Cedera Kepala Sebabkan Night Terror, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
cedera-kepala-sebabkan-night-terror-benarkah-halodoc

Halodoc, Jakarta – Rasanya hampir semua orang pernah mengalami mimpi buruk, baik anak-anak maupun dewasa. Mimpi buruk memang merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan bisa mengganggu kualitas tidur kita, tetapi biasanya akan berakhir segera setelah kita terbangun. Namun, ternyata ada kondisi lain yang lebih buruk dari mimpi buruk, yaitu night terror. Kondisi ini bisa membuat seseorang merasakan ketakutan yang sangat hebat selama tidur, sehingga ia akan berteriak dan menangis. Katanya, salah satu penyebab seseorang bisa mengalami night terror adalah akibat cedera kepala. Benarkah? Cari tahu kebenarannya di sini.

Baca juga: Begini Cara Kerja Otak saat Mengalami Night Terror

Apa Itu Night Terror?

Night terror adalah gangguan tidur yang mirip seperti mimpi buruk, tetapi jauh lebih dramatis. Gangguan tidur ini biasanya terjadi pada beberapa jam pertama setelah seseorang tertidur. Saat mengalami night terror, pengidap akan terbangun dengan rasa ketakutan yang sangat hebat, sehingga ia akan berteriak, menangis, meronta-ronta, dan banyak mengeluarkan keringat.

Berbeda dari mimpi buruk, orang yang mengalami night terror jarang bisa tersadar dengan sendirinya. Bahkan ketika sudah setengah sadar pun, ia tidak bisa mengenal keadaan di sekitarnya dan tidak bisa ditenangkan selama serangan itu masih berlangsung. Setelah pengidap benar-benar terbangun, ia hanya bisa mengingat gambaran yang mengerikan atau malah sama sekali tidak ingat apa-apa. Namun, serangan night terror biasanya hanya terjadi selama beberapa menit, kemudian pengidap akan tertidur kembali setelahnya.

Night terror juga seringkali terjadi bersamaan dengan tidur sambil berjalan (sleep walking). Sama seperti sleep walking, night terror juga dikelompokkan sebagai parasomnia, yaitu perilaku atau pengalaman yang tidak diinginkan selama tidur. 

Night terror sebenarnya merupakan gangguan tidur yang sangat jarang terjadi dan biasanya hanya dialami oleh anak-anak yang berusia 3–12 tahun. Kebanyakan anak mengalami gangguan tidur ini ketika dalam masa pertumbuhan. Night terror juga bisa dialami oleh orang dewasa, tapi tidak sebanyak atau sesering yang dialami anak-anak.

Baca juga: Anak Menangis Histeris Saat Tidur Malam, Waspada Night Terror

Penyebab Night Terror

Night terror disebabkan oleh gairah berlebihan dari sistem saraf pusat (SSP) selama tidur. Gangguan tidur ini terjadi pada tahap tidur N3, yaitu tahap tidur terdalam yang ditandai dengan gerakan mata yang tidak cepat (NREM).

Tidur terjadi dalam beberapa tahap. Seseorang biasanya mengalami mimpi (termasuk mimpi buruk) pada tahap gerakan mata cepat (REM). Namun, night terror secara teknis bukanlah mimpi, melainkan lebih seperti reaksi dari rasa takut yang terjadi selama transisi dari satu tahap tidur ke tahap lainnya. Night terror biasanya terjadi sekitar 2 atau 3 jam setelah bayi atau anak-anak tertidur.

Berbagai faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami night terror, antara lain:

  • Kelelahan atau kondisi kesehatannya sedang terganggu;

  • Sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu;

  • Gangguan jadwal tidur, seperti tidur di lingkungan baru atau ketika sedang melakukan perjalanan (biasanya lebih sering terjadi pada anak-anak); dan

  • Demam.

Jadi, bukan cedera kepala yang menyebabkan night terror, melainkan hal-hal di atas. Pada orang dewasa, minum alkohol bisa memicu terjadinya night terror. Gangguan tidur ini diduga juga berkaitan dengan faktor genetik, karena seseorang berisiko lebih besar mengalami night terror bila ada anggota keluarga yang juga mengalami gangguan tidur ini. Rasa cemas, depresi, tertekan dan stres juga bisa menjadi penyebab di balik fenomena tidur ini.

Baca juga: Cara Mengatasi Bayi yang Alami Night Terror

Itulah penjelasan mengenai penyebab night terror. Gangguan tidur ini sebaiknya segera diobati, karena bisa menurunkan kualitas tidur pengidapnya. Jadi, bila kamu atau Si Kecil mengalami night terror, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan. Kamu juga bisa minta saran kesehatan dari dokter di Halodoc. Caranya sangat praktis, kamu tinggal hubungi dokter melalui melalui fitur Talk to A Doctor dan berbicara melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.