• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Kelebihan Zat Besi Sebabkan Disfungsi Ereksi?

Benarkah Kelebihan Zat Besi Sebabkan Disfungsi Ereksi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Kelebihan zat besi yang tidak diobati dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, terutama pada persendian dan organ-organ di mana kelebihan zat besi cenderung disimpan  hati, pankreas, dan jantung. 

Salah satu komplikasinya adalah timbulnya masalah disfungsi ereksi (impotensi), serta hilangnya dorongan seks pada pria dan tidak adanya siklus menstruasi pada wanita. Informasi selengkapnya mengenai dampak kelebihan zat besi dapat dibaca di bawah ini!

Kelebihan Zat Besi dan Performa Seks

Gejala umum yang terlihat pada pria dengan kelebihan zat besi adalah hilangnya libido, penyusutan testis, disfungsi ereksi, dan impotensi. Meskipun tidak berbahaya seperti sirosis atau penyakit jantung, tetapi kondisi ini adalah gejala yang cukup problematik bagi pria dan sesuatu yang benar-benar berdampak pada kualitas hidup. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Hemochromatosis Help, disebutkan kalau 45 persen pria dengan hemokromatosis simptomatik memiliki gangguan impotensi. Mengapa terlalu banyak zat besi dapat memengaruhi dorongan seks dan fungsi seksual pada pria? 

Baca juga: Ganggu Performa, Begini Cara Mengatasi Disfungsi Ereksi

Alasan paling umum adalah kelenjar pituitari (pengatur penting hormon yang terdapat pada area tengah tengkorak) menjadi kelebihan zat besi. Kelebihan zat besi menyebabkan hormon seks pria tidak beroperasi dengan benar yang mengarah pada hipogonadisme, pengurangan testosteron, dan semua masalah performa seksualitas lainnya.

Gen yang menyebabkan hemokromatosis diwariskan. Hanya sebagian kecil orang yang memiliki gen tersebut yang mengalami masalah serius. Tanda dan gejala hemokromatosis biasanya muncul di usia paruh baya.

Fakta Lain dan Penanganan Kelebihan Zat Besi

Hemokromatosis herediter adalah kondisi yang menyebabkan tubuh menyerap terlalu banyak zat besi dari makanan yang kamu makan. Kelebihan zat besi disimpan di organ, terutama hati, jantung, dan pankreas. Terlalu banyak zat besi dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa, seperti penyakit hati, masalah jantung, dan diabetes.

Perawatan untuk kondisi ini adalah mengeluarkan darah dari tubuh, karena sebagian besar zat besi tubuh terkandung dalam sel darah merah. Tujuan perawatan ini tidak lain untuk menurunkan kadar zat besi.

Zat besi adalah mineral penting dalam makanan, dan merupakan komponen penting dari hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Zat besi hadir dalam dua bentuk. 

Zat besi heme terikat dalam molekul berbentuk cincin yang disebut porfirin. Ini ditemukan terutama dalam daging merah. Zat besi non-heme ditemukan pada tumbuhan dan hewan yang penyerapannya dibantu oleh vitamin C.

Hormon hepcidin mengatur keseimbangan zat besi tubuh. Fungsi hepcidin adalah untuk menekan penyerapan zat besi. Ketika simpanan zat besi tubuh tinggi, kadar hepcidin meningkat, dan penyerapan zat besi berkurang. Kelebihan zat besi juga bisa disebabkan oleh toksisitas zat besi yang dipicu oleh mengonsumsi suplemen zat besi dosis tinggi dalam jangka waktu yang lama.

Baca juga: Begini Cara Alami Mengobati Ejakulasi Dini

Pria dengan hemokromatosis genetik secara signifikan berisiko mengembangkan keropos tulang. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Hemochromatosis Help, disebutkan kalau kelebihan zat besi dapat berpengaruh pada kepadatan mineral tulang. 

Sering kali hemokromatosis terlambat dideteksi. Sebagian orang mengalami diabetes, penyakit hati, ataupun jantung tanpa tahu ternyata pemicu utamanya adalah hemokromatosis. Ingin tahu asupan zat besi yang sesuai dengan kebutuhanmu, tanyakan saja lewat aplikasi Halodoc.   

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hemochromatosis.
News Medical Life Sciences. Diakses pada 2020. What Happens if You Take Too Much Iron?
Hemochromatosis Help. Diakses pada 2020. Hemochromatosis in Men.