Benjolan pada Payudara, Apakah Fibroadenoma Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Benjolan pada Payudara, Apakah Fibroadenoma Berbahaya?

Halodoc, Jakarta - Menemukan benjolan di payudara bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi sebagian besar wanita. Namun, tidak semua benjolan adalah tumor yang bersifat kanker. Salah satu jenis tumor jinak yang sering ditemui di bagian payudara adalah fibroadenoma. Meski tidak mengancam jiwa, fibroadenoma mungkin tetap perlu diobati.

Baca Juga: Bukan Kanker, Ini 5 Benjolan pada Payudara yang Harus Diketahui

Fibroadenoma adalah tumor jinak yang umumnya muncul pada payudara dan biasanya dialami oleh wanita di bawah usia 30 tahun. Beberapa kasus fibroadenoma ukurannya sangat kecil, sehingga tidak dapat dirasakan. Ketika seseorang dapat merasakannya, rasanya akan sangat berbeda dari jaringan di sekitarnya.

Tepinya akan terlihat jelas dan tumor memiliki bentuk yang dapat dideteksi. Jika disentuh, tumor ini akan terasa mirip kelereng, tapi mungkin juga terasa seperti karet.

Ada dua jenis fibroadenoma, yakni fibroadenoma sederhana dan fibroadenoma kompleks. Tumor fibroadenoma sederhana tidak meningkatkan risiko kanker payudara dan mudah dilihat dibawah mikroskop. Sedangkan tumor kompleks, mengandung komponen lain, seperti makrokista, yaitu kantung berisi cairan yang cukup besar untuk dirasakan dan dilihat tanpa mikroskop. Tumor kompleks juga mengandung kalsifikasi atau endapan kalsium.

Fibroadenoma kompleks meningkatkan risiko kanker payudara. The American Cancer Society menyatakan bahwa wanita dengan fibroadenoma kompleks memiliki risiko sekitar satu setengah kali lebih besar terkena kanker payudara daripada wanita tanpa benjolan payudara.

Penyebab Fibroadenoma

Hormon estrogen yang dimiliki wanita berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tumor. Mengonsumsi obat kontrasepsi sebelum usia 20 juga diduga terkait dengan peningkatan risiko fibroadenoma. Tumor fibroadenoma dapat tumbuh lebih besar, terutama selama kehamilan.  

Namun, pada wanita yang mengalami menopause, tumor ini biasanya mengalami penyusutan.  Selain hormon dan konsumsi obat-obatan, konsumsi makanan dan minuman, seperti teh, coklat,  minuman kemasan, kopi, dan lain-lain di duduga dapat menjadi stimulus fibroadenoma.

Baca Juga: Fibroadenoma Sebabkan Tumor pada Payudara, Bisakah Dialami Pria?

Diagnosis Fibroadenoma

Langkah awal diagnosis fibroadenoma adalah pemeriksaan fisik dengan meraba payudara. Setelah pemeriksaan fisik, tes pencitraan ultrasonografi, ataupun mammogram mungkin diperlukan. Selama prosedur rontgen, pengidap diharuskan berbaring sembari transduser digerakkan di atas kulit payudara untuk menghasilkan gambar di layar. Sedangkan, mammogram adalah rontgen payudara yang diambil sementara payudara dikompresi di antara dua permukaan datar.

Aspirasi atau biopsi jarum halus dapat dilakukan untuk mengangkat jaringan untuk diuji. Prosedurnya dilakukan dengan memasukkan jarum ke payudara dan mengangkat potongan kecil tumor. Jaringan kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk menentukan jenis fibroadenoma.

Pengobatan Fibroadenoma

Pengobatan fibroadenoma tergantung pada gejala fisik, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan pengidapnya. Fibroadenoma yang jinak dan tidak tumbuh dapat dipantau secara ketat dengan pemeriksaan payudara klinis dan tes pencitraan, seperti mamografi dan ultrasound. Ada beberapa pertimbangan untuk mengangkat fibroadenoma, seperti:

  • Apakah fibroadenoma berdampak pada bentuk alami payudara.

  • Apakah tumor menyebabkan rasa sakit.

  • Apabila seseorang khawatir akan pengembangan kanker.

  • Memiliki riwayat keluarga kanker.

  • Mempertanyakan hasil biopsi.

Baca Juga: Wanita Harus Tahu, Ini Pencegahan dan Pengobatan Fibroadenoma


Kalau kamu punya pertanyaan tentang kondisi medis lainnya, diskusi saja dengan dokter Halodoc. Klik fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!