• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Toxic Masculinity Bisa Sebabkan Depresi? Ini Faktanya!
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Toxic Masculinity Bisa Sebabkan Depresi? Ini Faktanya!

Benarkah Toxic Masculinity Bisa Sebabkan Depresi? Ini Faktanya!

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 November 2022

“Tindakan toxic masculinity bisa menimbulkan dampak negatif bagi mental seseorang. Seiring waktu, perilaku tersebut dapat menyebabkan ekspresi emosional disfungsional, bahkan hingga berujung depresi.”

Benarkah Toxic Masculinity Bisa Sebabkan Depresi? Ini Faktanya!Benarkah Toxic Masculinity Bisa Sebabkan Depresi? Ini Faktanya!

Halodoc, Jakarta – Saat ini istilah toxic masculinity kerap kali diperbincangkan di berbagai media sosial. Nah, istilah toxic masculinity sendiri sebenarnya merujuk pada tekanan yang kerap dialami oleh laki-laki secara psikologis. 

Fenomena ini biasanya berkaitan dengan tuntutan laki-laki untuk berperilaku dan bertindak dengan cara tertentu. Sesuai dengan pandangan, standar, ideologi, budaya, dan konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat. Sebagai contoh, sejak kecil, laki-laki diajarkan untuk selalu kuat dan tidak boleh menangis karena membuatnya lemah dan cengeng. 

Selain dianggap tidak baik, toxic masculinity dikabarkan juga dapat memengaruhi kesehatan mental sehingga berisiko menyebabkan stres atau depresi. Namun, benarkah demikian? 

Fakta Mengenai Toxic Masculinity Sebabkan Depresi 

Di beberapa negara, budaya kerap menjadikan  anak laki-laki yang mengungkapkan perasaan dipandang sebagai konteks yang negatif. Selain itu, laki-laki sedari kecil diharuskan untuk tidak menjadi emosional dalam hidupnya. Sebagai contoh, anak laki-laki yang merasa sedih dan mengungkapkan perasaannya kepada orang terdekatnya, mungkin akan mendapatkan respon seperti: 

  • Anak laki-laki tidak boleh menangis!
  • Jangan seperti bayi!
  • Jangan menangis seperti perempuan!
  • Jadilah seorang pria, lupakan saja hal yang membuatmu sedih! 

Selain itu, ketika sedang bermain dengan teman sebayanya, anak laki-laki juga mungkin kerap mendapatkan ujaran “cara menendang bolamu seperti wanita” atau “kamu berjalan seperti banci”. Beberapa frasa tersebut mungkin pernah ditujukan pada dirimu atau seseorang di sekitarmu. 

Hal ini tentunya menjadi situasi yang sangat tidak menyenangkan. Sebab, ketika seorang pria sedih, alih-alih ditanya bagaimana perasaannya, orang lain malah menyuruhnya untuk menjadi “pria” sehingga kesedihannya harus dihilangkan. 

Ketika perasaan atau emosi tertentu dihilangkan dan pemikiran yang menentukan gender terdengar berulang kali hal ini berdampak negatif. Sebab, pada akhirnya seorang anak akan belajar untuk menghindari mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya dan mulai memendam kesedihan. Seiring waktu, perilaku tersebut dapat menyebabkan ekspresi emosional disfungsional dan akhirnya depresi. 

Kenali Depresi yang Terjadi Akibat Toxic Masculinity 

Ketika seorang anak laki-laki tumbuh setelah menyerap hal-hal negatif yang digambarkan oleh orang lain, mereka akan melakukan hal yang sama dalam membesarkan anak laki-lakinya. Apalagi, konstruksi sosial di masyarakat mendikte bahwa kepercayaan diri, kekuatan, kesuksesan, dan ketenangan adalah elemen inti dari menjadi seorang pria. 

Selain itu, segala sesuatu yang “emosional” adalah hal-hal yang bersifat feminim atau kewanitaan, dan karenanya harus ditahan dan diabaikan. Sebab, hal ini membuat laki-laki terlihat kurang jantan. Akibat alasan ini, gejala depresi pada pria sering kali bermanifestasi berbeda dari pada wanita. Tanda dan gejala depresi pada pria meliputi:

  • Gangguan makan.
  • Disfungsi ereksi.
  • Kelelahan.
  • Merasa sedih atau marah di dalam tetapi menunjukkan kemarahan dan kemarahan untuk tampil maskulin. 
  • Tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari.
  • Peningkatan lekas marah.
  • Kurangnya konsentrasi.
  • Kurangnya minat di tempat kerja dan dalam keluarga. 
  • Kurang tidur. 
  • Adanya pikiran menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri. 

Jika kamu atau orang terdekatmu merasakan salah satu atau beberapa gejala tersebut, apalagi pikiran bunuh diri, segeralah mencari bantuan darurat medis. 

Itulah fakta mengenai toxic masculinity yang dapat menyebabkan depresi. Jawabannya, benar adanya toxic masculinity menyebabkan depresi pada pria. Sebab, seorang anak akan belajar untuk menghindari mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya dan mulai memendam kesedihan. Seiring waktu, perilaku tersebut dapat menyebabkan ekspresi emosional disfungsional dan akhirnya depresi. 

Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar toxic masculinity dan dampaknya terhadap kesehatan, atau memiliki keluhan medis, segeralah hubungi dokter. Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya dokter tepercaya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Tentunya melalui fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Banner download aplikasi Halodoc
Referensi: 
Verywell Mind. Diakses pada 2022. The Dangerous Effects of Toxic Masculinity.
Psycom. Diakses pada 2022. Depression in Men: The Cycle of Toxic Masculinity.