• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Benarkah Polusi Udara Meningkatkan Risiko Depresi?

Cek Fakta: Benarkah Polusi Udara Meningkatkan Risiko Depresi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cek Fakta: Benarkah Polusi Udara Meningkatkan Risiko Depresi?

“Kamu mungkin sudah sering dengar bahwa polusi udara bisa menyebabkan masalah paru-paru. Namun, pernahkah mendengar bahwa ini juga bisa meningkatkan risiko depresi? Penelitian terbaru mencoba  mengungkapkan hal ini.”

Halodoc, Jakarta – Hidup di kota besar dengan banyak polusi udara sangat berisiko bagi kesehatan. Namun, tahukah kamu bahwa kesehatan mental juga bisa terpengaruh? Ya, studi terbaru menemukan bahwa polusi udara dapat meningkatkan risiko depresi pada orang dengan gen tertentu. 

Pada studi-studi sebelumnya, para ahli mengungkapkan bahwa gen memainkan peran besar dalam risiko seseorang terkena depresi. Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America pada November 2021 menemukan sesuatu yang menarik.

Para peneliti menemukan bahwa polusi udara dapat menyebabkan perubahan sirkuit otak pada orang yang memiliki risiko genetik depresi. Sirkuit tersebut bertanggung jawab untuk fungsi utama yang biasanya terkait dengan depresi. Seperti misalnya pemikiran logis dan pemrosesan emosional. 

Kaitan antara Depresi dan Polusi Udara

Dalam penelitian yang disebutkan tadi, para peneliti mengidentifikasi lebih dari 170 gen yang dapat menentukan siapa yang berisiko lebih besar terkena depresi. Gen-gen ini dapat “dihidupkan dan dimatikan” oleh pemicu lingkungan.

Terkait hal ini, ahli saraf di Lieber Institute for Brain Development and Peking University, Beijing, ingin melihat seberapa besar polusi udara, sebagai faktor lingkungan, mempengaruhi cara gen menunjukkan depresi. Mereka menggunakan kombinasi survei, studi genetik, dan teknologi neuroimaging untuk menjawab pertanyaan ini.

Mereka memulai dengan melakukan penelitian pada lebih dari 350 orang dewasa yang tinggal di Beijing, salah satu kota paling tercemar di dunia. Pertama, para peneliti membuat profil para peserta secara genetik, mencari tahu seberapa besar kemungkinan mereka mengidap depresi di masa depan hanya berdasarkan gen mereka. Mereka menilai total 49 gen terkait depresi.

Kedua, mereka mengumpulkan informasi tentang seberapa banyak peserta terpapar polusi udara di masa lalu. Polusi udara yang dimaksud adalah yang berbentuk partikulat, partikel kecil yang dapat dihirup lebih kecil dari 2,5 mikron, seperti polusi dari knalpot mobil. Mereka melacak ini selama enam bulan sebelum penelitian. 

Kemudian, para peneliti meminta peserta melakukan tes kognitif saat menjalani pemindaian MRI untuk mendapatkan gambaran visual tentang bagian otak mana yang paling merespons kinerja mereka dalam latihan. Selama tes, mereka juga diberi beberapa umpan balik negatif yang tidak terduga untuk menciptakan situasi stres.

Para peneliti kemudian menggunakan pencitraan otak untuk mengukur fungsi dari 49 gen tersebut, mengukur bagaimana paparan polusi udara dapat memicu gen depresi untuk aktif dan tidak aktif.

Hasilnya menunjukkan bahwa, pada peserta dengan risiko genetik tinggi depresi dan paparan polusi udara yang tinggi, fungsi inti otak tersebut memang berbeda. Oleh karena itu, depresi jauh lebih mungkin terjadi pada orang yang sudah memiliki kecenderungan genetik itu, terutama jika mereka terpapar polusi udara tingkat tinggi.

Koneksi otak yang sama yang bertanggung jawab untuk memperburuk gen depresi tersebut ada di korteks prefrontal. Bagian otak ini juga berperan dalam kondisi mental lain sehingga efek polusi udara bisa lebih luas lagi. 

Itulah pembahasan mengenai polusi udara yang ternyata dapat meningkatkan risiko depresi, pada orang yang sudah memiliki faktor risiko genetik. Perlu diketahui bahwa ini merupakan studi awal, yang perlu diteliti lebih lanjut lagi. 

Namun, tidak ada salahnya untuk menghindari polusi udara sebisa mungkin, karena ini juga buruk untuk kesehatan fisik. Jika kamu mengalami keluhan kesehatan apapun, segera download Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit, ya.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. Diakses pada 2021. Air Pollution Interacts With Genetic Risk To Influence Cortical Networks Implicated In Depression.
Very Well Health. Diakses pada 2021. Exposure to Air Pollution May Increase Your Risk of Depression.
Yale News. Diakses pada 2021. Roots of Major Depression Revealed In All Their Genetic Complexity.
Medline Plus. Diakses pada 2021. Can Genes Be Turned On And Off In Cells?