• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dampak Biseksual Terhadap Kehidupan Sosial
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dampak Biseksual Terhadap Kehidupan Sosial

Dampak Biseksual Terhadap Kehidupan Sosial

2 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 23 September 2022

“Biseksual adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami ketertarikan seksual terhadap dua jenis kelamin sekaligus. Dampaknya akan tergantung pada latar belakang budaya.”

Dampak Biseksual Terhadap Kehidupan SosialDampak Biseksual Terhadap Kehidupan Sosial

Halodoc, Jakarta – Biseksual adalah gambaran ketika seseorang memiliki ketertarikan secara seksual dan emosional dengan lebih dari satu jenis kelamin. Artinya, mereka menyukai pria dan wanita sekaligus.

Pengidap kondisi ini bisa menjalin hubungan dengan dua orang sekaligus yang memiliki jenis kelamin berbeda. Biseksual bisa menimbulkan dampak terhadap lingkungan sosial dan kesehatan.

Bagi lingkungan sosial, dampaknya tergantung pada latar belakang budaya, agama, kelompok sosial dan pergaulan sebaya. Sebagian besar menghujat perilaku ini. Karena itu, pengidap cenderung diam-diam terhadap penyimpangannya.

Dampak Sosial dari Biseksual

Biseksual termasuk ke dalam jenis LGBT atau penyimpangan seksual. Pandangan masyarakat terkait dengan isu ini masih beragam. Semua tergantung pada agama, latar belakang budaya, lingkup pergaulan, keluarga dan kelompok sosial.

Dari Jurnal Filsafat Indonesia, penampakan biseksual masih menjadi hal tabu. Perilaku ini dianggap sebagai perbuatan yang berdampak pada gangguan keselarasan dan keserasian dalam masyarakat.

Perbuatan LGBT dapat merusak moral dan menentang nilai-nilai keseimbangan yang ada dalam moral masyarakat. Akibatnya, banyak dari mereka yang dikucilkan dari lingkungan sosial tempat tinggalnya.

Dampak Kesehatan Biseksual

Adapun, risiko kesehatan yang rentan dialami oleh kaum biseksual, antara lain:

1. Depresi hingga Bunuh Diri

Melansir jurnal Western Journal of Medicine, gangguan kesehatan mental yang rentan dialami oleh kaum LGBT adalah depresi yang bisa mengarah pada bunuh diri. Sebanyak 40 persen pria biseksual mengalami gangguan ini.

Depresi adalah penurunan suasana hati yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Pada tingkat yang paling parah, depresi dapat mengancam nyawa karena membuat pengidapnya merasa ingin bunuh diri.

2. Penyalahgunaan Alkohol dan Obat Terlarang

Penyalahgunaan alkohol dan obat terjadi ketika keduanya tidak digunakan sesuai dengan fungsi dan dosisnya. Kondisi ini bisa menyebabkan kecanduan yang berujung pada rusaknya otak hingga kematian.

Dampaknya, pengguna akan mengalami halusinasi, kejang-kejang, kantuk berlebihan, kebingungan dan kehilangan kesadaran. Kecanduan dalam intensitas parah bisa memicu kematian karena overdosis.

3. Kanker Anus

Kanker anus adalah pertumbuhan sel abnormal atau tumor ganas di area anus. Penyakit ini rentan dialami akibat sering berganti pasangan seksual dan melakukan seks anal (lewat dubur).

Kemunculannya menimbulkan gejala berupa rasa gatal dan nyeri di anus, perdarahan dari rektum atau anus, pembengkakan dan benjolan, keluarnya lendir atau nanah serta perubahan pola buang air besar.

Sederhananya, biseksual termasuk ke dalam jenis LGBT yang dibenarkan. Sebab, berisiko dijauhi dari lingkup kehidupan sosial dan berpotensi menularkan penyakit seksual. Dari segi fisik, mereka tidak tampak memiliki penyimpangan karena sama dengan manusia normal pada umumnya.

Jika kamu memiliki indikasi, silakan buat janji rumah sakit untuk menemui psikolog atau psikiater. Kamu juga bisa mendapatkan informasi lain seputar kesehatan, gaya hidup dan pola hidup sehat lainnya dengan mendownload Halodoc sekarang juga.

Referensi:
Health. Diakses pada 2022. 6 Major Health Disparities Affecting the LGBTQ+ Community.
Jurnal Filsafat Indonesia. Diakses pada 2022. LGBT dalam Perspektif Deotologi Immanuel Kant.
Mind. Diakses pada 2022. LGBTIQ+ mental health.