• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Stres Sebabkan Seseorang Kecanduan Alkohol?

Bisakah Stres Sebabkan Seseorang Kecanduan Alkohol?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Terkadang, hidup bisa sangat membuat kamu menjadi teramat stres. Berbagai situasi muncul dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kamu merasa sedih, marah, takut, cemas, gembira, hingga tertekan. Cedera, sakit, atau paparan suhu ekstrem bisa menyebabkan stres pada tubuh. Sementara itu, duka cita, depresi, ketakutan, bahkan aktivitas seksual pun dapat memicu stres psikologis. 

Tubuh manusia akan mengembangkan proses yang kompleks untuk bisa beradaptasi dengan situasi yang berbahaya yang diciptakan oleh stres untuk menciptakan keseimbangan fisiologis yang disebut dengan homeostasis. Ketika tubuh mengalami atau merasa stres, tubuh akan memobilisasi berbagai perubahan fisiologis dan perilaku melalui sistem saraf dan endokrin guna mempertahankan homeostasis dan mengatasi stres. Lalu, benarkah stres bisa berdampak pada kecanduan alkohol? Berikut pembahasannya!

Stres dan Kecanduan Alkohol

Ternyata, tidak sedikit orang yang mengalami stres akan beralih ke alkohol untuk meredam dan mengatasi apa yang sedang dirasakan. Namun, alkohol itu sendiri dapat memicu rasa stres pada keseimbangan fisiologis tubuh. Melalui studi yang dipublikasikan dalam Alcohol Research, para peneliti mengungkapkan bahwa alkohol membawa dampak psikologis dan fisiologis pada tubuh. Bahkan, sebenarnya, alkohol dapat menambah efek stres. 

Baca juga: Yang Terjadi pada Otak Pecandu Alkohol

Mengonsumsi alkohol mungkin akan memberikan sedikit rasa lega, perasaan dan pikiran positif serta relaksasi. Namun, ini adalah manfaat jangka pendek dengan dampak negatif jangka panjang, karena stres tidak pernah berakhir dalam waktu singkat. Sayangnya, konsumsi alkohol berkepanjangan atau dalam jangka waktu yang lama akan memicu terjadinya kecanduan.

Ketika mengalami stres, tubuh akan dengan cepat mengubah proses metabolisme normal menjadi sangat cepat yang bergantung pada sistem sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal. Sistem ini akan bekerja sangat keras untuk menjaga keseimbangan fisiologis tubuh, tetapi saat seseorang mengonsumsi alkohol, tubuh akan lebih berisiko mengalami efek negatif.

Alkohol akan mengakibatkan tubuh merilis lebih banyak kortisol, mengubah susunan kimiawi pada otak dan mengatur ulang apa yang dianggap normal oleh tubuh. Alkohol akan mengubah keseimbangan hormonal, cara tubuh memandang stres, dan bagaimana meresponnya. Alkohol akan mencegah tubuh kembali ke sistem keseimbangan awal dan memaksanya untuk mendapatkan fungsi fisiologis yang baru yang disebut dengan allostasis. 

Baca juga: Benarkah Wanita Rentan Kecanduan Alkohol?

Nah, pembentukan titik keseimbangan tubuh yang baru inilah yang membuat tubuh rentan mengalami kerusakan dan meningkatkan risiko terserang gangguan kesehatan serius. Ini termasuk kecanduan alkohol. Studi yang dipublikasikan dalam National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism memaparkan bahwa ada beberapa faktor yang mengaitkan stres dengan alkohol, yaitu: 

  • Pria dan wanita yang mengalami stres parah akan mengonsumsi alkohol lebih banyak.
  • Pria akan mengonsumsi lebih banyak alkohol dibandingkan dengan wanita ketika stres.
  • Pria 2,5 kali lebih berisiko mengalami kecanduan alkohol dibandingkan dengan wanita.

Solusi untuk Mengatasi Kecanduan Alkohol

Konsumsi alkohol berlebih jelas berdampak negatif bagi kesehatan. Sejumlah penyakit yang rentan dialami pengidap alkoholisme adalah gangguan otak dan saraf, penyakit liver, penyakit jantung dan pembuluh darah, masalah pencernaan, gangguan fungsi seksual, masalah kehamilan, gangguan penglihatan, komplikasi diabetes, kerusakan tulang, kanker, serta menjadi rentan terhadap infeksi penyakit. 

Baca juga: Tanda Orang Kecanduan Alkohol

Maka dari itu, seseorang yang dicurigai mengidap alkoholisme perlu mendapatkan penanganan khusus, di antaranya:

  • Konseling dengan psikolog atau psikiater. Pengidap bisa melakukannya sendiri atau berkelompok. Psikolog atau psikiater akan membantu pengidap mengenali masalah kecanduannya, termasuk menjelaskan tentang risiko dan dampak kecanduan alkohol. Dukungan keluarga dan orang terdekat diperlukan agar proses pemulihan berlangsung baik.
  • Detoksifikasi, dilakukan pada kasus alkoholisme berat karena mengalami gangguan yang membahayakan kesehatan. Proses ini berlangsung 3–7 hari sejak hari terakhir pengidap mengonsumsi alkohol. Efek samping detoksifikasi adalah gangguan tidur selama hampir satu bulan. Selama proses detoksifikasi, pengidap dianjurkan untuk minum minimal tiga liter air putih dalam sehari, serta hindari konsumsi kafein (seperti teh dan kopi) agar tidak memperburuk gangguan tidur yang dialami.
  • Terapi obat-obatan. Bila perlu, dokter akan meresepkan obat untuk mengatasi kecanduan alkohol. Nah, agar lebih mudah untuk mendapatkan obat-obatan ini, kamu bisa beli langsung melalui aplikasi Halodoc menggunakan layanan pharmacy delivery.
  • Pemulihan di rumah. Caranya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti tidur cukup dan rutin berolahraga. Ganti aktivitas lama, yakni minum alkohol, dengan aktivitas lain yang menyenangkan.
Referensi:
Verywell Mind. Diakses pada 2021. The Link Between Stress and Alcohol.
Robert M. Anthenelli, M.D. Diakses pada 2021. Overview: Stress and Alcohol Use Disorders Revisited. Alcohol Research 34(4): 386–390.
National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. Diakses pada 2021. The Link Between Stress and Alcohol.