• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah ISK Bisa Sebabkan Kerusakan Ginjal Permanen?

Benarkah ISK Bisa Sebabkan Kerusakan Ginjal Permanen?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Benarkah ISK Bisa Sebabkan Kerusakan Ginjal Permanen?

Halodoc, Jakarta – Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi di bagian mana pun di sistem kemih, mulai dari kandung kemih, uretra, ureter sampai ginjal. Infeksi ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Selain bisa menimbulkan rasa sakit dan mengganggu, ISK juga bisa berbahaya bila dibiarkan saja. Infeksi bisa menyebar ke ginjal dan menyebabkan organ tersebut mengalami kerusakan permanen. Berikut ulasannya.

Baca juga: Jika Dibiarkan, Infeksi Saluran Kemih Bisa Sebabkan Sepsis

Memahami ISK dan Penyebabnya

Infeksi saluran kemih biasanya terjadi ketika bakteri masuk ke saluran kemih melalui uretra dan mulai berkembang biak di kandung kemih. Meskipun sistem saluran kemih dirancang untuk mencegah penyerang berukuran kecil tersebut. Namun, kadang-kadang pertahanan bisa gagal. Ketika hal itu terjadi, bakteri yang masuk bisa bertahan dan berkembang biak, dan menyebabkan infeksi besar-besaran di saluran kemih. 

ISK biasanya terjadi pada saluran kemih bagian bawah yang meliputi kandung kemih dan uretra. Namun, ISK juga bisa terjadi pada saluran bagian atas yang melibatkan ureter dan ginjal. Meskipun jarang terjadi, ISK pada saluran bagian atas biasanya lebih parah.

ISK juga lebih sering dialami oleh wanita karena wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada pria. Hal itu membuat bakteri lebih mudah untuk mencapai kandung kemih atau ginjal dan menyebabkan infeksi. Berhubungan seks, kehamilan, dan tidak menjaga kebersihan dan kekeringan area intim dengan benar bisa membuat wanita rentan mengalami ISK.

Selain itu, ada beberapa faktor juga yang menyebabkan seseorang rentan mengalami ISK: 

  • Kondisi yang menyumbat saluran kemih, seperti batu ginjal.
  • Kondisi yang membuat kandung kemih sulit dikosongkan sepenuhnya, seperti kelenjar prostat yang membesar pada pria dan sembelit pada anak-anak.
  • Kateter urine, yaitu tabung di kandung kemih yang digunakan untuk mengalirkan urine.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pada pengidap diabetes.
  • Tidak minum cukup cairan.

ISK Bisa Merusak Ginjal

ISK sering kali tidak disadari oleh pengidapnya, sehingga membuat penyakit tersebut terlambat ditangani. Padahal ISK yang tidak diobati secepatnya dan dengan cara yang tepat bisa menyebabkan komplikasi. Salah satu komplikasinya adalah kerusakan ginjal permanen.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ISK juga bisa menyerang ginjal. Nah, infeksi ginjal akut atau kronis (pielonefritis) yang tidak segera diobati bisa membuat organ tersebut mengalami kerusakan permanen.

Oleh karena itu, bila kamu mengalami gejala-gejala, seperti nyeri punggung atau nyeri panggul, demam tinggi, kedinginan atau meriang, mual atau muntah, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, gejala-gejala tersebut merupakan gejala ISK yang terjadi di ginjal.

Baca juga: 3 Gejala Infeksi Saluran Kemih Mengalami Komplikasi

Pengobatan untuk ISK

Antibiotik adalah pengobatan umum untuk mengatasi infeksi saluran kemih. Kamu dianjurkan untuk menghabiskan antibiotik sesuai resep dokter, bahkan ketika sudah merasa lebih baik. Minum banyak air juga membantu mengeluarkan bakteri dari tubuh kamu. Dokter juga mungkin akan memberi obat untuk meredakan rasa nyeri.

Bila ISK muncul kembali setelah pengobatan, kamu perlu menjalani tes urine dan akan diberi resep antibiotik yang berbeda oleh dokter. Pada kasus ISK yang muncul kembali secara teratur, dokter umum mungkin memberikan antibiotik dosis rendah untuk dikonsumsi dalam waktu 6 bulan atau lebih lama.

Baca juga: Cegah Infeksi Saluran Kemih dengan Cara Ini

Nah, kamu bisa beli obat yang kamu butuhkan untuk mengatasi ISK melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu repot-repot keluar rumah, tinggal pesan melalui aplikasi dan pesanan ibu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya sekarang juga.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Urinary tract infection (UTI).
National Health Service. Diakses pada 2021. Urinary tract infections (UTIs).