Bolehkah Ibu yang Terkena Hepatitis B Menyusui Anaknya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Bolehkah Ibu yang Terkena Hepatitis B Menyusui Anaknya?

Halodoc, Jakarta – Hepatitis B adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), yang ditularkan oleh darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Seorang wanita dengan hepatitis B dapat menginfeksi bayinya dengan virus saat melahirkan. 

Seorang ibu dengan hepatitis B akan berisiko menulari anaknya ketika memberikan ASI kepada bayinya. Bagaimana hal ini bisa terjadi serta seperti apa langkah pencegahannya? Simak penjelasan lengkapnya di sini!

Hepatitis B dan ASI

Mengetahui risiko penularan melalui ASI, makanya semua bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HBV harus menerima globulin imun hepatitis B (HBIG) dan dosis pertama vaksin hepatitis B dalam 12 jam setelah kelahiran. 

Dosis kedua vaksin harus diberikan pada usia 1–2 bulan, dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Bayi harus menjalani tes setelah menyelesaikan seri vaksin pada usia 9–12 bulan. Ini dilakukan untuk menentukan apakah vaksin berfungsi dan apakah bayi tidak terinfeksi HBV melalui paparan darah ibu selama proses kelahiran. 

Baca juga: Cara Mengatasi Gangguan yang Ditimbulkan Hepatitis B

Namun, tidak perlu menunda menyusui sampai bayi diimunisasi lengkap. Risiko penularan HBV dari ibu ke anak melalui menyusui dapat diabaikan jika bayi yang lahir dari ibu yang positif HBV menerima vaksin HBIG / HBV saat lahir.

Meskipun demikian, HBV dapat disebarkan oleh darah yang terinfeksi. Karena itu, jika puting ibu yang positif HBV atau area areola mengalami luka dan berdarah, ibu harus berhenti menyusui sementara waktu. 

Untuk menjaga suplai ASI tetap berproduksi, ibu dapat membuang ASI sampai putting sembuh. Setelah puting tidak lagi retak atau berdarah, ibu yang positif HBV dapat kembali menyusui. Mungkin ibu perlu rekomendasi dari dokter mengenai cara mempertahankan produksi ASI dan pilihan susu formula sementara tidak menyusui.

Ingin mengetahui lebih lanjut hal-hal yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui dengan positif hepatitis B, tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Ketahui Gejalanya

Bagi sebagian orang, infeksi hepatitis B menjadi kronis, artinya itu berlangsung lebih dari enam bulan. Memiliki hepatitis B kronis meningkatkan risiko mengalami gagal hati, kanker hati, atau sirosis .

Sebagian besar orang dewasa dengan hepatitis B bisa pulih sepenuhnya, bahkan jika tanda dan gejala yang dialaminya parah. Sedangkan bayi dan anak-anak, lebih mungkin mengembangkan infeksi hepatitis B kronis (jangka panjang).

Pemberian vaksin dapat mencegah hepatitis B, tetapi tidak ada obatnya jika kamu memiliki kondisi tersebut. Jika kamu terinfeksi, melakukan tindakan pencegahan tertentu dapat membantu mencegah penyebaran virus ke orang lain.

Baca juga: 5 Cara Perawatan Hepatitis B di Rumah

Tanda dan gejala hepatitis B berkisar dari ringan hingga berat. Biasanya, muncul sekitar satu hingga empat bulan setelah terinfeksi. Gejala terkadang bisa juga terlihat paling cepat dua minggu setelah infeksi. Beberapa orang, biasanya anak kecil, mungkin tidak memiliki gejala apa pun.

Tanda dan gejala hepatitis B meliputi:

  1. Sakit perut.

  2. Urine berwarna gelap.

  3. Demam.

  4. Nyeri sendi.

  5. Kehilangan selera makan.

  6. Mual dan muntah.

  7. Tubuh berasa lemah dan badan lelah.

  8. Kulit menguning demikian juga bagian putih mata.

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Hepatitis B or C Infections.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hepatitis B.