• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Gangguan Kepribadian Dicegah?

Bisakah Gangguan Kepribadian Dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Gangguan kepribadian menyebabkan pengidapnya mungkin terlihat berbeda. Sebab, gejala khas dari kondisi ini adalah pola pikir dan perilaku pengidapnya yang tergolong tidak sehat. Hal itu yang menjadikannya berbeda dengan orang lain atau orang normal. Lantas, mengapa gangguan ini terjadi dan bisakan gangguan kepribadian dicegah? 

Selain cara berpikir dan perilaku yang berbeda, gangguan kepribadian juga bisa menyebabkan pengidapnya kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebab, masalah mental ini bisa membuat seseorang kesulitan untuk merasakan dan memahami orang sekitar. Kabar buruknya, hingga kini masih belum ditemukan cara yang efektif untuk mencegah gangguan kepribadian.

Baca juga: 3 Gangguan Kepribadian Berdasarkan Perilaku Aneh

Penyebab dan Cara Mendiagnosis Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian bisa menyebabkan pengidapnya mengalami masalah dalam lingkungan sosial dan kesulitan untuk berinteraksi. Sayangnya, hingga kini belum diketahui pasti apakah ada cara yang bisa mencegah penyakit mental ini terjadi. Namun, penanganan dan terapi yang dilakukan dengan tepat bisa membantu meringankan gejala yang muncul. 

Jika mengalami tanda-tanda gangguan kepribadian atau memiliki anggota keluarga dengan masalah ini, coba bicarakan pada ahlinya. Kamu juga bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater dan menyampaikan keluhan seputar gangguan kepribadian. Psikolog atau psikiater bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Baca juga: Korban Bully Bisa Alami Gangguan Kepribadian Ambang

Karena kesulitan dalam berinteraksi, tak jarang pengidap gangguan ini mengalami masalah dengan orang lain di lingkungan sekitar, seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu gangguan kepribadian. Umumnya, kondisi ini akan mulai muncul dan berkembang pada usia remaja dan menjelang dewasa. 

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko gangguan kepribadian di antaranya: 

  • Memiliki kelainan pada komposisi kimia atau struktur organ otak.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian atau penyakit mental lainnya. 
  • Pengalaman tidak baik saat kecil, misalnya memiliki lingkungan keluarga yang kacau.
  • Mengalami perundungan atau diabaikan sejak masih anak-anak.
  • Mengalami pelecehan semasa kecil, baik secara verbal maupun fisik. 
  • Faktor gen, nyatanya gen yang diwariskan dari orangtua sangat berpengaruh pada gangguan kepribadian.

Meski begitu, banyak ahli yang berpendapat bahwa gangguan kepribadian bisa saja muncul akibat kombinasi dari faktor keturunan serta kondisi lingkungan sekitar. Pengidap gangguan kepribadian bisa dikenali dengan beberapa ciri-ciri, mulai dari berperilaku aneh, suka menyendiri dan mengurung diri sendiri, menghindari interaksi sosial, serta kesulitan menjalin hubungan dekat dengan orang lain. Gangguan ini juga menyebabkan pengidapnya kesulitan mengendalikan pikiran dan sering berprasangka buruk.

Meski begitu, gangguan kepribadian tidak bisa sembarangan didiagnosis. Dokter biasanya akan menyarankan orang yang dicurigai mengidap penyakit ini untuk menjalani evaluasi psikologis. Tujuannya untuk menilai cara berpikir dan bertindak, serta perasaan yang muncul terhadap kondisi tertentu. Tes ini dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan atau melalui kuesioner. 

Selanjutnya, dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan fisik. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah gangguan kepribadian yang dialami muncul karena ada gangguan pada kesehatan fisik atau tidak. Melalui pemeriksaan ini, dokter mungkin akan menanyakan gejala-gejala apa saja yang dirasakan. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan di laboratorium. 

Baca juga: Marah Dikritik, Benarkah Jadi Tanda Kepribadian Narsistik?

Kondisi ini sebaiknya tidak dianggap sepele begitu saja. Gangguan kepribadian yang tidak ditangani dengan tepat bisa berkembang semakin buruk dan menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang bisa terjadi adalah rusaknya hubungan pengidap dengan anggota keluarga atau lingkungan sekitar.  

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Personality Disorders.
Healthline. Diakses pada 2020. Personality Disorder. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Personality Disorders: Prevention.