• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cegah Penularan Difteri dengan Pola Hidup Sehat

Cegah Penularan Difteri dengan Pola Hidup Sehat

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Halodoc, Jakarta - Banyak penyakit yang dapat dengan mudah menular dan menyebabkan gangguan serius. Salah satu gangguan yang dapat terjadi adalah difteri. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pada tenggorokan, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas.

Seseorang yang mengidap difteri dapat mengalami komplikasi berbahaya, seperti kelumpuhan dan gagal jantung. Pengidap penyakit ini mempunyai kemungkinan mengalami kehilangan nyawa. Maka dari itu, pencegahan difteri sangat penting untuk dilakukan dengan pola hidup sehat. Berikut pembahasannya!

Baca juga: Ini 2 Cara Cegah Difteri yang Sebabkan Kematian

Pola Hidup Sehat untuk Cegah Penularan Difteri

Difteri adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri serius dan umumnya memengaruhi selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Penyakit ini dapat menyebabkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan pada kelenjar, dan tubuh yang terasa lemas setiap harinya.

Walau begitu, gejala khas yang timbul pada seseorang yang mengidap difteri adalah terdapat sesuatu berwarna abu-abu yang menutupi bagian belakang tenggorokan. Hal tersebut dapat menyebabkan terhalangnya jalan napas, sehingga menyebabkan tubuh kesulitan untuk bernapas.

Difteri menyebar ketika pengidapnya berbicara, batuk, atau bersin, sehingga menyebabkan cairan yang mengandung bakteri tersebut keluar dan tersebar di udara. Akibatnya, cairan tersebut mungkin saja terhirup saat bernapas dan masuk ke tubuh. Selain dengan cara tersebut, kontak secara tidak langsung dengan kotoran hidung dan tenggorokan juga dapat menyebabkannya.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait cara mencegah gangguan difteri, tanyakan saja pada dokter dari Halodoc. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan! Selain itu, kamu juga dapat melakukan pemesanan online untuk pemeriksaan fisik di beberapa rumah sakit yang bekerja sama dengan Halodoc.

Gangguan ini dapat menyebabkan banyak komplikasi yang berbahaya hingga menyebabkan kematian. Maka dari itu, sangat penting untuk melakukan pencegahan agar semua orang yang kamu sayang, terutama anak-anak, tidak mudah mengalaminya.

Baca juga: Vaksin DPT Cegah Difteri Bukan Cuma pada Anak-Anak

Pola Hidup Sehat untuk Cegah Difteri

Cara pencegahan dari difteri yang efektif dilakukan adalah menjalani pola hidup sehat. Salah satu hal yang benar-benar harus diperhatikan adalah pola makan yang benar-benar sehat dan bersih. Kamu harus memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan lauk yang kaya akan vitamin, mineral, dan asam lemak.

Kamu juga harus rajin mencuci tangan setelah berkegiatan dan keluar dari toilet. Kamu benar-benar harus mencuci tangan tepat sebelum mengonsumsi apapun. Pasalnya, jika tangan kamu terkontaminasi bakteri akan langsung memberi dampak pada tubuh. Selain itu, lingkungan di sekitar kamu juga harus terus dijaga kebersihannya.

Di samping pola hidup sehat, antibiotik dan vaksin juga dapat diberikan untuk mencegah terjadinya difteri. Vaksin yang berguna untuk menangkal difteri menyerang tubuh adalah DTap. Vaksin ini diberikan bersamaan dengan pertusis dan tetanus.

Vaksin DTaP diberikan lima kali hingga anak berusia 4 hingga 6 tahun. Suntikan tersebut diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 hingga 18 bulan, dan 4 hingga 6 tahun. Walau begitu, vaksin bertahan hanya 10 tahun, maka perlu diberikan lagi ketika anak berusia 12 tahun.

Untuk orang dewasa, kamu disarankan untuk mendapatkan suntikan tambahan untuk mencegah difteri sebanyak satu kali. Setiap 10 tahun setelahnya, kamu juga harus menerima vaksin tetanus-difteri. Dengan cara ini, kamu benar-benar menjaga anak dari penyakit difteri di masa yang akan datang.

Baca juga: Anak Terserang Difteri, Ibu Segera Lakukan 3 Hal Ini

Walau begitu, pada kasus yang jarang, vaksin ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada anak. Orang yang mendapat suntikan tersebut mungkin saja mengalami reaksi alergi, seperti gatal-gatal atau ruam. Selain itu, kejang atau syok juga mungkin terjadi dan harus segera mendapatkan pengobatan.

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. Diphtheria
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria