• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berbagai Hal yang Perlu Dipahami tentang Vaksin HIV
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berbagai Hal yang Perlu Dipahami tentang Vaksin HIV

Berbagai Hal yang Perlu Dipahami tentang Vaksin HIV

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 18 Mei 2022

“HIV adalah virus yang kompleks karena ia bisa bermutasi dengan cepat dan seringkali mampu menangkis respon sistem kekebalan. Sayangnya hingga saat ini pun belum ada vaksin yang mendapat persetujuan untuk penggunaan umum.”

Berbagai  Hal yang Perlu Dipahami tentang Vaksin HIV

Halodoc, Jakarta – HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Kondisi HIV yang tidak diobati dapat mempengaruhi dan membunuh sel CD4, yang merupakan jenis sel kekebalan yang disebut sel T. Sayangnya, hingga saat ini belum ada vaksin HIV yang berhasil disetujui penggunaannya oleh manusia. 

Sejauh ini, penelitian dan pengujian vaksin HIV eksperimental masih berlangsung. Namun belum ada yang mendapat persetujuan untuk penggunaan umum. Perlu dipahami, HIV adalah virus yang kompleks sebab ia bermutasi dengan cepat dan seringkali mampu menangkis respon sistem kekebalan.

Berbagai Hal tentang Vaksin HIV

HIV pertama kali diidentifikasi pada tahun 1984, kemudian Department of Health and Human Services di Amerika Serikat pada saat itu mengumumkan bahwa mereka berharap untuk dapat segera menyiapkan vaksin dalam waktu dua tahun. 

Meskipun banyak uji coba vaksin yang dilakukan, namun vaksin yang benar-benar efektif masih belum tersedia hingga sekarang. Ada alasan mengapa begitu sulit menaklukan penyakit ini, yaitu:

  1. Hambatan Vaksin HIV

Sangat sulit untuk mengembangkan vaksin HIV karena ia berbeda dari jenis virus lainnya. HIV tidak cocok dengan pendekatan vaksin tipikal dalam beberapa cara:

  • Sistem kekebalan tubuh semua manusia benar-benar buta atau tidak pernah berhadapan dengan virus seperti HIV.
  • Vaksin biasanya dibuat untuk meniru reaksi kekebalan orang yang pulih. Namun, hampir tidak ada orang yang sembuh setelah tertular HIV. Akibatnya, tidak ada reaksi kekebalan yang dapat ditiru oleh vaksin.
  • Vaksin seharusnta melindungi tubuh dari penyakit, bukan infeksi.
  • Virus HIV yang dimatikan atau dilemahkan tidak dapat digunakan dalam vaksin. 
  • Virus HIV bermutasi dengan cepat. Jika virus cepat berubah, vaksin mungkin tidak berfungsi lagi sehingga sulit untuk membuat vaksin untuk melawan HIV.
  1. Vaksin Profilaksis vs Terapi

Terlepas dari kendala pembuatan, para peneliti terus berusaha menemukan vaksin. Ada dua jenis utama vaksin, yaitu profilaksis dan terapeutik. Para peneliti sedang mengusahakan keduanya untuk mencegah HIV.

Sebagian besar vaksin bersifat profilaksis, yang berarti mencegah seseorang terkena penyakit. Sementara itu, vaksin terapeutik digunakan untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh untuk melawan penyakit yang sudah dimiliki seseorang. Vaksin terapeutik juga dianggap sebagai pengobatan. 

Perlu diketahui, vaksin untuk HIV secara teoritis memiliki dua tujuan. Pertama, dapat diberikan kepada orang yang tidak memiliki HIV untuk mencegah tertular virus. Tujuan ini akan membuatnya menjadi vaksin profilaksis. 

Sementara itu tujuan yang kedua, HIB merupakan kandidat yang baik untuk vaksin terapeutik. Para peneliti berharap vaksin jenis terapeutik dapat mengurangi viral load seseorang. 

  1. Jenis Vaksin HIV Eksperimental

Para peneliti mencoba berbagai pendekatan untuk mengembangkan vaksin untuk mencegah HIV. Kemungkinan vaksin sedang dieksplorasi untuk penggunaan profilaksis dan terapeutik. 

Saat ini, para peneliti sedang bekerja dengan jenis vaksin berikut:

  • Vaksin peptida, menggunakan protein kecil dari HIV untuk memicu respons imun.
  • Vaksin protein subunit rekombinan, menggunakan potongan protein yang lebih besar dari HIV.
  • Vaksin vektor hidup, menggunakan virus non-HIB untuk membawa gen HIV ke dalam tubuh untuk memicu respons imun. Vaksin cacar menggunakan metode ini. 
  • Kombinasi vaksin, menggunakan dua vaksin satu demi satu untuk menciptakan respons imun yang lebih kuat.
  • Vaksin partikel mirip virus, menggunakan sejenis HIV tidak menular yang memiliki beberapa protein HIV.
  • Vaksin berbasis DNA menggunakan DNA dari HIB untuk memicu respon imun.
  1. Percobaan Vaksin yang Terbaru

Hingga saat ini belum ada vaksin yang lolos hingga tahap akhir. Baru-baru ini The University of Oxford sedang mengembangkan vaksin HIV yang diberi nama HIVconsvX. Vaksin ini pun telah memasuki uji coba klinis tahap 1. 

Uji coba ini melibatkan 13 orang sehat yang bebas HIV dengan rentang usia 18 hingga 65 tahun, namun memiliki risiko tinggi terpapar virus. Pemberian dosis vaksin pertama telah diberikan pada awal Juli 2021. Selanjutnya relawan akan menerima dosis kedua setelah empat minggu.

Hasil keefektifan vaksin ini dijadwalkan untuk dilaporkan pada tahun 2022 ini. Namun, hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai perkembangannya. 

Itulah yang perlu pahami mengenai vaksin HIV. Untuk jawaban atau pertanyaan tentang vaksin untuk mencegah HIV, penyedia layanan kesehatan adalah tempat terbaik untuk bertanya. Kamu juga bisa tanya dokter di Halodoc mengenai informasi lebih lanjut mengenai vaksin HIV ataupun jenis vaksin lainnya. Yuk, segera download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. A Comprehensive Guide to HIV and AIDS
Healthline. Diakses pada 2022. HIV Vaccine: How Close Are We?
Kompas.com. Diakses pada 2022. Kabar Baik, Vaksin HIV Buatan Oxford Memasuki Uji Coba Klinis Tahap 1
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. HIV/AIDS