Bubuk Cabe Bisa Sebabkan Difteri, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
penyakit difteri, bahaya bubuk cabe

Halodoc, Jakarta - Hati-hati ketika Si Kecil sering jajan, apalagi jika mereka menyukai jajanan yang menggunakan cabai bubuk sebagai bumbu agar rasanya pedas dan gurih. Baru-baru ini Ibu Kota dihebohkan dengan penuhnya rumah sakit oleh anak-anak pengidap difteri yang dikabarkan terjangkit akibat bumbu tabur yang mengandung cabai kering. Jika ditelaah lebih dalam, cabai kering ini diolah dengan cara dijemur dan didiamkan di gudang sampai benar-benar kering.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Nah, proses pengeringan di pabrik cabai bubuk ini biasanya dilakukan dengan cara alami. Cabai yang sudah dicuci dan dibersihkan akan dijemur di bawah sinar matahari selama 8-10 hari. Namun, apabila sudah masuk musim penghujan, pengeringan ini bisa saja terhambat sampai 5 hari. Dengan cara ini, biaya produksi yang dikeluarkan relatif cukup murah dibandingkan dengan melakukan pengeringan dengan cara buatan, yaitu dengan memasukkan cabai yang sudah dibersihkan ke dalam oven.

Ketika musim penghujan tiba dan cabai-cabai ini tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup, cabai ini akan disimpan dalam gudang dan ditimbun begitu saja. Hal ini tentu saja bisa memancing serangga-serangga, bahkan tikus untuk menjadi sarang mereka. Nah, jika tikus-tikus ini sudah bersarang dan buang air kecil pada timbunan cabai, selanjutnya apa yang akan terjadi? Penyakit difteri bisa saja terjadi ketika bubuk-bubuk cabai yang sudah jadi dikonsumsi oleh anak-anak. Kenali difteri lebih dalam, agar anggota keluarga ibu terlindung dari penyakit berbahaya ini.

Baca juga: Enggak Cukup Vaksin, Kenali Difteri dan Cara Penularannya

Difteri, Infeksi Bakteri pada Hidung dan Tenggorokan

Penyakit difteri merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium yang menyerang hidung dan tenggorokan. Penyakit ini bukan penyakit yang bisa disepelekan. Pasalnya, jika pengidap tidak ditangani dengan baik, difteri bisa saja mengeluarkan racun yang akan merusak sejumlah organ tubuh, seperti jantung, ginjal, bahkan otak. Penyakit ini digolongkan dalam penyakit menular berbahaya, karena berpotensi mengancam nyawa.

Ini Gejala yang Muncul pada Pengidap Difteri

Pengidap difteri memerlukan waktu 2-5 hari masa inkubasi sejak bakteri masuk ke dalam tubuh. Setelah ini, gejala baru akan muncul. Gejala difteri yang muncul yaitu:

  • Sakit tenggorokan dan suara serak.

  • Kesulitan bernapas atau napas yang cepat.

  • Mengalami pembengkakan kelenjar limfe pada leher.

  • Demam dan menggigil.

  • Lemas dan kelelahan.

  • Pilek yang awalnya cair, kemudian mengental, bahkan disertai dengan darah.

  • Adanya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

Penyakit ini bisa menyerang jaringan atau bagian tubuh manapun. Namun, tanda-tanda yang paling menonjol terlihat adalah pada bagian mulut dan tenggorokan.

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Ini Penyebab Terjadinya Penyakit Difteri

Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium yang disebarkan melalui partikel di udara, seperti batuk, bersin, atau benda-benda yang telah terkontaminasi air liur pengidap. Difteri juga dapat menyebar melalui peralatan, seperti handuk, sendok, atau garpu yang digunakan bersama, meski dalam kasus yang jarang terjadi. Selain itu, menyentuh luka yang terinfeksi juga bisa membuat seseorang terinfeksi bakteri yang bisa jadi penyebab penyakit ini.

Jika ada yang ingin ibu tanyakan seputar penyakit difteri pada Si Kecil, Halodoc bisa jadi solusinya. Dengan aplikasi ini, ibu bisa ngobrol langsung dengan dokter ahli di mana pun dan kapan pun via Chat atau Voice/Video Call. Jika ada yang tidak beres dengan kesehatan Si Kecil, dokter akan langsung meresepkan obat untuk Si Kecil. Tanpa perlu keluar rumah atau antri obat di apotik, pesanan ibu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya sekarang di Google Play atau App Store!