• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dampak Psikologis dari Kecanduan Olahraga

Dampak Psikologis dari Kecanduan Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta — Kecanduan olahraga terkesan seperti mengada-ada, karena biasanya penggunaan kata kecanduan mengarah pada hal-hal yang jelas buruk seperti penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol. Namun, sebenarnya kecanduan olahraga adalah hal yang bisa terjadi. Atlet pun bisa merasakan sensasi “high" setelah berolahraga, yang dipicu oleh pelepasan hormon kebahagiaan seperti dopamin dan endorfin, yang memiliki efek mengubah suasana hati. Efek yang sama dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol yang juga dapat membentuk kebiasaan.

Seperti dalam kecanduan apa pun, kata 'senang' penting untuk membuat kecanduan, tetapi perkembangan kecanduan juga bergantung pada banyak faktor eksternal. Kecanduan olahraga tidak dianggap serius oleh semua orang, tetapi ternyata dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Simak penjelasannya di sini!

Baca juga: Selalu Cek Denyut Nadi Saat Olahraga

Memiliki Gejala Sama dengan Pecandu Lain

Pecandu olahraga memiliki banyak gejala yang sama dengan jenis pecandu lainnya. Namun pada kecanduan olahraga, pecandunya menjadikan olahraga sebagai obsesi terbesar, sehingga tidak punya waktu untuk istirahat.

Serangan jantung dan osteoporosis kerap dialami oleh pecandu olahraga. Namun, ini bukan hanya masalah kerusakan fisik, pecandu olahraga juga bisa terdampak secara psikologis, ketika mereka begitu tergantung pada latihan.

Pecandu olahraga akan mengalami efek penarikan diri, depresi, dan kecemasan ketika tidak berolahraga. Kecanduan olahraga juga memiliki efek sosial negatif, yang membuat pecandu kerap membatalkan pertemuan karena mereka lebih suka berlatih daripada berteman, bertemu keluarga, bahkan menyelesaikan pekerjaannya. Terkadang secara fisik dia bersosial, tetapi secara mental dia kerap memikirkan sesi latihan berikutnya.

Baca juga: Bentuk Lengan Kuat dengan 4 Latihan Sederhana

Membicarakan kecanduan olahraga memang tidak sesederhana kecanduan lainnya. Dampak fisik misalnya adalah banyak penari balet yang kakinya rusak, begitu juga petinju profesional yang mengalami kerusakan otak akibat pertandingan yang berulang-ulang, begitupun atlet, pesepakbola, dan pemain rugby yang mengalami cedera parah selama latihan olahraga tingkat tinggi.

Kecanduan olahraga tidak selalu mudah didiagnosis. Kebanyakan pecandu olahraga tidak melihat ada yang salah dengan perilakunya, sehingga tidak memeriksakan diri secara medis. Kondisi ini juga bukan diagnosis yang diakui oleh American Psychiatric Association (APA), yang berarti tidak ada kriteria diagnostik khusus yang digunakan dalam diagnosisnya.

Obsesi kebugaran yang meningkat dan aktivitas sosial yang menurun biasanya menunjukkan kecanduan olahraga. Seorang dokter mungkin meminta kamu untuk membuat jurnal tentang rutinitas olahraga dan aktivitas sosial yang biasa kamu lakukan untuk menentukan apakah kamu menunjukkan pola olahraga yang tidak normal.

Penanganan Kecanduan Olahraga

Dalam beberapa kondisi, melatih pengendalian diri diperlukan untuk mengatasi kecanduan olahraga. Seorang pecandu olahraga mengakui bahwa mereka memiliki masalah tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk mengontrol aktivitas olahraga.

Pecandu olahraga kerap beralih ke bentuk latihan baru atau mengurangi latihan mereka saat ini. Terkadang seorang pecandu olahraga mungkin perlu berhenti berolahraga untuk sementara waktu agar dapat mengontrol keinginannya untuk berolahraga.

Baca juga: 6 Alat Olahraga untuk Latihan di Rumah

Untuk mencegah kecanduan olahraga, hindari intensitas berlebihan ke gym. Batasi waktu latihan dan jumlah latihan harian. Beristirahatlah dari olahraga setidaknya 2 kali seminggu agar tubuh bisa beristirahat dan memulihkan diri. Jika kamu terobsesi dengan olahraga, bicarakan dengan dokter tentang situasimu dan bagaimana penanganannya.

Kalau kamu punya masalah kesehatan dan mau membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit, gunakan saja Halodoc! tanpa perlu mengantre, kamu bisa sampai di rumah sakit pada jam yang ditentukan dan langsung diperiksa oleh dokter.


 

Referensi:
Aeon.co. Diakses pada 2021. How people with sports addiction are like drug addicts.
Healthline. Diakses pada 2021. Exercise Addiction.