Benarkah Pecandu Alkohol Rentan Terkena Xerophthalmia?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Benarkah Pecandu Alkohol Rentan Terkena Xerophthalmia?

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar penyakit xerophthalmia? Kondisi ini termasuk ke dalam penyakit mata progresif yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A, sehingga saluran air mata menjadi kering. Xerophthalmia dapat berkembang menjadi rabun senja atau kerusakan yang serius pada kornea. 

Kerusakan ini berupa bintik-bintik putih pada mata dan timbulnya borok pada kornea mata. Katanya, seorang pecandu alkohol rentan mengalami kondisi ini. Mengapa demikian? Berikut ini alasannya.

Baca Juga: Xerophthalmia dan Katarak, Apa Bedanya?

Alasan Pecandu Alkohol Rentan Alami Xerophthalmia

Vitamin A penting untuk fungsi dan pemeliharaan jantung, paru-paru, ginjal, dan organ lainnya. Konsumsi alkohol secara berlebihan memengaruhi proses penyerapan berbagai jenis vitamin dan metabolisme tubuh. Alkohol dapat mengganggu penyerapan lemak yang bekerja untuk melarutkan vitamin. Karena alasan inilah, pecandu alkohol rentan mengalami xerophthalmia karena kurangnya lemak untuk melarutkan vitamin A.

Jika kamu salah satu pecandu alkohol dan sedang berusaha berhenti dari kebiasaan ini, sebaiknya minta bantuan psikiater untuk mengetahui cara yang paling efektif. Melalui Halodoc, kamu bisa memilih dan membuat janji dengan psikiater atau jenis dokter yang kamu butuhkan. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Gejala yang Menandai Xerophthalmia

Pada awalnya, gejala xerophthalmia mungkin terlihat ringan. Namun, semakin lama gejala ini bisa semakin memburuk jika vitamin A tidak segera dipenuhi. Seseorang yang memiliki kondisi ini, lapisan tipis kelopak mata dan bola mata mulai mengering, menebal, dan mulai berkerut. Mengering dan berkerutnya konjungtiva dapat menyebabkan berbagai gejala.

Kebutaan malam adalah gejala awal. Ini adalah ketidakmampuan untuk melihat dalam cahaya redup. Saat xerophthalmia berkembang, lesi akan terbentuk pada kornea yang disebut bintik Bitot. Pada kondisi ini, sebagian atau seluruh kornea bisa mencair dan dapat mengarah ke kondisi kebutaan.

Baca Juga: Benarkah Wanita Hamil Rentan Terkena Xerophtalmia?

Penanganan untuk Atasi Xerophthalmia

Suplemen vitamin A bisa dijadikan obat darurat untuk atasi xerophthalmia. Vitamin A dapat diminum atau disuntikkan. Dosis bervariasi sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Dalam kasus yang lebih lanjut di mana kornea telah rusak, pengidap mungkin menerima antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Pengidap yang mendapat perawatan mungkin perlu untuk melindungi mata dengan menutupnya sampai lesi sembuh.

Suplemen vitamin A dapat dengan cepat meredakan gejala xerophthalmia dan membantu melindungi anak-anak dari kematian akibat penyakit anak lainnya. Pemberian suplemen vitamin A adalah langkah pencegahan utama, ketika kondisi ini telah terdeteksi. Ini adalah cara yang paling mudah dan murah untuk mencegah gejala semakin memburuk serta mencegah hilangnya nyawa. 

Pendidikan gizi menjadi hal krusial untuk membantu seseorang dalam memanfaatkan sumber makanan mereka sebaik mungkin. Membentengi makanan dengan vitamin A juga membantu mengurangi kekurangan vitamin A. Vitamin A yang juga dikenal sebagai retinol adalah zat yang larut dalam lemak yang ditemukan dalam produk hewani seperti:

  • Hati ikan;

  • Unggas;

  • Daging;

  • Produk susu;

  • Telur.

Selain melalui produk hewani, jenis vitamin ini perlu diperoleh dari sumber nabati dalam bentuk beta karoten. Beta karoten akan diubah menjadi retinol di dalam usus. Sumber beta karoten bisa diperoleh melalui sayuran berdaun hijau, buah dan sayuran berwarna kuning dan oranye dan minyak kelapa merah.

Baca Juga: Cara Ampuh untuk Mencegah Xerophthalmia

Konsumsi suplemen vitamin A maupun contoh makanan diatas bisa mencegah terjadinya xerophthalmia. Hindari mengonsumsi alkohol secara berlebihan karena memicu xerophthalmia dan penyakit serius lainnya.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Everything You Should Know About Xerophthalmia.
Science Direct. Diakses pada 2019. Learn more about Xerophthalmia.