• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bolehkah Ibu dengan HIV dan AIDS Menyusui?

Bolehkah Ibu dengan HIV dan AIDS Menyusui?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - ASI menjadi makanan pokok selama 6 bulan pertama, yang ditambah dengan makanan pendamping ASI di usia 6 bulan hingga 2 tahun usianya. ASi mengandung berbagai jenis mineral dan vitamin yang dibutuhkan anak untuk menunjang pertumbuhannya. 

Bukan itu saja, ASI juga mengandung antibodi yang mampu melindungi tubuh dari serangan kuman, bakteri, virus, serta zat-zat berbahaya lainnya. Lantas, bagaimana dengan ibu yang mengidap penyakit berbahaya seperti HIV dan AIDS? Apakah ibu masih bisa menyusui bayinya? Apakah aman bagi kesehatan anak? 

Baca juga: 4 Gangguan Kesehatan yang Sering Dialami Ibu Menyusui

Bolehkah Ibu dengan HIV dan AIDS Menyusui Anaknya?

Ibu dengan penyakit ini dianjurkan untuk tetap memberikan ASI eksklusif di 6 bulan pertama kelahiran anak. Meski diperbolehkan, ibu tetap harus melakukan pengobatan rutin guna mengurangi risiko penularan pada Si Kecil. Saat anak menginjak usia 6 bulan, ibu dengan HIV dan AIDS harus memberikan makanan lunak, dan berbagai cairan sebagai pengganti ASI.

Berbeda dengan ibu yang sehat, mereka dapat memberikan ASI hingga anak berusia 2 tahun, serta makanan pendamping ASI saat anak menginjak usia 6 bulan. Selain perlu melakukan pengobatan secara rutin, anak juga perlu melakukan pemeriksaan rutin guna memantau tumbuh kembang dan kesehatannya. Berkaitan dengan hal tersebut, silahkan temui dokter di rumah sakit terdekat untuk melakukan kontrol secara rutin.

Baca juga: 6 Hal yang Sebaiknya Dihindari Ibu Menyusui

Apakah HIV dan AIDS Dapat Menular Melalui Cairan ASI?

HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang bekerja dengan dengan menginfeksi dan merusak sistem kekebalan tubuh. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik, HIV akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yaitu stadium akhir dari infeksi virus HIV. Kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan hilang sepenuhnya saat sudah berada di tahap ini.

Penularan HIV dan AIDS memang bisa terjadi selama proses menyusui, tapi persentasenya cukup kecil, karena kandungan kimiawi dalam ASI dan suhu di luar tubuh dapat menghancurkan virus tersebut. Hingga kini, belum ada kasus HIV dan AIDS yang ditemukan karena proses menyusui. 

Pada intinya, ibu menyusui yang mengidap penyakit ini tidak perlu merasa khawatir, karena dengan mengonsumsi obat secara teratur dan melakukan pengobatan secara rutin akan mencegah virus HIV dan AIDS menular ke tubuh anak. Jadi, jangan ragu untuk memberikan ASI pada Si Kecil, agar mereka terhindar dari segala jenis infeksi dan penyakit berbahaya.

Baca juga: 7 Jenis Kontrasepsi yang Aman untuk Ibu Menyusui

Langkah Pencegahan Penularan HIV dan AIDS pada Bayi

Ada sederet langkah yang bisa dilakukan guna mencegah penularan penyakit tersebut pada bayi. Jika ibu tengah hamil dan didiagnosa mengidap HIV dan AIDS, berikut sederet langkah yang bisa dilakukan:

  • Jika ibu didiagnosis penyakit ini sebelum masa kehamilan, segera lakukan perawatan guna mengurangi risiko bayi terlahir dengan HIV. 

  • Melahirkan dengan caesar. Cara yang satu ini merupakan salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan, agar risiko penularan penyakit pada anak semakin kecil.

Saat menyusui, lakukan perawatan secara bersamaan. Setelah usianya 6 bulan, sebaiknya hentikan pemberian ASI. Jangan berikan anak makanan pendamping ASI, karena akan meningkatkan risiko penularan penyakit pada anak.

Referensi:
Avert.org. Pregnancy, Childbirth & Breastfeeding and HIV.
IDAI. Diakses pada 2020. Menyusui pada Ibu HIV.
NIH. Diakses pada 2019. HIV Therapy for Breastfeeding Mothers Can Virtually Eliminate Transmission to Babies.