• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Sakit Telinga Tanda Mengalami Stroke?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Sakit Telinga Tanda Mengalami Stroke?

Benarkah Sakit Telinga Tanda Mengalami Stroke?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 24 Juni 2022

“Sakit telinga dan penurunan pendengaran disebut-sebut menandai gejala stroke pada seorang wanita yang viral di media sosial. Namun, benarkah tuli mendadak bisa mengindikasikan penyakit stroke?”

Benarkah Sakit Telinga Tanda Mengalami Stroke?

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini tengah viral di salah satu platform media sosial, seorang perempuan belia mengaku mengalami stroke. Awalnya ia merasa telinganya selalu berdengung sejak September 2021, hingga kemampuan pendengarannya menurun. Namun, setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, ia divonis mengalami stroke.

Berita ini menyebabkan banyak netizen yang bertanya-tanya, apakah sakit telinga merupakan tanda mengalami stroke? Perlu diketahui, jenis stroke yang dialami remaja  tersebut berbeda dengan stroke biasanya. Kondisi tersebut  juga dikenal sebagai sudden sensorineural hearing loss (SSHL) atau sudden deaf (tuli mendadak). 

Lantas, bagaimana terjadinya tuli mendadak tersebut?

Penyebab Terjadinya Tuli Mendadak

Tuli mendadak dapat terjadi ketika koklea di telinga bagian dalam, atau jalur saraf antara telinga dan otak menjadi rusak. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada lansia, tapi juga bisa terjadi pada orang berusia muda.

Belum diketahui secara pasti penyebab spesifik tuli mendadak. Melansir dari media daring nasional, kondisi yang dialami gadis 18 tahun yang terkena ‘stroke’ ini lebih merupakan gangguan pada telinga akibat intervensi mekanik. Salah satunya paparan perangkat gawai atau earphone. Sehingga diperlukan lebih banyak informasi mengenai detail gejala dan diagnosis untuk mengetahui kondisi dia yang sebenarnya. 

Sementara itu, beberapa kemungkinan penyebab tuli mendadak antara lain:

  • Malformasi telinga bagian dalam.
  • Cedera kepala atau trauma.
  • Paparan yang terlalu lama terhadap suara keras. Misalnya penggunaan headset terlalu lama dan keras.
  • Kondisi neurologis, seperti multiple sclerosis.
  • Penyakit sistem kekebalan tubuh, seperti sindrom Cogan.
  • Penyakit meniere, yaitu gangguan yang mempengaruhi telinga bagian dalam.
  • Penyakit Lyme, yang merupakan penyakit menular yang sering ditularkan melalui gigitan kutu.
  • Konsumsi obat ototoksik, yang dapat membahayakan telinga.
  • Racun dari gigitan ular.
  • Masalah sirkulasi darah.
  • Pertumbuhan jaringan abnormal atau tumor.
  • Penyakit pembuluh darah.
  • Penuaan.

Sementara itu, kondisi tuli mendadak ini bisa dimiliki seseorang akibat bawaan. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari:

  • Infeksi yang ditularkan dari ibu ke anak. Seperti rubella, sifilis, atau herpes.
  • Toxoplasma gondii, yaitu parasit yang melewati rahim.
  • Genetik atau faktor keturunan.
  • Berat badan lahir rendah.

Gejala Tuli Mendadak yang Perlu Diwaspadai

Sekitar sembilan dari 10 orang dengan tuli mendadak mengalami gangguan pendengaran hanya pada satu telinga. Pengidap mungkin merasakan gangguan pendengaran tepat setelah bangun pagi. 

Kehilangan pendengaran yang tiba-tiba ini terkadang didahului oleh suara letupan yang keras. Gejala lainnya termasuk:

  • Kesulitan mengikuti percakapan grup.
  • Suara percakapan teredam.
  • Ketidakmampuan untuk mendengar dengan baik ketika ada banyak kebisingan pada latar belakang.
  • Kesulitan mendengar suara bernada tinggi.
  • Pusing.
  • Memiliki masalah keseimbangan.
  • Tinnitus, yang terjadi ketika kamu mendengar dering atau suara berdengung di telinga.

Jika kamu mengalami gejala-gejala di atas sebaiknya segera dapatkan perawatan medis. Perawatan dini dapat meningkatkan peluang untuk pulih secara penuh. Namun, sebelumnya dokter perlu mengetahui penyebab gangguan pendengaran sebelum memulai perawatan.

Apabila penyebab ditemukan, steroid adalah pengobatan yang umum diberikan. Obat ini dapat mengurangi peradangan dan pembengkakan yang menyebabkan gangguan pendengaran. Dokter mungkin juga meresepkan antibiotik jika infeksi bakteri adalah penyebab tuli mendadak.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat memasukkan implan koklea ke telinga melalui pembedahan. Hanya saja implan tidak sepenuhnya memulihkan pendengaran, tapi dapat memperkuat suara ke tingkat yang lebih normal.

Meskipun kamu memiliki gejala yang mirip dengan yang disebutkan di atas, hindari untuk melakukan self diagnosis. Sebaiknya segera kunjungi dokter di rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih tepat. Kamu bisa membuat janji medis di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSHL)
Healthy Hearing. Diakses pada 2022. Sudden hearing loss in one ear
Emedicine. Diakses pada 2022. Sudden Hearing Loss
CNN Indonesia. Diakses pada 2022. Viral Gadis 18 Tahun Sakit Telinga Ternyata Stroke, Ini Kata Dokter