• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Catat, Ini 4 Hal yang Memicu Terjadinya Resistensi Antimikroba

Catat, Ini 4 Hal yang Memicu Terjadinya Resistensi Antimikroba

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Catat, Ini 4 Hal yang Memicu Terjadinya Resistensi Antimikroba

“Ada beberapa hal juga dapat memicu terjadinya resistensi antimikroba. Misalnya seperti penggunaan antibiotik berlebihan, penggunaan obat-obatan antimikroba yang tidak tepat pada hewan, hingga intensitas bepergian yang tinggi. Selain dapat memicunya, beberapa hal tersebut juga dapat meningkatkan penyebaran resistensi antimikroba.”

Halodoc, Jakarta – Tanggal 18-24 November setiap tahunnya ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai peringatan World Antimicrobial Awareness Week, atau Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia. 

Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran terkait bahaya resistensi antimikroba, sehingga pola hidup sehat dapat diterapkan dengan lebih baik. Sebab, WHO sudah menetapkan bahwa resistensi antimikroba termasuk sebagai 10 besar masalah kesehatan global.

Nah, resistensi antimikroba (AMR) sendiri terjadi ketika mikroba seperti bakteri, jamur, dan parasit berevolusi, sehingga tidak lagi merespon obat-obatan antimikroba seperti antibiotik. Akibatnya, infeksi menjadi lebih atau bahkan tak dapat diobati. 

Kondisi tersebut tentu dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan mengancam keselamatan jiwa. Namun, sebenarnya apa saja hal yang memicu terjadinya resistensi antimikroba? Yuk simak penjelasannya di sini!

Beberapa Pemicu Resistensi Antimikroba

Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya resistensi antimikroba, antara lain:

  1. Penggunaan Antibiotik

Penyebab utama terjadinya resistensi antimikroba secara alami adalah penggunaan antibiotik. Ketika seseorang menggunakan antibiotik, maka beberapa mikroba atau bakteri akan mati. Namun, mikroba yang memiliki daya perlawanan dapat bertahan atau bahkan berkembang biak. Sebab, bakteri atau mikroba tertentu dapat berevolusi atau menerima gen resistensi dari mikroba lainnya, sehingga menjadi kebal terhadap antibiotik.

Artinya, semakin banyak seseorang mengonsumsi obat-obatan antibiotik, semakin besar kemungkinan bakteri untuk menjadi kebal terhadap antibiotik. Oleh karena itu, antibiotik tidak akan berfungsi secara optimal ketika seseorang membutuhkan penggunaannya di masa mendatang.

  1. Penggunaan Antimikroba yang Tidak Tepat Pada Hewan

Dilansir dari laman resmi Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan RI, penggunaan antimikroba yang tidak tepat pada hewan (bidang peternakan atau perikanan) juga dapat menjadi salah satu penyebab resistensi antimikroba. 

Salah satunya adalah penggunaan antibiotik secara rutin yang bertujuan untuk menjaga kesehatan hewan, bukan untuk perawatan. Hal ini dapat meningkatkan jumlah resistensi mikroba pada manusia, terutama bila daging hewan tersebut dikonsumsi.

  1. Kurang Menjaga Kebersihan   

Menjaga kebersihan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guna menjaga kesehatan. Nah, kebersihan yang kurang terjaga dapat berdampak pada pencegahan dan pengendalian infeksi. Sebab, kurangnya kebersihan atau higienitas dapat memicu berbagai dampak negatif, antara lain:

  • Memberikan lebih banyak peluang bagi bakteri resisten dan kuman lain untuk menyebar.
  • Dapat meningkatkan jumlah orang yang sakit, sehingga meningkatkan kebutuhan akan penggunaan antibiotik.

Maka dari itu, jagalah kebersihan setiap saat, terutama kebersihan tangan dengan cara rajin mencucinya. Sebab, kebersihan tangan merupakan cara paling penting untuk mencegah penyebaran infeksi, termasuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau kuman yang resisten terhadap antibiotik. 

  1. Terlalu Sering Bepergian

Resistensi antimikroba dapat dipicu oleh penggunaan antibiotik berlebihan, penggunaan antibiotik yang salah pada hewan hingga kebersihan yang kurang terjaga. Ketiga hal tersebut dapat memengaruhi penyebaran bakteri yang memiliki resistensi terhadap antimikroba atau antibiotik. Alhasil, setiap kawasan maupun negara akan memiliki jenis bakteri resisten yang bervariasi. 

Maka dari itu, terlalu sering bepergian juga diyakini menjadi salah satu pemicu sekaligus faktor peningkat penyebaran resistensi antimikroba. Pasalnya, wisatawan atau turis dapat jatuh sakit ketika sedang bepergian akibat berbagai hal. 

Contohnya seperti mengonsumsi makanan dan air yang terkontaminasi, menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi, hingga memiliki kontak dengan hewan. Akibatnya, mereka yang sering bepergian berisiko tinggi untuk membawa bakteri resisten tersebut ke negara asalnya, sehingga meningkatkan penyebaran resistensi antimikroba.

Nah, itulah penjelasan mengenai beberapa hal yang dapat memicu terjadi resistensi antimikroba. Mulai dari penggunaan antibiotik yang berlebihan hingga intensitas bepergian yang tinggi. 

Meski begitu, resistensi antimikroba sebenarnya dapat dicegah dengan beberapa hal. Salah satunya adalah konsumsi obat antimikroba seperti antibiotik sesuai dengan resep dan anjuran dokter.

Perlu diingat bahwa obat-obatan antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi akibat mikroorganisme. Contohnya seperti bakteri dan kuman, bukannya diperuntukkan untuk menjaga kesehatan atau daya tahan tubuh.

Namun, kamu bisa mengonsumsi suplemen atau vitamin sebagai upaya untuk menjaga kesehatan tubuh. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa cek kebutuhan vitamin dan suplemen sesuai pilihanmu. Tentunya tanpa perlu keluar rumah atau mengantre berlama-lama di apotek. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download Halodoc sekarang!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg

Referensi: 

WHO. Diakses pada 2021. Antimicrobial resistance
CDC. Diakses pada 2021. How Antibiotic Resistance Happens
Australian Gov. Diakses pada 2021. Antimicrobial resistance (AMR) is one of the biggest threats to human and animal health today
Sehat Negeriku Kemkes RI. Diakses pada 2021. Masyarakat Harus Kenali 3 Penyebab Timbulnya Mikroorganisme Resisten