• Home
  • /
  • Cara Didik Orangtua yang Otoriter Bisa Buat Anak Tertekan?

Cara Didik Orangtua yang Otoriter Bisa Buat Anak Tertekan?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Cara didik otoriter, anak tertekan

Halodoc, Jakarta - Menerapkan pola asuh bagi anak merupakan salah satu tantangan bagi orangtua. Cara didik anak yang tepat akan membuat anak memiliki kepribadian yang baik, serta sukses dalam menjalani karir di masa mendatang. Dalam hal ini, ada tiga jenis pola asuh yang umum dilakukan, yaitu pola asuh otoriter, permisif, serta autoritatif.

Baca juga: Ini 4 Akibat Pola Asuh Otoriter pada Anak

Pola Asuh Otoriter Bisa Buat Anak Tertekan, Benarkah?

Sejauh ini, pola asuh otoriter merupakan pola asuh yang paling banyak diterapkan. Bahayanya, pola asuh ini akan berdampak kepada psikologi anak, seperti:

  • Mereka akan merasa tertekan.

  • Tidak punya inisiatif.

  • Selalu merasa tegang.

  • Tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

  • Memiliki komunikasi yang buruk.

  • Kemampuan sosial yang tidak berkembang.

  • Tidak memiliki kreativitas.

  • Suka membangkang.

  • Menarik diri dari pergaulan.

  • Memiliki kepribadian yang lemah.

Ketika pola asuh otoriter ditanamkan dari kecil, kepribadiannya saat dewasa akan terhambat. Mereka memang terlihat sopan, penurut dan mudah diatur. Namun, mereka cenderung menderita, serta merasa memiliki harga diri yang rendah. Jika hal-hal tersebut disepelekan oleh orangtua, anak bisa saja memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya.

Baca juga: Ini Pola Asuh Sehat untuk Tumbuh Kembang Anak

Karakteristik Orangtua dengan Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter yang ditanamkan orangtua sejak kecil dilakukan agar anak tumbuh dengan rasa disiplin dan tanggung jawab tinggi. Orangtua cenderung berkuasa dan sangat dominan dengan peraturan yang ketat dan tegas, sehingga mereka cenderung lupa akan kebutuhan eksistensial dan emosional sang buah hati. Orangtua wajib mengetahui, berikut ciri-ciri orangtua dengan pola asuh otoriter:

  • Selalu Menuntut

Orangtua akan menerapkan banyak peraturan dengan standar yang tinggi. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengontrol apa yang dilakukan anak. Sebagai anak, mereka wajib mengikuti seluruh peraturan ini. Jika tidak, orangtua akan menganggap anak tidak bisa bekerja sama dengan baik.

  • Bersikap Dingin

Orangtua yang otoriter tidak akan bersikap hangat pada anak. Mereka cenderung tidak peduli akan kebutuhan emosional anak, sehingga mereka akan terus-menerus berteriak dan memaki. Meskipun mereka tahu hal ini salah dilakukan, mereka berdalih untuk kebaikan anak. Hal ini terlihat bahwa orangtua memakai amarah dan tuntutan, bukan dengan cinta dan kasih sayang.

  • Memegang Kontrol Penuh

Tak hanya gemar berteriak dan memaki, orangtua dengan pola asuh otoriter juga memiliki kendali penuh. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima keluhan atau pendapat dari anak, meskipun anak dalam posisi yang benar. Orangtua dengan pola asuh ini tidak akan mengizinkan anak untuk memilih keputusannya dengan dalil, “saya tahu yang terbaik untuk kamu”.

  • Komunikasi Satu Arah

Orangtua tidak akan melibatkan anak untuk mengambil keputusan, karena orangtua hanya menganggap anaknya adalah seorang “anak kecil”. Orangtua menilai anak belum memahami sepenuhnya apa yang menjadi pilihannya.

  • Meneriaki dan Memaki Depan Umum

Orangtua dengan pola asuh otoriter bisa menjadi sangat kritis, sehingga mereka tidak segan untuk memakai rasa malu anak untuk memaksa mengikuti apa kemauan mereka. Mereka tidak berusaha untuk membangun harga diri anak karena berpikir mempermalukan anak akan memberikannya motivasi untuk jadi lebih baik.

  • Hukuman yang Tidak Pantas

Amarah dan rasa takut anak merupakan kontrol utama yang dipakai oleh orangtua dengan pola asuh otoriter. Dalam hal ini, orangtua tidak segan untuk menghukum anak agar sepenuhnya patuh pada semua keinginan mereka.

Baca juga: Kenal Lebih Dalam dengan Helicopter Parenting

Pada intinya, orangtua dengan pola asuh otoriter akan lebih fokus pada “hukuman” daripada mengajarkan anak bagaimana caranya berperilaku dengan baik. Dengan begitu, anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter akan berdampak pada perkembangan mentalnya. Mereka akan sulit merasa bahagia dan kurang percaya diri. Dalam hal ini, anak bisa saja tumbuh menjadi pembangkang.

Parahnya lagi, pola asuh otoriter bisa saja membuat anak kecanduan minuman beralkohol, atau mengidap depresi. Jika ibu bingung untuk menentukan pola asuh yang tepat dengan karakter anak, diskusikan saja dengan psikolog di Halodoc. Ingat, pola asuh akan menentukan karakter dan kepribadian anak-anak di masa mendatang. Jadi, jangan sampai ibu terus-menerus melukai hatinya dengan pola asuh berlebihan, seperti pola asuh otoriter.

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2019. 8 Characteristics of Authoritarian Parenting.
Parenting Science. Diakses pada 2019. Authoritarian parenting: What happens to the kids?