• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bukan Sekedar Perasaan, Ini Penjelasan Saat Merasakan Emosi

Bukan Sekedar Perasaan, Ini Penjelasan Saat Merasakan Emosi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Bukan Sekedar Perasaan, Ini Penjelasan Saat Merasakan Emosi

“Secara sederhana, emosi bukan hanya perasaan, tetapi makna yang seseorang buat dari situasi tertentu. Ada beberapa proses yang akan terjadi saat seseorang merasakan emosi, yaitu merasakan situasi, proses memperhatikan, proses penilaian dan kemudian tanggapan.”

Halodoc, Jakarta – Merasakan emosi adalah pengalaman universal, artinya setiap orang di dunia ini akan mengalaminya. Setiap orang pasti pernah merasa marah, malu, takut, atau malu saat mengingat hal yang pernah dilakukan di masa lalu. 

Mengutip Psychology Today, James Gross seorang profesor psikologi menyebutkan bahwa ada empat proses saat seseorang merasakan emosi, yaitu situasi, detail yang diperhatikan, penilaian tentang apa arti situasi secara pribadi, dan respons, termasuk perubahan fisik atau perilaku. Urutan empat langkah situasi-perhatian-penilaian-respon ini disebut sebagai Model Modal Emosi.

Jadi, emosi tidak hanya sekadar perasaan semata, tetapi ada proses yang akan terjadi saat mereka terjadi. Jika kamu ingin tahu lebih dalam tentang emosi, berikut ulasannya!

Baca juga: Emosi Meledak-Ledak, Tanda Mental yang Tidak Stabil?

Proses Seseorang Merasakan Emosi

Seseorang akan merasakan emosi ketika sesuatu tentang situasi yang ia hadapi menarik perhatian. Artinya, kamu memperhatikan beberapa aspek situasi yang relevan dengan kamu dan tujuan atau kebutuhan. Jika tidak ada yang terjadi yang penting bagi kamu, maka kamu tidak akan memiliki perasaan yang kuat.

Setelah perhatian kamu ditarik oleh suatu hal, maka kamu akan menafsirkan apa artinya ini bagi pribadi. Pembuatan makna ini adalah proses berpikir yang disebut penilaian.

Setelah  menilai makna situasi, maka kamu akan memiliki respons emosional terhadap situasi tersebut. Jenis respons (misalnya, merasa senang versus marah) akan bergantung pada cara kamu menilai situasi. Misalnya, jika kamu berpikir tindakan seseorang terasa tidak adil, kamu mungkin merasa marah. Jika kamu merasa tujuan kamu terhalang, maka kamu mungkin merasa frustrasi. Sementara jika kamu mengira ada potensi ancaman, kamu mungkin merasa cemas.

Baca juga: Emosi Labil, Tanda Gangguan Kepribadian Ambang?

Begini proses seseorang merasakan emosi: 

  1. Situasi

Agar suatu emosi terjadi, pasti ada sesuatu yang terjadi di sekitar (situasi yang dialami). Kamu mungkin berada di bus yang penuh sesak, berdesak-desakan di sepanjang jalan yang sibuk di tengah hujan dalam perjalanan ke tempat kerja.

  1. Perhatian

Kamu hanya akan memperhatikan bagian-bagian dari situasi yang relevan bagi kamu. Mungkin akan ada banyak hal yang terjadi di perjalanan bus. Mungkin ada orang di ponsel mereka, wiper kaca depan berbunyi, gemerisik orang membalik halaman buku, tas belanja, ransel, orang yang sedang mengobrol, atau pohon dan burung dan mobil di luar jendela. Kamu tidak akan memperhatikan setiap detail kecil. Kamu hanya akan memperhatikan hal-hal yang penting.

Mungkin ada yang menyebut namamu, seseorang menatapmu, atau mendengar bagian dari percakapan tentang acara TV yang kamu sukai. Kamu akan memperhatikan hal-hal ini karena mereka memiliki arti pribadi.

  1. Penilaian

Begitu hal yang relevan menarik perhatian, kamu menafsirkan apa artinya hal itu bagi kamu. Proses berpikir ini bisa otomatis (di bawah kesadaran) atau bisa juga disengaja (pikiran sadar bisa mengatakan dengan lantang tentang apa artinya ini bagi kamu).

Cara kamu berpikir tentang situasi akan menentukan perasaan yang kamu miliki. Artinya, penilaian situasional menghasilkan jenis emosi yang kamu alami.

  1. Tanggapan

Berdasarkan proses berpikir yang kamu miliki (penilaian), kamu kemudian akan memiliki respons. Respon emosional ini melibatkan beberapa komponen.

  • Pertama, ada kecenderungan tindakan. Ini adalah keinginan untuk melakukan tindakan tertentu. Misalnya, kecenderungan tindakan untuk jijik adalah menolak. Jika kamu merasa jijik, kamu mungkin merasa terdorong untuk memuntahkan makanan atau minuman basi, atau bersandar jauh dari hal yang menjijikkan.
  • Kedua, ada ekspresi emosi yang dibuat dengan wajah, suara, atau tubuh. 
  • Ketiga, ada perubahan fisik dalam tubuh yang terjadi ketika kamu merasakan emosi. Misalnya, detak jantung akan meningkat ketika kamu merasa takut.

Profesor Klaus Scherer menyebutkan ada lima komponen emosi yang berbeda. Ini adalah komponen dari model komponen-proses emosinya.

  • Perasaan (perasaan subjektif, seperti “Saya merasa takut”)
  • Penilaian (pola pikir, seperti “Saya di bawah ancaman”)
  • Ekspresi (ekspresi wajah dan tubuh dari emosi, seperti mata terbelalak ketakutan)
  • Kecenderungan tindakan (kecenderungan untuk melakukan tindakan tertentu, seperti membekukan atau bersembunyi); dan
  • Perubahan fisik (gejala fisik emosi, seperti kupu-kupu di perut).

Baca juga: Ketahui 3 Cara Mengekspresikan Emosi secara Positif

Emosi dengan demikian lebih dari sekedar perasaan, mereka adalah campuran kompleks dari tindakan, ekspresi, dan perubahan internal pada tubuh yang terjadi sebagai respons terhadap makna yang kita buat dari lingkungan.

Itulah beberapa hal tentang emosi yang kamu perlu ketahui. Faktanya, jika seseorang mengalami gangguan mental, ada beberapa obat yang mungkin akan diresepkan untuk menstabilkan emosi. Nah, kamu bisa cek kebutuhan medis di Halodoc seperti obat penstabil emosi. Pesanan kamu pun bisa dikirimkan kurang dari satu jam ke tempatmu. Praktis bukan? Yuk download aplikasi Halodoc sekarang!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2021. What Are Emotions.
Verywell Mind. Diakses pada 2021. Emotions and Types of Emotional Responses.