• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Beragam Tes untuk Mendiagnosis Sindrom Mielodisplasia

Beragam Tes untuk Mendiagnosis Sindrom Mielodisplasia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Beragam Tes untuk Mendiagnosis Sindrom Mielodisplasia

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar tentang sindrom mielodisplasia? Kondisi ini paling sering terjadi pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Meski bisa terjadi pada siapa saja tanpa pandang usia, paling sering terjadi pada orang berusia 60 tahun ke atas. Mengutip laman American Cancer Society, sindrom mielodisplasia adalah kumpulan gangguan akibat satu atau seluruh sel darah yang tidak terbentuk dengan baik, ketika dihasilkan oleh sumsum tulang. 

Awalnya, sindrom mielodisplasia bisa saja tidak menunjukkan gejala. Jika kondisinya sudah cukup parah, gejala yang muncul berupa kulit pucat karena anemia, infeksi (akibat rendahnya jumlah sel darah putih), mudah memar atau berdarah, kelelahan, sesak napas, dan munculnya bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan. 

Baca juga: Hal yang Terjadi pada Tubuh saat Alami Sindrom Mielodisplasia

Mendiagnosis Sindrom Mielodisplasia

Proses diagnosis sindrom mielodisplasia dimulai dengan dokter akan bertanya tentang gejala apa saja yang dirasakan, meninjau riwayat kesehatan yang dimiliki, dan melakukan pemeriksaan fisik. Lalu, dokter akan melakukan beberapa tes untuk memastikan diagnosis sindrom mielodisplasia. 

Berikut beberapa jenis tes yang biasa dilakukan:

1.Tes Darah

Tes darah dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, dalam darah. Selain itu, tes ini juga bisa melihat jika ada perubahan bentuk, ukuran, dan wujud sel darah. 

2.Pemeriksaan Aspirasi Sumsum Tulang

Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel darah langsung dari sumsum tulang, selaku “pabriknya”. Tujuannya untuk melihat gambaran sel darah secara keseluruhan, dan memeriksa genetik sel. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengambil sampel jaringan sumsum tulang, untuk melihat adanya perubahan struktur sel di sumsum tulang. 

Prosedur pemeriksaan aspirasi sumsum tulang ini dilakukan dengan memasukkan jarum khusus ke satu titik di bagian belakang tulang panggul. Lama waktu pemeriksaan biasanya sekitar 15-20 menit. 

Itulah beberapa tes atau pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis sindrom mielodisplasia. Untuk mengantisipasi terjadinya sindrom ini, sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Jika ingin lebih praktis, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk memesan layanan pemeriksaan laboratorium, agar petugas labnya yang datang ke alamatmu. 

Baca juga: Paparan Logam Berat Berisiko Terkena Sindrom Mielodisplasia

Bagaimana Pengobatan untuk Sindrom Mielodisplasia?

Setelah diagnosis sindrom mielodisplasia dipastikan, selanjutnya akan dilakukan pengobatan. Secara umum, pengobatan untuk sindrom mielodisplasia bertujuan untuk menghambat perkembangan penyakit, mengurangi gejala, dan mencegah perdarahan serta infeksi. 

Berikut beberapa bentuk pengobatan untuk sindrom mielodisplasia:

  • Pemberian obat-obatan. Tujuannya untuk menghancurkan sel-sel darah yang tidak berkembang, dengan menghentikan pertumbuhannya. Obat-obatan yang diberikan bisa berbentuk tablet ataupun injeksi, seperti lenalidomide, azacitidine, atau decitabine.
  • Injeksi faktor pertumbuhan sel darah. Cara untuk meningkatkan sel darah merah sehat dan mempertahankan nilai hemoglobin normal, digunakan erythropoietin (EPO), epoetin alfa. Untuk meningkatkan sel darah putih, bisa dilakukan pemberian G-CSF seperti filgrastim (hanya pada kasus tertentu). Namun, pemberian faktor pertumbuhan terhadap trombosit seperti eltrombopag malah dapat meningkatkan jumlah sel darah yang tidak matang, sehingga tidak digunakan pada kasus ini.
  • Transfusi darah. Merupakan terapi pendukung yang digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah dan mempertahankan nilai Hb normal. 
  • Terapi pengikat besi. Bertujuan untuk mengurangi kadar zat besi dalam tubuh akibat terlalu sering melakukan transfusi.
  • Antibiotik. Digunakan untuk mengatasi infeksi, terutama jika jumlah sel darah putih rendah.
  • Kemoterapi kombinasi. Dilakukan jika terdapat peningkatan jumlah sel muda yang tidak matang atau perkembangan kondisi menjadi leukemia akut (kanker darah).
  • Transplantasi sumsum tulang. Biasanya disarankan untuk pengidap yang berusia di bawah 55 tahun, dengan kondisi yang tidak terkontrol. 

Baca juga: Jenis-Jenis Sindrom Mielodisplasia Berdasarkan Penyebabnya

Itulah sedikit penjelasan tentang tes untuk mendiagnosis sindrom mielodisplasia dan metode pengobatan yang bisa dilakukan. Jika mengalami kondisi ini, kamu bisa tanyakan lebih jelasnya pada dokter. 

Referensi:
American Cancer Society. Diakses pada 2020. Myelodysplastic Syndrome.
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Health A-Z. Myelodysplastic Syndrome.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Disease and Conditions. Myelodysplastic Syndrome.
WebMD. Diakses pada 2020. Myelodysplastic Syndrome.