• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisa Menyerang Anak, Kenali Gejala Difteri

Bisa Menyerang Anak, Kenali Gejala Difteri

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Difteri merupakan penyakit yang menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan tenggorokan dan selaput lendir hidung, karena infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri pada anak biasanya terjadi ketika mereka tidak mendapatkan nutrisi dan gizi yang cukup, tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, serta tidak menjalani imunisasi lengkap.

Difteri pada anak perlu segera mendapat penanganan yang tepat. Pasalnya, penyakit ini dapat menular dengan cepat lewat percikan air liur, melalui batuk atau bersin, kontak fisik dengan pengidap, serta barang yang terkontaminasi. Apa yang menjadi gejala difteri pada anak?

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Difteri pada Anak, Ini yang Jadi Gejalanya

Gejala difteri baru akan muncul setelah 2-5 hari pengidap terinfeksi. Pada sebagian pengidap, gejala bisa saja tidak muncul sama sekali. Gejala utama dari difteri adalah terbentuknya lapisan abu-abu tebal pada tenggorokan dan amandel. Gejala kemudian disusul dengan:

  • Pilek.

  • Demam.

  • Sakit tenggorokan.

  • Kesulitan bernapas.

  • Detak jantung meningkat.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

  • Pembengkakan pada langit-langit mulut.

Jika Si Kecil mengalami serangkaian gejalanya, maka segera periksakan ia di rumah sakit terdekat agar segera mendapat penanganan tepat. Perlu ibu ketahui bahwa komplikasi yang dapat disebabkan difteri sangat berbahaya, seperti peradangan pada otot dan katup jantung, gangguan irama jantung, hingga kematian.

Baca juga: Gejala Difteri pada Anak yang Perlu Ibu Waspadai

Langkah Mudah Mencegah Difteri pada Anak

Penyakit difteri menjadi momok yang mengerikan bagi setiap orangtua. Apalagi, komplikasi yang muncul dapat menyebabkan kematian. Penanganannya pun tidak bisa sembarangan. Meskipun sangat menyeramkan, sebenarnya wabah ini sangat mudah dicegah dengan melakukan imunisasi difteri secara berkala. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus).

Vaksin tersebut diberikan sebanyak lima kali, sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Tiga vaksin dasar diberikan saat Si Kecil berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Pemberian keempat, saat Si Kecil menginjak 18 bulan, dan pemberian terakhir saat Si Kecil berusia 5 tahun. Dosis yang diberikan dalam setiap jadwal vaksinasi adalah sebanyak satu kali suntikan. Setelah seluruh imunisasi lengkap, dilanjutkan dengan imunisasi ulang tiap 10 tahun.

Setelah vaksinasi, biasanya Si Kecil akan mengalami serangkaian gejala ringan, seperti demam ringan, lemas, bagian bekas suntikan tampak merah, serta rewel. Namun, ketika demam mereka mencapai 40 derajat Celsius, tidak berhenti menangis lebih dari tiga jam, serta mengalami kejang atau pingsan, segera temui dokter untuk menindaklanjuti gejala yang muncul.

Baca juga: Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Difteri yang Dapat Mematikan

Mengapa Anak Rentan Terserang Difteri?

Anak-anak berusia di bawah 5 tahun akan sangat berisiko terinfeksi difteri. Risiko yang dimiliki akan semakin besar jika Si Kecil tinggal dan tumbuh di lingkungan yang padat dan sanitasi yang buruk. Selain itu, anak dengan nutrisi dan gizi yang tidak terpenuhi, juga sangat rentan terserang difteri, terutama bagi Si Kecil yang tidak menjalani lima imunisasi wajib yang telah disebutkan.

Selain beberapa hal tersebut, anak berusia di bawah lima tahun memiliki sistem imunitas tubuh yang belum terbentuk dengan sempurna. Untuk itu, ibu perlu memperhatikan jadwal imunisasi rutin Si Kecil agar terhindar dari penyakit berbahaya satu ini. Meski vaksinasi penting dilakukan, faktanya masih banyak orangtua yang enggan melakukan vaksinasi untuk Si Kecil karena berbagai macam alasan.

Referensi: 

Kids Health. Diakses pada 2020. Diphtheria.

CDC. Diakses pada 2020. Diphtheria.

Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diphtheria.