Benarkah Gangguan Cemas Bisa Sebabkan Kejang?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Benarkah Gangguan Cemas Bisa Sebabkan Kejang?

Halodoc, Jakarta – Semua orang normalnya pasti pernah mengalami cemas. Namun ternyata, rasa cemas yang berlebihan bisa sampai menyebabkan kejang. Benarkah demikian? Faktanya, serangan panik dan reaksi kecemasan parah dapat membanjiri otak. Kondisi ini dapat menyebabkan respons fisik dan emosional yang parah.

Namun ternyata, tidak semua orang yang memiliki gangguan cemas akan mengalami kejang melainkan mereka yang telah mengidap epilepsi. Stres berat adalah pemicu kejang yang sangat umum, dan mereka yang mengalami kecemasan berat sering mengalami stres berat.

Sangat jarang seseorang mengalami kejang pertama sebagai akibat dari kecemasan. Mereka yang sudah mengidap epilepsi lebih besar memiliki risiko ini. Epilepsi cenderung mengalami kejang pertama saat masih sangat muda, biasanya saat bayi, atau sebagai akibat trauma kepala, atau saat mencapai usia pensiun. Mengembangkan epilepsi antara usia remaja dan dewasa sangat jarang terjadi.

Baca juga: 5 Gangguan Kepribadian dengan Rasa Cemas Berlebihan

Dalam kasus yang sangat jarang, kejang parsial meniru serangan panik. Tapi ini tidak terlalu umum, dan sekali lagi, sebagian besar dari orang-orang ini sudah berisiko terkena epilepsi. Ada juga serangan panik yang bisa sangat parah, sehingga menyerupai kejang. Ini sedikit lebih umum, tetapi masih jarang.

Satu-satunya cara untuk membedakannya adalah dengan berbicara dengan dokter langsung. Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai gangguan cemas dan kejang ini, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Bagaimana Perawatan untuk Kejang?

Pengobatan dapat membantu kebanyakan orang dengan epilepsi memiliki lebih sedikit kejang, atau berhenti mengalami kejang sepenuhnya. Perawatan ini termasuk:

  1. Obat-obatan yang disebut obat anti-epilepsi (AED);

  2. Pembedahan untuk mengangkat sebagian kecil otak yang menyebabkan kejang;

  3. Sebuah prosedur untuk meletakkan perangkat listrik kecil di dalam tubuh yang dapat membantu mengendalikan kejang; dan

  4. Diet khusus (diet ketogenik) yang dapat membantu mengendalikan kejang

Akhirnya, kekhawatiran bukan hanya kecemasan yang menyebabkan kejang tetapi lebih kepada  kejang akibat epilepsi yang dialami dapat menyebabkan kecemasan. Sayangnya, ini adalah masalah umum dengan epilepsi karena beberapa alasan:

Baca juga: 6 Fakta tentang Epilepsi yang Belum Banyak Diketahui

  1. Diagnosis epilepsi bisa sangat menegangkan;

  2. Kejang epilepsi dapat menyebabkan kegelisahan yang hebat;

  3. Epilepsi mungkin hidup dalam ketakutan akan kejang berikutnya; dan

  4. Epilepsi dapat sementara mengubah kimia otak dengan cara yang menyebabkan lebih banyak kecemasan.

Itu sebabnya jika kamu epilepsi, mengobati baik epilepsi dan kecemasan adalah hal yang harus dilakukan bersamaan. Obat epilepsi yang tepat dapat membantu menghentikan kejang, tetapi kamu harus memastikan agar jangan sampai kecemasan mengganggu kualitas hidupmu. Terutama karena kecemasan yang dialami dapat meningkatkan risiko kejang.

Sejatinya mengonsumsi beberapa vitamin dapat mengelola gejala epilepsi. Mulai dari konsumsi Vitamin B6 dan magnesium. Kekurangan magnesium dapat meningkatkan risiko kejang. Sama halnya dengan kekurangan vitamin E di mana kandungannya dapat meningkatkan kemampuan antioksidan. 

Baca juga: Epilepsi Bisa Sembuh atau Selalu Kambuh?

Johns Hopkins Medicine menciptakan diet Atkins yang dimodifikasi sebagai alternatif rendah karbohidrat dan tinggi lemak untuk diet ketogenik untuk orang dewasa dengan epilepsi. Pola makan yang sehat dapat menurunkan kejang pada hampir setengah dari mereka yang mencobanya. 

Mengenai perawatan tepat untuk pengidap epilepsi, Epilepsy Foundation merekomendasikan untuk melakukan identifikasi awal dan akurat mengenai tipe kejang serta kondisi terkait lainnya. Jika kamu tetap mengalami kejang setelah satu tahun perawatan atau setelah konsumsi obat, ini berarti butuh mencari spesialis epilepsi.