• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada, Body Dysmorphic Disorder Bisa Sebabkan Depresi

Waspada, Body Dysmorphic Disorder Bisa Sebabkan Depresi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar mengenai body dysmorphic disorder? Dilansir dari People, seorang aktris, model, dan produser Amerika Serikat, Alison Brie pernah mengalami kondisi ini. Body Dysmorphic Disorder (BDD) atau gangguan dismorfik tubuh adalah gangguan mental yang ditandai dengan perasaan cemas berlebihan terhadap kekurangan yang ada pada tubuh.

Baca juga: Pengaruh Body Dysmorphic Disorder pada Kesehatan Fisik

Inilah yang dialami Alison Brie dalam satu momen, ketika ia merasa fisiknya sangat buruk dan menyebabkan ia depresi. Namun, perlahan Alison mulai menyadari kondisi yang dialami dan mengatasinya dengan melakukan rutin berolahraga, salah satunya yoga. Kenali lebih banyak mengenai BDD dan cara penanganan yang tepat seperti yang dilakukan Alison Brie.

BDD Dapat Sebabkan Depresi

Mungkin, sebagian besar dari kita, terkadang mengalami kondisi yang tidak nyaman pada salah satu bagian tubuh, misalnya muncul keriput pada wajah atau mengalami kerontokan rambut. Namun, tentunya dengan perawatan yang tepat, rasa cemas dapat diatasi dengan baik. Nah, hal ini nyatanya tidak akan dialami oleh pengidap BDD.

Pengidap BDD mengalami kecemasan yang berlebihan pada bagian tubuh yang dirasa kurang optimal, misalnya bentuk hidung, warna kulit yang terlalu gelap, muncul kerutan dan bekas luka jerawat pada wajah, hingga bagian payudara atau Mr. P yang dianggap terlalu kecil. Biasanya, pengidap BDD memiliki tubuh tidak buruk atau baik-baik saja, namun rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan menyebabkan pengidap enggan melakukan berbagai situasi sosial dan menyebabkan depresi.

Ada beberapa gejala yang menjadi tanda BDD. Dilansir dari Anxiety and Depression Association of America, pengidap BDD kerap melakukan perilaku kompulsif atau berulang untuk menutupi bagian tubuh yang menurut mereka menjadi kekurangan tubuhnya meskipun itu bersifat sementara.

Baca juga: Waspada 4 Komplikasi yang Diakibatkan Body Dysmorphic Disorder

Tidak hanya itu, pengidap BDD terkadang selalu memerhatikan kaca untuk melihat kondisi tubuhnya atau menghindari kaca agar bagian tubuh yang dianggap kurang dapat dihindari. Selain itu, pengidap juga lebih sering membandingkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh lainnya.

Dilansir Mayo Clinic, BDD dapat disebabkan adanya riwayat keluarga yang pernah mengalaminya juga, adanya kondisi yang tidak normal pada otak, dan juga pengalaman buruk terhadap citra diri. BDD yang tidak diatasi dengan baik dapat sebabkan komplikasi, salah satunya adalah depresi.

Segera periksakan kesehatan dengan mengunjungi rumah sakit terdekat dan bertemu langsung dengan psikolog atau dokter agar kamu dapat mengatasi BDD. Kini kamu bisa membuat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc

Olahraga Menjadi Salah Satu Cara Pengobatan

Penanganan BDD dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan dan terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri pengidap dan menumbuhkan citra diri yang lebih baik. Selain itu, penggunaan obat anti depresi juga dilakukan untuk meringankan gejala yang dialami oleh pengidap.

Alison Brie mengaku mengatasi depresi yang dirasakan akibat BDD dengan rutin melakukan olahraga, seperti melakukan fitness dan yoga. Dilansir dari Web MD, rutin melakukan olahraga membantu kamu untuk menurunkan depresi. Hal ini disebabkan ketika kamu melakukan olahraga, tubuh melepaskan endorfin untuk meningkatkan perasaan positif sehingga dapat menurunkan risiko depresi yang dialami pengidap BDD. 

Baca juga: Benarkah Korban Bullying Berisiko Terkena Body Dysmorphic Disorder?

Tidak hanya depresi, melakukan olahraga secara rutin juga meningkatkan rasa percaya diri seseorang. Ada berbagai olahraga yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah depresi, seperti melakukan yoga, fitness, lari, jalan santai atau bersepeda.

Referensi:
Web MD. Diakses pada 2020. Exercise and Depression
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder
Anxiety and Depression Association of America. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder