• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Turbulensi Dapat Sebabkan Keguguran?

Benarkah Turbulensi Dapat Sebabkan Keguguran?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Banyak pasangan yang akan merasa bahagia ketika kehamilan terjadi. Saat momen yang dinantikan sudah tiba, ibu pasti tidak ingin hal yang buruk terjadi pada diri sendiri dan janin.

Maka dari itu, sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh sampai waktu persalinan tiba. Momen-momen yang dapat menyebabkan keguguran harus benar-benar dihindari. Disebutkan bahwa salah satu hal yang dapat menyebabkan keguguran adalah turbulensi yang terjadi saat naik pesawat.

Beberapa sumber menyatakan hal yang berbeda-beda terkait turbulensi yang dapat sebabkan keguguran. Memang pada kenyataannya, ibu hamil tidak direkomendasikan untuk bepergian dalam jarak yang jauh. Banyak risiko yang dapat terjadi saat menaiki pesawat. Berikut pembahasan tentang turbulensi yang mungkin sebabkan keguguran!

Baca juga: Ibu Hamil, Wajib Tahu Penyebab dan Tanda Keguguran

Turbulensi Dapat Sebabkan Keguguran?

Saat akan bepergian jarak jauh, pesawat adalah salah satu moda transportasi yang bisa dipilih. Pesawat dapat menghemat waktu yang mungkin dapat ditempuh selama berhari-hari dengan kereta atau kapal laut. Walau begitu, tidak selalu pesawat yang kamu naiki akan melintas dengan normal. Mungkin saja turbulensi akan terjadi karena berbagai macam faktor.

Terdapat banyak rumor yang mengatakan apabila seorang ibu hamil yang mengalami turbulensi dapat sebabkan keguguran. Memang turbulensi yang terjadi dapat menimbulkan goyangan yang ringan hingga parah. Maka, hal tersebut menjadi pertimbangan tersendiri dapat sebabkan gangguan pada janin. Namun, apa hal tersebut benar adanya?

Faktanya, penerbangan yang menimbulkan turbulensi dapat sebabkan keguguran mungkin saja terjadi. Namun, turbulensi bukan penyebab utama sehingga menyebabkan kontraksi. Banyak hal lain yang dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kehilangan janin sebagai akibat dari menaiki pesawat untuk bepergian.

Penerbangan bukanlah suatu yang berbahaya bagi sang ibu dan bayinya jika mempunyai kehamilan yang sehat. Selain turbulensi, tekanan udara dan/atau penurunan kelembapan dapat memberikan dampak buruk. Maka dari itu, selalu pastikan apabila ibu hamil dan janin dalam keadaan sehat saat akan bepergian.

Selain itu, belum ada bukti yang pasti tentang terbang dengan pesawat dapat menyebabkan keguguran, persalinan dini, hingga air ketuban pecah dini. Walau begitu, seseorang yang terbang dengan pesawat akan mengalami sedikit peningkatan radiasi. NAmun, penerbangan sesekali tidak disebut dapat menimbulkan risiko.

Baca juga: Ketahui Tentang Keguguran yang Rentan di Awal Kehamilan

Maka dari itu, usia yang disarankan untuk bepergian dengan pesawat adalah ketika kandungan belum mencapai 34 minggu. Namun, alangkah lebih baiknya ketika telah memasuki trimester kedua, yaitu antara minggu ke-14 hingga minggu ke-28. Tidak disarankan untuk dilakukan saat kandungan masih pada trimester pertama dan ketiga.

Jika kamu mengalami kehamilan kembar tanpa komplikasi, usia 32 minggu paling maksimal diperbolehkan untuk pergi dengan pesawat. Hal yang harus kamu tahu adalah sebagian besar maskapai penerbangan tidak mengizinkan wanita yang telah memasuki usia 37 minggu untuk bepergian dengan armadanya.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait kesehatan kehamilan, dokter dari Halodoc siap menjawabnya. Caranya mudah, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan! Selain itu, kamu juga dapat memeriksakan kandungan di beberapa rumah sakit yang bekerjasama dengan Halodoc secara online.

Baca juga: 3 Jenis Keguguran yang Perlu Diwaspadai

Bepergian dengan Pesawat Dapat Sebabkan DVT

Setiap ibu hamil harus tahu bahwa terbang dengan pesawat dapat meningkatkan risiko untuk menyebabkan DVT. Gangguan ini akan menyebabkan gumpalan darah pada kaki atau panggul. Jika gumpalan tersebut telah berpindah ke paru-paru, maka risiko kehilangan nyawa mungkin saja terjadi.

Risiko tersebut mengalami peningkatan disebabkan seseorang yang hamil harus duduk dalam waktu yang lama. Kemungkinan tersebut akan terus naik sejalan dengan lamanya penerbangan. Ditambah lagi jika kamu pernah mengalami gangguan ini sebelumnya atau mengalami kelebihan berat badan, risikonya akan meningkat.

Untuk meminimalisir risiko untuk mengalami DVT pada ibu hamil, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengenakan pakaian yang longgar dan sepatu yang nyaman.

  • Meminta kursi yang berada di lorong.

  • Berjalan-jalan di sekitar pesawat agar tidak duduk terlalu lama.

  • Minum segelas air secara berkala sepanjang penerbangan.

  • Lakukan latihan di kursi setiap 30 menit.

  • Kurangi konsumsi alkohol atau kafein.

Referensi:
Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Diakses pada 2020. Air travel and pregnancy
Better Health. Diakses pada 2020. Pregnancy and travel