Catcalling Bukan “Pujian” atau “Candaan” tetapi Pelecehan

Catcalling Bukan “Pujian” atau “Candaan” tetapi Pelecehan

Halodoc, Jakarta – Catcalling bisa dibilang hal yang lumrah terjadi di Indonesia. Dari kota besar hingga pedesaan, ada saja orang-orang yang menjadi korban dari catcalling. Yang menyedihkan, korban dari catcalling ini rata-rata adalah perempuan baik yang sudah berusia dewasa maupun masih di bawah umur. Lalu, apa sih yang disebut dengan catcalling itu? Nah, dikutip dari Women Republic, saat laki-laki bersiul, berteriak, memanggil atau melontarkan komentar tentang seksualitas dan fisik perempuan di jalan, maka itu disebut dengan catcalling.

Bukan Pujian

Seringkali terdengar ungkapan catcalling yang rasanya mengandung pujian. Mulai dari, “Hai, cantik!”, “Wah, manis banget sih.”, dan masih banyak lainnya. Kalimat-kalimat tersebut dilontarkan oleh orang yang tidak dikenal dan pada waktu yang salah. Kenapa salah? Ya, biasanya catcalling ini terjadi saat korban berada di jalan, ketika sedang menunggu angkutan umum, atau sedang sendirian di tempat umum. Dan “pujian” tersebut tidaklah tulus, tetapi dengan niat untuk menggoda dan dilakukan oleh orang asing pula. Tentu saja, hal ini menimbulkan perasaan insecure dan tidak nyaman. Bisa jadi menimbulkan trauma pada korban meski tidak sampai terjadi kekerasan fisik.

Bukan Candaan

Ada pula catcalling yang terdengar seperti gurauan, tentu saja jika kalimat ini dilontarkan oleh orang terdekat atau orang yang dikenal memang bisa terdengar candaan. Namun, jika yang mengucapkannya adalah orang asing? Makna dari kalimat itu pun bisa berubah dan terdengar “menakutkan” bagi korbannya.

“Jangan cemberut, senyum dong!”, “Kok jalannya cepet banget?”, “Mau diantar pulang?” itu adalah beberapa catcalling bernuansa “candaan” yang seringkali dilontarkan saat korban berada di tempat umum. Karena kalimat tersebut bukan diucapkan oleh orang yang dekat dengan korban, tentu saja hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman. Dan asal tahu saja, catcalling seperti ini sudah termasuk jenis pelecehan terhadap perempuan, lho!

Riset oleh Stop Street Harassment yang merupakan organisasi non profit, menyatakan bahwa tiga dari empat perempuan di Amerika pernah mengalami catcalling. Yang lebih menyedihkan, riset oleh Hollaback dan Univeritas Cornell tahun 2014 menemukan kalau hampur sebagian besar wanita di seluruh dunia pernah mengalami catcalling untuk pertama kali ketika memasuki masa puber.

Dampak Catcalling

Meski tidak disentuh secara fisik, catcalling memberikan pengaruh negatif yang cukup besar terhadap kondisi psikis seseorang. Pasalnya, seorang perempyan bisa mengalami self objection (objektifikasi diri sendiri) yang menyebabkan seseorang melihat dirinya sebagai objek. Kalau sudah begini, rasa percaya diri seseorang bisa terpengaruh.

Enggak hanya itu, catcalling juga bisa menimbulkan trauma pada korbannya. Misalnya, jadi takut keluar rumah sendiri, takut menaiki angkutan umum, takut bertemu dengan orang-orang baru, dan masih banyak lagi. Teruma pada korban yang mengalami catcalling pada usia muda. Mereka cenderung takut untuk bertindak sehingga muncul trauma besar yang menyebabkan mereka jadi membatasi diri dari kehidupan sosial.

Catcalling Bisa Dilawan

Jangan merasa takut untuk bertindak dan melaporkan tindakan catcalling yang dirasa sudah mengganggu aktivitas. Apalagi kalau sudah memengaruhi emosi bahkan tindakan fisik.

Ingatkan diri sendiri bahwa kamu bukanlah objek, sehingga tidak perlu merasa rendah diri. Tetaplah percaya diri tanpa mendengarkan ungkapan atau kalimat catcalling yang mengganggu. Bersikaplah seperti biasa tanpa menghiraukan catcalling. Pilih tempat yang ramai orang sehingga tidak ada kesempatan bagi “mulut-mulut” lelaki untuk melakukan catcalling. Manfaatkan sosial media untuk membagikan cerita tentang catcalling sehingga banyak orang yang sadar mengenai hal ini. Baik korban dapat berani bertindak, dan pelaku juga menyadari bahwa tindakannya ini salah.

Kalau kamu punya masalah yang berkaitan dengan kesehatan jiwa atau psikologi, dan butuh saran dari dokter. Yuk, coba gunakan aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter. Enggak perlu ke rumah sakit, kamu bisa menghubungi dokter lewat Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan rekomendasi beli obat dan tips menjaga kesehatan dari dokter terpercaya. Yuk, download di App Store dan Google Play.