09 November 2018

Cara Mendeteksi Trombositosis agar Tidak Terlambat Penanganannya

Cara mendeteksi trombositosis, kelainan darah

Halodoc, Jakarta - Trombosit atau platelet merupakan sel darah yang berperan dalam proses pembekuan darah, dengan cara saling menempel untuk membentuk bekuan darah. Sedangkan trombositosis adalah kondisi ketika jumlah trombosit dalam darah menjadi tinggi. Jika jumlah trombosit dalam darah terlalu banyak, risiko penyumbatan pembuluh darah lebih banyak di beberapa anggota tubuh. Penyakit yang dapat dipicu akibat kondisi ini adalah stroke dan serangan jantung.

Normalnya, jumlah trombosit dalam sel darah pada manusia adalah 150.000-450.000 per mikroliter darah. Seseorang dinyatakan mengalami trombositosis jika jumlah trombosit di atas 450.000 per mikroliter darah. Gangguan ini bisa dialami oleh semua usia, meski lebih sering terjadi pada seseorang yang berusia di atas 50 tahun dan wanita.

Mendeteksi Trombositosis

Selain ditemukan secara tidak sengaja setelah pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan jumlah trombosit perlu dilakukan saat terdeteksi splenomegali atau terdapat tanda-tanda infeksi. Selain hitung darah lengkap, tes darah lainnya yang perlu dilakukan adalah:

  1. Tes hapusan darah tepi (blood smear), untuk melihat ukuran dan aktivitas trombosit dalam darah.

  2. Kadar zat besi dalam darah, untuk mencari penyebab trombositosis.

  3. Tes penanda peradangan, untuk menentukan penyebab trombositosis.

  4. Tes genetik, untuk melihat ada atau tidaknya mutasi pada gen JAK2.

Selain tes darah, aspirasi sumsum tulang juga dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi jaringan sumsum tulang.

Gejala Kemunculan Trombositosis

Penyakit ini biasanya muncul pada usia lanjut yaitu 50-70 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak dan remaja. Pada umumnya, penyakit ini tidak menimbulkan gejala apa-apa. Biasanya diketahui oleh pasien saat sedang check-up rutin.

Dari hasil pemeriksaan darah dapat diketahui jumlah trombosit pasien. Jika ada gejala, biasanya adalah:

  1. Penyumbatan.

  2. Gejala penyumbatan seperti tangan dan kaki kram.

  3. Nyeri dada, atau terjadi stroke.

  4. Hal ini terjadi karena trombosit yang merupakan faktor pembekuan berkumpul di pembuluh darah karena jumlahnya yang berlebihan, sehingga menyumbat aliran darah.

  5. Pendarahan atau dapat pula yang timbul adalah gejala perdarahan seperti perdarahan pada saluran cerna atau perdarahan pada kulit (muncul ruam-ruam kemerahan). Hal ini disebabkan karena trombosit dengan jumlah banyak tersebut berbentuk tidak normal, sehingga fungsinya sebagai faktor pembekuan juga terganggu.

Dapat Diobati Sesuai Jenisnya

Pengidap trombositosis yang tidak mengalami gejala dan kondisi stabil hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin. Penanganan trombositosis sekunder ditujukan untuk mengatasi kondisi yang menyebabkan trombositosis. Dengan mengatasi penyebabnya, maka jumlah trombositosis dapat kembali normal.

Apabila penyebabnya adalah cedera atau pasca operasi, yaitu ketika terjadi perdarahan yang banyak, maka kenaikan jumlah trombosit tidak akan bertahan lama dan dapat kembali normal dengan sendirinya. Sedangkan trombositosis sekunder karena infeksi kronis atau penyakit peradangan, maka jumlah trombosit akan tetap tinggi sampai penyebab kondisi dapat dikendalikan.

Di samping itu, operasi pengangkatan limpa (splenektomi) akan menimbulkan trombositosis sepanjang hidup, meski biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus untuk menurunkan jumlah trombosit.

Perubahan gaya hidup juga berperan dalam proses pengobatan dan mengurangi risiko munculnya kondisi yang memicu trombositosis. Lakukanlah langkah-langkah pencegahan sebagai berikut:

  1. Menerapkan pola makan sehat. Pilih makanan dengan kandungan biji-bijian, sayuran, buah, dan lemak jenuh yang rendah. Makanlah dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

  2. Menjaga berat badan. Pertahankan berat badan normal untuk menghindari risiko naiknya tekanan darah akibat kelebihan berat badan. Langkah ini juga efektif dalam mencegah obesitas.

  3. Berhenti merokok.

  4. Berolahraga. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama setidaknya 30 menit setiap hari. Olahraga yang direkomendasikan bisa berupa joging, berenang, atau bersepeda.

Jika kamu mengalami gejala-gejala trombositosis, kamu dapat melakukan tanya jawab dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran dan pengobatan yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!

Baca juga: