• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cegah Sikap Berbohong pada Anak Melalui Pendekatan Emosional

Cegah Sikap Berbohong pada Anak Melalui Pendekatan Emosional

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Umumnya orangtua berpikir anak-anak berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, menghindari konsekuensi, atau dari aktivitas yang tidak ingin mereka lakukan. 

Ini adalah motivasi umum, tetapi ada juga beberapa alasan mengapa anak berbohong. Orangtua bisa mencegah sikap berbohong pada anak melalui pendekatan emosional. Cari tahu alasan anak berbohong dan jangan langsung memarahi dan memberikan hukuman. Sebagian anak berbohong untuk mencari perhatian atau mendapat pengakuan.

Cegah Sikap Berbohong dengan Tahu Penyebabnya

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya anak berbohong untuk mencari perhatian, meningkatkan harga diri, dan mendapatkan persetujuan. Anak-anak yang kurang percaya diri berbohong untuk membuat diri mereka tampak lebih mengesankan, istimewa atau berbakat.

Ketika anak berbohong untuk mencari perhatian, Matthew Rouse, PhD, psikolog klinis dari Child Mind Institute, mengatakan orangtua perlu melakukan pendekatan lembut kepada anak. Kemudian, arahkan anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan faktanya. 

Baca juga: Mitos atau Fakta, Pria Lebih Berisiko Terkena Sosiopat

Jika itu tidak berhasil, orangtua dapat lebih transparan tentang hal itu dengan memberikan teguran ringan. Tergantung tingkat kebohongan anak, jika kebohongan tersebut menyangkut kehidupan orang lain, orangtua harus menegur dengan keras, tetapi tetap dengan tuntunan.

Penting juga untuk orangtua memberikan konsekuensi dan batasan supaya anak tidak mengulangi lagi kebohongan. Pendekatan emosional untuk cegah sikap berbohong pada anak bisa dilakukan orangtua dengan mengingatkan anak bahwa mereka tidak perlu untuk selalu menjadi sempurna. 

Berikan waktu kepada anak untuk memikirkan nasihat yang diberikan orangtua. Jangan mendesak anak untuk seketika langsung berubah. Butuh proses dan waktu untuk membentuk kepribadian anak dan menghilangkan kebiasaan berbohong tersebut.

Butuh Informasi lebih jelas mengenai pola asuh tepat pada anak, bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orangtua

Apa yang seharusnya tidak dilakukan orangtua? Jangan menyudutkan anak. Alih-alih menyudutkan anak, ada baiknya orangtua mengajak anak untuk berdiskusi dan menanyakan kenapa anak memilih berbohong

Jangan memberi label anak sebagai pembohong. Adalah kesalahan besar untuk menyebut seorang anak pembohong. Ini akan membuat anak terluka sehingga merasa orangtua tidak percaya padanya. Ini membuat anak merasa buruk pada dirinya sendiri dan akan membentuk pola berbohong yang berulang. 

Baca juga: Gangguan Cinderella Complex, Perlu Dampingan Psikolog?

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, disebutkan kalau berbohong bisa menjadi pertanda kalau anak punya masalah emosional ataupun gangguan perilaku. 

Anak remaja mungkin sering menggunakan kebohongan untuk menutupi masalah serius lainnya. Misalnya, seorang remaja dengan masalah narkoba atau alkohol serius akan berbohong berulang kali untuk menyembunyikan kebenaran tentang di mana mereka berada, dengan siapa mereka, apa yang mereka lakukan, dan ke mana uangnya digunakan.

Anak-anak akan menggunakan kebohongan untuk menutupi masalah sebenarnya. Orangtua adalah role model penting bagi anak-anaknya. Ketika seorang anak atau remaja berbohong, orangtua harus meluangkan waktu untuk melakukan diskusi serius tentang ini.

Katakan kalau mengatakan sebenarnya jauh lebih baik ketimbang kebohongan manis. Tekankan betapa pentingnya kejujuran di rumah dan di masyarakat. Jika seorang anak atau remaja mengembangkan pola kebohongan yang berulang dan orangtua tidak bisa menanganinya, bisa jadi orangtua perlu bantuan profesional.

Referensi:
Child Mind Institute. Diakses pada 2020. Why Kids Lie and What Parents Can Do About It.
Lying and Children. Diakses pada 2020. American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.