• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Sindrom Rasmussen Lebih Sering Terjadi pada Anak?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Sindrom Rasmussen Lebih Sering Terjadi pada Anak?

Benarkah Sindrom Rasmussen Lebih Sering Terjadi pada Anak?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 24 November 2022

“Sindrom Rasmussen menjadi penyakit langka yang rentan terjadi pada anak. Ketahui gejalanya agar pengobatan bisa dilakukan lebih dini.”

Benarkah Sindrom Rasmussen Lebih Sering Terjadi pada Anak?Benarkah Sindrom Rasmussen Lebih Sering Terjadi pada Anak?

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar mengenai penyakit sindrom Rasmussen? Penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang cukup langka dan kerap menyerang anak-anak. Sindrom Rasmussen atau Rasmussen Encephalitis adalah penyakit neurologis yang menyebabkan peradangan progresif kronis pada salah satu belahan otak.

Pengidap sindrom ini rentan mengalami gangguan listrik pada bagian otak yang menyebabkan epilepsi atau kejang. Jika tidak ditangani dengan baik, gejala dapat memburuk dan menyebabkan berbagai komplikasi pada kesehatan. Jadi, sebaiknya ketahui berbagai gejala yang menjadi tanda dari penyakit ini agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Sindrom Rasmussen pada Anak

Para ahli belum mengetahui persis penyebab sindrom secara pasti. Beberapa peneliti menduga bahwa penyakit ini terjadi akibat gangguan autoimun pada tubuh. Pada pengidap autoimun, pertahanan alami tubuh akan menyerang jaringan yang sehat sehingga memicu berbagai gangguan pada tubuh.

Ada juga ahli yang menduga sindrom Rasmussen bisa terjadi akibat adanya infeksi yang tidak teridentifikasi pada bagian otak. Ada beberapa jenis infeksi yang diduga dapat menyebabkan penyakit ini, seperti influenza, campak, hingga cytomegalovirus.

Lalu, benarkah penyakit ini sering dialami pada anak? Ya, sindrom Rasmussen rentan dialami oleh anak-anak yang berusia 10 tahun atau lebih muda. Namun, penyakit ini jarang dialami oleh anak yang berusia di bawah dua tahun.

Selain anak-anak, penyakit ini juga rentan dialami oleh remaja dan dewasa. Akan tetapi, kasus penyakit ini pada kelompok usia tersebut sangatlah jarang. 

Waspada Gejala Sindrom Rasmussen

Gangguan pada sel saraf di otak menyebabkan pengidap mengalami gejala seperti kejang. Kondisi kejang yang dialami akan terjadi terus menerus dan berkembang menjadi Epilepsia Partialis Continua (EPC).

Kondisi ini ditandai dengan kontraksi yang cepat dan berirama dari relaksasi kelompok otot pada beberapa bagian tubuh, seperti lengan, tungkai, dan wajah. EPC bisa terjadi secara tunggal atau dalam rangkaian yang berulang terus menerus.

Biasanya gejala akan terjadi secara konsisten pada salah satu bagian sisi yang berlawanan dengan lokasi terjadinya peradangan. Seperti misalnya, peradangan yang terjadi pada otak bagian kanan akan menyebabkan gejala pada tubuh bagian kiri.

Bukan hanya pada fisik, kejang yang berlanjut dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan kemampuan fisik dan mental pengidap. Bahkan, pengidap penyakit ini juga berisiko mengalami regresi perkembangan. Artinya, anak pengidap sindrom Rasmussen dapat kehilangan kemampuan fisik dan mental yang sebelumnya telah dimiliki.

Pengidap juga dapat mengalami degenerasi pada salah satu sisi otak, kebingungan, disorientasi, hingga penurunan kemampuan intelektual.

Diagnosis Sindrom Rasmussen

Segera lakukan pemeriksaan di rumah sakit untuk memastikan kondisi kesehatan anak jika mengalami keluhan terkait dengan penyakit ini. Diagnosis sindrom Rasmussen bisa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan melihat riwayat kesehatan anak.

Pemeriksaan neurologis dengan menggunakan EEG dan MRI bisa dilakukan untuk memeriksa kondisi kesehatan otak secara mendetail. Selama pemeriksaan EEG, impuls listrik pada otak akan direkam untuk memastikan pola gelombang otak tertentu yang menunjukkan karakteristik dari jenis epilepsi tertentu.

Dokter akan meresepkan beberapa jenis obat-obatan yang bisa menurunkan gejala pada anak. Nah, ibu bisa cek kebutuhan obat yang diresepkan dokter menggunakan Halodoc. Obat bisa diantar kemana saja sehingga ibu tidak perlu repot keluar rumah. Praktiskan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play.

Banner download aplikasi Halodoc
Referensi:
NORD. Diakses pada 2022. Rasmussen Encephalitis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Rasmussens Encephalitis.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Understanding Rasmussen Syndrome.