• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Terinfeksi COVID-19?

Benarkah Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Terinfeksi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Jika ada hal yang perlu menjadi perhatian selama pandemi COVID-19 ini berlangsung, maka ia adalah hubungan antara kurang tidur dan risiko COVID-19. Para ahli meyakini bahwa keduanya saling terkait. Analisis studi telah menemukan bahwa masalah tidur memengaruhi sekitar 40 persen orang selama pandemi, dan mereka yang terjangkit COVID-19 tampaknya memiliki tingkat gangguan tidur yang lebih tinggi.

Mengutip Huffpost, sebuah penelitian menunjukkan jika seseorang memiliki masalah tidur sebelum terkena virus Corona atau mengalami kelelahan setiap hari, maka ia memiliki risiko tinggi tidak hanya terinfeksi virus, tetapi juga memiliki penyakit yang lebih parah.

Baca juga: Waspada Vivid Dream Rentan Terjadi Selama Pandemi Corona

Kaitan Kurang Tidur dan Risiko COVID-19

Secara umum, gangguan tidur dan kelelahan kerja dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi virus dan bakteri. Itulah sebabnya para peneliti ingin mengeksplorasi apakah ada hubungan antara COVID-19 dan masalah tidur, serta stres.

Untuk penelitian yang dipublikasikan hasilnya di British Medical Journal of Nutrition, para peneliti menggunakan tanggapan terhadap survei online untuk petugas kesehatan yang berulang kali terpapar pasien dengan infeksi COVID-19. Survei berlangsung dari Juli hingga September 2020, dan terbuka untuk pekerja di Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat. Sekitar 2.884 petugas kesehatan menanggapi, dan 568 di antaranya tertular virus.

Detail pribadi yang dibagikan termasuk: gaya hidup, kesehatan, penggunaan obat resep dan suplemen makanan, ditambah informasi tentang seberapa banyak mereka tidur di malam hari dan tidur siang selama tahun sebelumnya; masalah tidur apa pun; kelelahan dari pekerjaan; dan paparan virus korona di tempat kerja.

Dalam penelitian tersebut, tingkat keparahan infeksi didefinisikan sebagai:

  • Sangat ringan, yakni tidak ada atau hampir tidak ada gejala.
  • Ringan, demam dengan atau tanpa batuk, tidak memerlukan pengobatan.
  • Sedang, demam, gejala pernapasan dan/atau pneumonia.
  • Parah, kesulitan bernapas dan saturasi oksigen rendah.
  • Kritis, kegagalan pernapasan yang membutuhkan bantuan mekanis dan perawatan intensif.

Rata-rata, responden tidur antara enam hingga tujuh jam setiap malam. Sekitar satu dari empat dari mereka yang dites positif COVID-19 melaporkan kesulitan tidur di malam hari dibandingkan dengan sekitar satu dari lima dari mereka yang tidak terinfeksi.

Sebanyak lima persen dari mereka dengan COVID-19 mengatakan mereka memiliki tiga atau lebih masalah tidur, termasuk kesulitan tidur atau perlu menggunakan pil tidur pada tiga malam atau lebih dalam seminggu, dibandingkan dengan tiga persen dari total mereka yang tidak terinfeksi.

Dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki masalah tidur, mereka yang memiliki tiga masalah tidur memiliki kemungkinan infeksi COVID-19 88 persen lebih besar. Setiap jam ekstra tidur di malam hari dikaitkan dengan kemungkinan infeksi COVID-19 12 persen lebih rendah.

Pekerja dengan kelelahan harian sekitar tiga kali lebih mungkin untuk mengatakan bahwa infeksi COVID mereka parah dan mereka membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama.

Baca juga: Pandemi Corona Bikin Susah Tidur, Ini Cara Mengatasinya

Alasan Kurang Tidur Tingkatkan Risiko COVID-19

Tidak jelas mengapa insomnia dan kelelahan terkait dengan peningkatan keparahan COVID. Namun, para peneliti berhipotesis bahwa kurang tidur dan gangguan tidur dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan sitokin dan histamin pro-inflamasi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keparahan penyakit.

Mereka juga menunjuk pada studi yang menghubungkan kelelahan dengan peningkatan risiko pilek dan flu serta kondisi jangka panjang, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit muskuloskeletal, dan kematian dari semua penyebab. Studi semacam itu menunjukkan bahwa kelelahan dapat secara langsung atau tidak langsung memprediksi penyakit akibat stres kerja yang merusak sistem kekebalan dan mengubah kadar kortisol.

Gangguan pada siklus tidur-bangun nyatanya dapat memengaruhi metabolisme, kekebalan, dan bahkan kesehatan psikologis. Kurang tidur juga dapat membuat makanan padat kalori, lebih tinggi lemak, gula dan garam, lebih menarik, terutama selama masa stres dan atau pola kerja shift. Sehingga semua ini berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. 

Baca juga: 5 Gerakan Yoga untuk Atasi Rasa Cemas Selama Corona

Jadi, kini kamu paham pentingnya kecukupan tidur untuk mencegah gejala COVID-19 yang lebih parah. Oleh karena itu, jika kamu tidak diwajibkan untuk bekerja di kantor, manfaatkanlah untuk mencukupi dan meningkatkan kualitas tidur. Begitu juga untuk mereka yang masih harus bepergian keluar selama pandemi, utamakanlah istirahat dan gaya hidup sehat lain serta protokol kesehatan untuk mencegah terjangkit COVID-19. 

Jika kamu membutuhkan saran untuk bisa mendapatkan tidur yang berkualitas, kamu bisa bertanya pada dokter di Halodoc mengenai hal ini. Dokter bisa memberikan saran tepat mengenai durasi tidur ideal untukmu atau bahkan tips-tips sehat lainnya untuk meningkatkan kualitas tidurmu. Tunggu apa lagi, gunakan smartphone-mu sekarang dan nikmati kemudahan bicara dengan dokter kapan dan di mana saja hanya di Halodoc!

Referensi:
Forbes. Diakses pada 2021. Lack Of Sleep Might Increase Your Chances Of Getting Covid-19.
Huff Post. Diakses pada 2021. Want To Reduce Your COVID-19 Risk? Get Some More Sleep.
Sleep Science. Diakses pada 2021. Sleep and COVID-19.