• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Adakah Hubungan Mikrobioma Usus dengan Depresi?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Adakah Hubungan Mikrobioma Usus dengan Depresi?

Cek Fakta: Adakah Hubungan Mikrobioma Usus dengan Depresi?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 07 Maret 2022

“Para peneliti mengungkapkan adanya hubungan antara mikrobioma usus tertentu dengan depresi. Orang yang mengidap depresi memiliki mikrobioma usus yang sangat berbeda dari orang yang tidak memiliki kondisi ini.”

Cek Fakta: Adakah Hubungan Mikrobioma Usus dengan Depresi?

Halodoc, Jakarta – Tugas utama usus dalam sistem pencernaan adalah memecah dan menyerap nutrisi dari makanan. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan adanya hubungan antara usus dengan risiko depresi.

Hubungan yang dimaksud tentu bukan sekadar merasa ada yang menggelitik di perut saat gugup, atau kehilangan nafsu makan saat sedang sedih. Melainkan bagaimana mikrobioma usus tertentu memengaruhi otak, yang akhirnya meningkatkan risiko depresi.

Depresi dan Mikrobioma di Usus

Baru-baru ini, para peneliti di Finlandia menemukan hubungan antara mikrobioma usus tertentu dan depresi. Hal ini diungkapkan dalam laman Science

Penulis studi ini menulis bahwa temuan mereka menambah bukti bahwa mikrobioma usus tertentu kemungkinan memengaruhi perilaku seseorang. Salah satu cara mereka membuktikan ini adalah melalui modulasi sistemik hormon dan metabolit di sepanjang sumbu usus dan otak. Dengan kata lain, jalur antara pikiran dan tubuh.

Depresi telah lama dianggap disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan biologis. Meskipun ini tidak salah, bisa jadi tidak sepenuhnya benar. Guillaume Méric, seorang ahli bioinformatika mikroba di Baker Heart & Diabetes Institute, mengatakan bahwa mikrobioma usus adalah area baru untuk menyelidiki apa yang menyebabkan depresi.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya memiliki mikrobioma usus yang sangat berbeda dari orang yang tidak memiliki kondisi ini.

Temuan tersebut mendukung penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa peradangan yang disebabkan oleh bakteri usus yang disebut Morganella, mungkin memengaruhi depresi.

Cara mikrobioma memengaruhi otak (dan sebaliknya) berada di sepanjang garis yang sama dengan sumbu usus-otak, yaitu:

  • Bakteri usus dapat mengubah neurotransmiter mana yang ada dalam aliran darah, dan molekul inflamasi yang diproduksi di usus juga dapat berperan.
  • Sistem saraf enterik membuat neurotransmiter yang diketahui berperan dalam depresi, seperti serotonin.
  • Apa yang terjadi di usus juga dapat merangsang saraf vagus, yang mengirimkan pesan ke otak.

Sementara detailnya belum terungkap, jalur dan faktor yang menginformasikan sumbu usus-otak menjadi lebih jelas.

Lebih lanjut, Méric mengatakan bahwa sumbu usus-otak tidak ada dalam ruang hampa. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seseorang juga memengaruhi usus dan kesehatan mental mereka.

Ada atau tidak adanya bakteri yang berbeda tergantung pada banyak faktor, seperti pola makan seseorang dan kesehatan secara keseluruhan. Penulis penelitian juga merasakan hal yang sama.

Mereka menulis bahwa temuan mereka menyoroti pengaruh intim sumbu usus-otak pada manusia. Namun, para peneliti juga mengakui bahwa studi yang lebih mekanistik diperlukan untuk mengurai dan menafsirkan prediksi ini lebih lanjut.

Sementara para peneliti baru mulai menemukan hubungan antara mikrobioma usus dan depresi, Méric mengatakan bahwa mereka belum memahami dengan baik bagaimana cara memanipulasi mikrobioma usus untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini secara umum.

Menjaga Kesehatan Usus Jadi Kunci

Dari apa yang ditemukan para peneliti, dapat diketahui bahwa mikrobioma di usus dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Meric juga mengatakan bahwa sistem pencernaan merupakan salah satu kumpulan organ tercanggih setelah otak.

Jadi, sangat penting untuk menjaga kesehatan usus dengan baik. Misalnya dengan mengonsumsi berbagai variasi makanan sehat, dan tinggi serat. Ini juga dapat mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Mengonsumsi kombinasi bakteri tertentu yang disebut probiotik juga dapat membantu meningkatkan suasana hati. Kamu bisa mendapatkan probiotik dari makanan fermentasi (seperti yoghurt) atau dalam bentuk suplemen makanan.

Konsumsi prebiotik juga disarankan. Sebab, prebiotik yang merupakan sumber makanan bagi bakteri baik di usus. Selain itu, penting juga untuk mengonsumsi variasi makanan bergizi seimbang, serta menerapkan gaya hidup sehat lainnya.

Nah, itulah pembahasan mengenai kemungkinan kaitan antara mikrobioma usus dan risiko depresi. Meski masih butuh penelitian lebih lanjut, tidak ada salahnya untuk senantiasa menjaga kesehatan usus, karena ini adalah bagian penting dari sistem pencernaan.

Jika kamu mengalami masalah kesehatan terkait usus, segera download Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit favoritmu, ya.

Referensi:
Science. Diakses pada 2022. Gut Microbe Linked To Depression In Large Health Study.
Very Well Health. Diakses pada 2022. What’s the Gut Microbiome Got to Do With Depression?