiknya hindari perubahan suhu yang sangat drastis karena dapat tingkatkan risiko gejala kembali muncul. Jangan lupa untuk menjaga kulit bayi tetap bersih dan memiliki tingkat kelembapan yang tepat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Atopic Dermatitis.
National Institute of Allergy and Infectious Disease. Diakses pada 2020. Eczema (Atopic Dermatitis).
National Eczema Association. Diakse pada 2020. Scientists Identify a Gene Mutation That May Cause Atopic Dermatitis.
WebMD. Diakses pada 2020. Eczema.