• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Catat, Ini Gejala Hiperkapnia yang Perlu Diwaspadai
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Catat, Ini Gejala Hiperkapnia yang Perlu Diwaspadai

Catat, Ini Gejala Hiperkapnia yang Perlu Diwaspadai

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 25 Januari 2023

“Darah memerlukan karbon dioksida guna menstabilkan tingkat pH dan berperan dalam proses pernapasan. Namun, kadarnya yang berlebihan bisa memicu gagal napas yang berbahaya, yaitu hiperkapnia.”

Catat, Ini Gejala Hiperkapnia yang Perlu DiwaspadaiCatat, Ini Gejala Hiperkapnia yang Perlu Diwaspadai

Halodoc, Jakarta – Hiperkapnia yang memiliki sebutan lain gagal napas adalah keadaan saat terlalu banyak karbon dioksida dalam aliran darah. Kelainan kesehatan ini juga mempunyai istilah medis lain hypercarbia

Gangguan ini muncul sebagai dampak dari hipoventilasi, masalah kesehatan saat seseorang bernapas dalam tempo yang terlalu pendek atau panjang. Akibatnya, paru-paru akan kesulitan mendapatkan oksigen. 

Hiperkapnia sebenarnya bukan menjadi suatu bentuk penyakit, melainkan gejala yang terjadi karena masalah pernapasan yang muncul. Selain itu, kelainan tersebut juga bisa menjadi bentuk komplikasi dari beberapa gangguan pada otot dan saraf. 

Waspadai Gejala Hiperkapnia

Hiperkapnia bisa menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan lebih parah. Jika gejalanya ringan, tubuh masih mampu menangani dengan menyeimbangkan kadar oksigen dan karbon dioksida. Gejala gagal napas ringan berupa:

  • Kulit terlihat memerah.
  • Tubuh lesu dan kelelahan.
  • Mengalami kesulitan berkonsentrasi.
  • Kerap mengantuk meski telah mendapatkan cukup istirahat.
  • Mual dan muntah.
  • Pusing.
  • Mengalami sesak napas ketika beraktivitas.

Jika kondisi pengidap mengalami pemburukan, gejala yang muncul tentunya lebih berbahaya. Tidak seperti kondisi ringan, gagal napas berat membuat tubuh tidak mampu melawan gejalanya, sehingga pengidapnya akan menunjukkan kondisi berikut ini. 

  • Detak jantung tidak beraturan atau palpitasi.
  • Otot berkedut yang tidak normal.
  • Mengalami hipoventilasi atau hiperventilasi.
  • Kecemasan dan kebingungan.
  • Kejang.
  • Menunjukkan depresi dan paranoia.
  • Hilang kesadaran dan pingsan.

Kerap kali, pengidap yang memiliki riwayat masalah kesehatan seperti asma maupun PPOK akan menunjukkan gejala flare up (eksaserbasi) atau kondisi yang semakin memburuk. 

Jika gejala tidak menghilang setelah beberapa hari atau bahkan semakin memburuk, segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Cek rekomendasi rumah sakit terbaik Halodoc cukup dengan download Halodoc melalui App Store atau Play Store. 

Oleh karena gagal napas lebih sering terjadi dalam bentuk gejala dari suatu kondisi medis tertentu, sudah pasti ada potensi munculnya tanda lainnya. Apabila kamu memiliki keraguan dengan hal tersebut, melakukan pemeriksaan medis menjadi solusi terbaik. 

Seperti Apa Pengobatannya?

Penanganan untuk hiperkapnia sudah pasti berdasarkan pada masalah kesehatan yang mendasarinya. Umumnya, dokter akan menyarankan pengidap untuk tidak merokok dan menghindari paparan bahan kimia dan asap. 

Apabila muncul gejala yang berat, pengidap bisa jadi memerlukan alat bantuan pernapasan, termasuk ventilator supaya bisa bernapas dengan lebih baik. Alat bantu yang cukup populer adalah jenis non-invasif seperti Bi-level Positive Airway Pressure (BiPAP) atau Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). 

Ketika menjalani prosedur ini, pengidap hanya perlu bernapas dengan menggunakan masker yang sudah tersambung pada mesin yang memberikan oksigen dan tekanan udara. Selain itu, ada pula ventilator invasif jenis mekanis. Umumnya, dokter akan menggunakan alat ini apabila pengidap kehilangan kesadaran. 

Ventilasi mekanis sendiri akan melibatkan suatu prosedur yang bernama intubasi. Ini adalah prosedur pemasangan selang pada saluran napas dari mulut untuk membantu pengidap bernapas. 

Ada pula beberapa kondisi hiperkapnia yang memerlukan penanganan dengan menggunakan obat, termasuk bronkodilator yang berperan untuk membantu fungsi dari otot saluran pernapasan. 

Lalu, obat-obatan golongan kortikosteroid guna mengurangi sekaligus mencegah peradangan pada saluran napas, dan obat antibiotik untuk kondisi hiperkapnia yang terjadi karena infeksi pada saluran napas, termasuk pneumonia. 

Jika kerusakan pada paru-paru tidak mampu membaik dengan obat atau prosedur lainnya, dokter mungkin merekomendasikan pembedahan. Prosedur ini bisa berupa pengurangan volume paru yang mengalami kerusakan atau melakukan transplantasi dengan penggantian jaringan paru dari donor. 

Prosedur perawatan akan sesuai dengan keadaan setiap pengidap. Apabila kamu memiliki pertanyaan atau ada prosedur perawatan tertentu, pastikan untuk berdiskusi dengan dokter. 

Referensi:
Open Anesthesia. Diakses pada 2023. Hypercapnia: Causes.
StatPearls. Diakses pada 2023. Hypercapnia.
StatPearls. Diakses pada 2023. Physiology, Carbon Dioxide Retention.