• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Pandemi Corona Bisa Sebabkan Agorafobia?

Benarkah Pandemi Corona Bisa Sebabkan Agorafobia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Bagi sebagian orang, berada di tengah keramaian dan meninggalkan rumah saat pandemi menimbulkan kecemasan tersendiri. Jika pengidap sudah memiliki agorafobia, terinfeksi virus corona bisa memperburuk kondisi yang ada. Agorafobia sendiri merupakan rasa takut atau cemas berlebihan pada tempat atau situasi. 

Saat dialami, pengidap akan merasakan panik, malu, tidak berdaya, atau terperangkap. Kondisi ini biasanya akan muncul saat pengidap sudah pernah mengalami satu kali serangan panik atau lebih. Lantas, apa hubungan antara virus corona dan agorafobia? Faktanya, pandemi virus corona picu agorafobia. Ini penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Efek Samping Vaksinasi COVID-19, Ketahui tentang KIPI

Pandemi Virus Corona Picu Agorafobia, Ini Penjelasannya

Sejak virus corona ditetapkan sebagai pandemi global, hampir semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena alasan kesehatan. Cara yang satu ini juga ampuh dalam mengurangi risiko penyebaran virus. Sedangkan beberapa orang yang sudah sangat bosan di rumah, akan menimbulkan dampak psikis tersendiri. Dampaknya sendiri bervariasi, karantina saat pandemi bisa saja meningkatkan kecemasan bagi pengidap agorafobia.

Kecemasan dan ketakutan yang dirasakan biasanya terkait dengan perpisahan, kecemasan sosial, atau takut terinfeksi virus corona. Agoraphobia sendiri merupakan jenis gangguan kecemasan yang membuat seseorang takut dan ingin menghindari tempat atau situasi Gejalanya sendiri bisa saja muncul di tempat umum, seperti pusat perbelanjaan atau transportasi umum. Agorafobia sering kali sejalan dengan gangguan panik.

Jadi, bisa dikatakan jika pandemi virus corona picu agorafobia. Semakin lama pandemi berlangsung, maka semakin besar pula dampaknya bagi orang-orang yang merasa tidak nyaman meninggalkan rumah. Bahkan, pergi membeli bahan makanan saja bisa menjadi ancamannya besar. Selain itu, selama ini semua orang terbiasa melakukan apa pun di dalam rumah. Hal tersebut yang membuat banyak orang harus beradaptasi terhadap lingkungan luar dari awal.

Baca juga: Mata Merah Bisa Jadi Gejala COVID-19, Benarkah?

Bagaimana Langkah Mengatasinya?

Pandemi virus corona picu agorafobia memang benar adanya. Langkah penanganannya sendiri dapat dilakukan dengan melakukan terapi eksposur. Terapi ini merupakan bentuk terapi perilaku kognitif, yang melibatkan paparan berulang terhadap situasi yang ditakuti. Menghadapinya secara langsung memberi otak kesempatan untuk belajar dan menemukan bahwa ketakutan yang dialami tidak rasional. Menghadapi ketakutan akan memberi dorongan kepercayaan diri untuk menghadapi situasi tersebut di kemudian hari.

Baca juga: Diare Bisa Jadi Gejala Terinfeksi Virus Corona, Ini Faktanya

Namun, jika ketakutan yang kamu alami semakin tidak masuk akal, silahkan temui psikolog atau psikiater di rumah sakit terdekat, ya. Pandemi yang terjadi memang menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Namun jika berlebihan sampai harus mengurung diri di rumah saja, hal ini sudah tidak wajar. Berikut ini beberapa tanda jika kamu harus segera menemui ahli untuk melakukan penanganan:

  • Saat keluar rumah, kamu ingin cepat kembali ke rumah atau menemukan tempat aman.
  • Kecemasan meluas dan memengaruhi interaksi dengan anggota keluarga.
  • Kamu terus-menerus memantau berita dan media sosial untuk mencari berita negatif.

Hal tersebut adalah gejala jika kamu harus segera mencari bantuan. Jangan dibiarkan begitu saja, delirium akan menghambat aktivitas dan interaksi sosial kamu dari orang-orang di sekitar.

Referensi:
The Healthy. Diakses pada 2021. Is Covid-19 Giving You Agoraphobia?
Cfpsych.org. Diakses pada 2021. How the Ongoing Pandemic Could Cause Agoraphobia.