• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Rasa Takut Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan

Cek Fakta: Rasa Takut Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cek Fakta: Rasa Takut Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan

“Menikmati sensasi rasa takut saat menonton film horor atau saat naik wahana di taman hiburan ternyata bisa membawa manfaat. Sensasi ini bisa memicu terbentuknya beberapa hormon yang pada ujungnya akan membuat kamu merasa lebih baik atau bahkan senang. Namun, ketakutan berkepanjangan tidak boleh dibiarkan karena bisa membahayakan.”

Halodoc, Jakarta – Pada kenyataannya, tidak semua orang bisa menikmati film horor. Namun, banyak orang di luar sana yang sangat menyukai momen ketakutan atau kaget saat menonton film horor atau saat naik wahana di taman hiburan.

Namun, tahukah kamu bahwa rasa takut dan kelangsungan hidup memiliki hubungan erat sepanjang evolusi manusia? Ya, jika para manusia di masa berburu di zaman dahulu tidak lari dari situasi berbahaya, mereka tidak mungkin bertahan hidup dan berkembang biak seperti sekarang. Jadi, bisa dikatakan bahwa rasa takut sebenarnya memiliki manfaat untuk kesehatan secara keseluruhan. 

Baca juga: 4 Manfaat Menonton Film Horor

Yang Terjadi pada Tubuh Saat Mengalami Rasa Takut

Dalam situasi stres akut akibat ketakutan, sistem saraf otonom menyebabkan perubahan fisiologis yang umum, seperti peningkatan pernapasan dan detak jantung, kulit memerah atau pucat, serta sensasi seperti ada kupu-kupu di perut, otot tegang, pupil melebar, dan mulut kering.

Kemudian ketika rasa takut itu mereda, kamu akan merasakan kesenangan. Kamu mungkin bertanya, apakah ini hanya kelegaan karena selamat atau ada lebih dari sekadar itu?

Menurut Indian Journal of Psychiatry, amigdala, yakni struktur kecil jauh di tengah otak, mengontrol respons rasa takut. Amigdala inu adalah bagian dari sistem limbik, yang memainkan peran kunci dalam perilaku. Dalam situasi yang menakutkan, amigdala merangsang hipotalamus, yang pada gilirannya, mengaktifkan kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon adrenokortikotropik (ACTH) ke dalam darah.

Sistem saraf simpatik, bagian dari sistem saraf otonom yang bertanggung jawab untuk respon melawan atau lari, memberitahu kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin, juga dikenal sebagai adrenalin. Begitu epinefrin berada dalam aliran darah, ia mempercepat detak jantung, menyempitkan pembuluh darah perifer, dan mengalirkan darah dari inti ke otot yang dibutuhkan untuk bergerak.

Ia juga mengencangkan otot-otot di dasar setiap folikel rambut (piloereksi), menyebabkan rambut berdiri (seperti pada hewan berbulu) atau merinding pada manusia. Pelepasan ACTH ini kemudian menyebabkan sekresi kortisol, yang sering disebut “hormon stres.” Ini meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan kadar glukosa darah untuk menjaga tubuh tetap siap beraksi.

Baca juga: Ini Penyebab Fobia Bisa Muncul

Sensasi Menyenangkan usai Mengalami Ketakutan 

Ada banyak alasan mengapa banyak orang yang mungkin menikmati sensasi rasa takut. Pertama adalah perasaan rileks setelah aliran epinefrin terjadi. Begitu korteks prefrontal otak menyadari bahaya itu tidak nyata, responnya berkurang. Otak kemudian akan memberitahu tubuh untuk rileks.

Setelah itu akan terjadi serbuan neurotransmitter biokimia yang membuat kamu merasa luar biasa. Kelegaan pasca-buru-buru dan rasa sejahtera inilah yang membuat para pencari sensasi kembali lagi untuk menikmati rasa takut.

Lalu ada aspek sosial, jika kamu berada dalam situasi yang menakutkan dengan orang lain, ada pengalaman ikatan bersama mengetahui bahwa kalian berhasil melewatinya. Sekali lagi, hormon bertanggung jawab, kali ini oksitosin. Ini adalah hormon yang memengaruhi perilaku sosial dan terlibat dalam penciptaan ingatan dan ikatan kelompok. Beberapa orang mengenalnya sebagai “hormon cinta” karena tubuh melepaskannya saat berpelukan, melahirkan, dan aktivitas seksual.

Bukan hanya dopamin dan oksitosin yang berkontribusi pada post-scare high. Orang juga mengalami aliran endorfin setelah ketakutan. Endorfin, bahan kimia pembuat perasaan-baik yang dilepaskan setelah berolahraga, sering disebut sebagai opioid alami. Jadi, itulah mengapa pengalaman menakutkan bisa memberi perasaan euforia yang sama seperti lari 10 mil.

Akhirnya, tubuh melepaskan serotonin, neurotransmitter lain yang mengatur banyak perilaku manusia, di antaranya suasana hati. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa saat seseorang mengalami kekurangan serotonin, maka risiko depresi akan meningkat. Jadi, peningkatan serotonin dapat membantu meningkatkan semangat.

Mungkin ada lebih banyak alasan untuk menikmati sensasi rasa takut berkat nonton film horor atau saat naik wahana di taman hiburan. Penelitian dari The International Journal on the Biology of Stress juga telah menunjukkan potensi manfaat psikologis dan kesehatan dari rasa takut. Namun, rasa takut jangka panjang memiliki efek buruk, seperti peningkatan tekanan darah dan perilaku defensif.  

Jadi, rasa takut yang bermanfaat adalah ketakutan jangka pendek. Sebab ia melatih seseorang untuk bertahan dan mengatur emosi mereka yang kemudian dapat merespons dengan tepat untuk perlindungan diri. Bahkan, rasa takut jangka pendek seperti habis menonton film horor diduga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Baca juga: Takut atau Fobia? Kenali Gejala Fobia Ini

Namun, jika kamu atau orang terdekatmu merasakan ketakutan atau seperti trauma setelah nonton film horor atau naik wahana di taman hiburan dan terjadi berkepanjangan, sebaiknya periksakan diri ke psikolog di rumah sakit. Kamu pun bisa buat janji di rumah sakit dengan lebih mudah pakai Halodoc. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasi Halodoc sekarang!

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Indian Journal of Psychiatry. Diakses pada 2021. The Limbic System.
Medical News Today. Diakses pada 2021. Fear Can be Fun, And It Might Even Be Good for You.
The International Journal on the Biology of Stress. Diakses pada 2021. Observing a Fictitious Stressful Event: Haematological Changes, Including Circulating Leukocyte Activation.
The Washington Post. Diakses pada 2021. Five Myths About Fear.