• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bumil Anemia Berisiko Alami Perdarahan Postpartum

Bumil Anemia Berisiko Alami Perdarahan Postpartum

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Kehamilan menjadi proses penting untuk setiap wanita. Pada masa ini, ibu harus menjaga kesehatan tubuh sebaik mungkin, karena risiko terjadinya komplikasi besar. Mulai dari trimester pertama hingga trimester ketiga kehamilan, ada risiko masing-masing yang perlu ibu waspadai. Daya tahan tubuh ibu hamil cenderung lebih lemah, sehingga mudah terserang berbagai penyakit infeksi. 

Salah satu kondisi yang perlu ibu waspadai ketika hamil adalah anemia atau kurang darah. Ketika hamil, ibu membutuhkan banyak asupan darah untuk diri sendiri dan menunjang tumbuh kembang janin. Ibu perlu berhati-hati, karena riwayat anemia yang terjadi bisa mengakibatkan ibu mengalami perdarahan postpartum ketika persalinan. 

Mengenali Perdarahan Postpartum pada Ibu Hamil

Faktanya, perdarahan postpartum menjadi penyebab kematian ibu yang menjalani proses kelahiran paling banyak. Umumnya, kondisi ini terjadi ketika ibu mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan sang buah hati. Sering kali, perdarahan postpartum terjadi pada ibu yang menjalani proses bersalin pada usia 35 tahun atau lebih. 

Baca juga: Kenali Pemeriksaan untuk Deteksi Perdarahan Postpartum

Tidak hanya itu, perdarahan ini juga berisiko terjadi apabila ibu melahirkan anak kembar, bersalin secara caesar, bersalin dalam waktu lebih dari 12 jam, menjalani induksi ketika bersalin, adanya riwayat anemia dan darah tinggi, melahirkan janin dengan berat lebih dari 4 kilogram, dan plasenta berada dalam posisi rendah. Apakah hanya faktor ini yang meningkatkan risiko perdarahan postpartum pada ibu hamil?

Ternyata tidak. Perdarahan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang menjadi tempat perkembangan janin selama periode kehamilan terbuka. Lalu, kondisi tubuh yang kekurangan enzim trombin juga sangat berisiko mengalami perdarahan karena terjadinya gagal pembekuan darah pada tubuh. Ibu hamil yang mengalami atonia uteri pun demikian, kondisi ketika tonus otot rahim menghilang sehingga tidak bisa menekan pembuluh darah. Akibatnya, jumlah darah yang keluar pun akan berlebihan. 

Baca juga: Sebelum Terlambat, Cegah Perdarahan Postpartum dengan Cara Ini

Mencegah Perdarahan Postpartum

Oleh karena menjadi salah satu penyebab perdarahan postpartum, tentunya anemia pada ibu hamil harus dicegah. Ibu juga harus rutin melakukan pemeriksaan kehamilan agar kondisi yang terlihat abnormal dan membahayakan segera bisa dicegah dan dilakukan pengobatan. Tidak perlu ribet lagi untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit, karena ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc setiap saat. 

Perdarahan postpartum terbagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Perdarahan postpartum primer terjadi ketika ibu kehilangan darah hingga 500 mililiter dalam waktu 24 jam. Sementara perdarahan postpartum sekunder terjadi ketika banyak darah yang keluar dari vagina antara 12 hingga 24 jam pada proses persalinan. Lalu, adakah cara pencegahannya selain melakukan pemeriksaan rutin?

Baca juga: Kehamilan di Usia Tua Berisiko Alami Perdarahan Postpartum

Normalnya, rahim ibu terus mengalami kontraksi untuk menutup pembuluh darah. Ketika ini tidak terjadi, perawat akan membantu melakukan pemijatan perut ibu. Terapi ini dikenal dengan pijat fundus uteri. Namun, ibu tidak perlu risau, karena saat menyusui, tubuh melepaskan hormon oksitosin sehingga membantu mengurangi terjadinya perdarahan. 

Selain melakukan pemijatan pada perut, pencegahan dari perdarahan postpartum juga bisa dicegah dengan mengonsumsi obat dan pemasangan balon kateter foley pada bagian rahim. Nah, perdarahan postpartum biasanya terjadi dengan gejala keluarnya darah secara berlebihan setelah bersalin, demam tinggi, dan nyeri pada bagian perut. Jadi, selalu waspada, ya, bu!

Referensi: 
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Anemia in Pregnancy.
Medscape. Diakses pada 2020. Postpartum Hemorrhage.
Baby Center. Diakses pada 2020. Postpartum Hemorrhage.