Dapatkah Perdarahan Subkonjungtiva Terjadi pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Dapatkah Perdarahan Subkonjungtiva Terjadi pada Anak?

Halodoc, Jakarta – Jika pembuluh darah kecil pecah di bagian putih mata, darah membuat bagian putih mata menjadi merah cerah. Kondisi ini disebut perdarahan subkonjungtiva. Kemerahan dapat meningkat selama 24 hingga 48 jam. 

Biasanya, itu sembuh dengan sendirinya dalam satu atau dua minggu, seperti memar pada kulit. Apa yang harus dilakukan ketika anak mengalaminya? Orang tua perlu tahu beberapa hal seperti berapa lama waktu untuk pulih, kegiatan apa yang harus dihindari anak dan kapan dapat kembali ke kegiatan normalnya, cara merawat anak di rumah, dan perubahan gejalanya. Cari tahu keterangan selanjutnya di sini!

Baca juga: 5 Trik Menjaga Kesehatan Anak Saat Perubahan Cuaca

Perdarahan Subkonjungtiva

Putih mata (sklera) ditutupi dengan lapisan tipis jaringan bening yang disebut konjungtiva bulbar. Perdarahan subkonjungtiva terjadi ketika pembuluh darah kecil pecah terbuka dan berdarah di dalam konjungtiva. 

Darah seringkali sangat terlihat, tetapi karena terkurung di dalam konjungtiva, ia tidak bergerak dan tidak dapat dibersihkan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtival, termasuk:

  1. Peningkatan tekanan yang tiba-tiba, seperti bersin keras atau batuk.

  2. Memiliki tekanan darah tinggi atau mengonsumsi pengencer darah.

  3. Menggosok mata.

  4. Infeksi yang disebabkan oleh virus.

  5. Operasi mata atau cedera tertentu.

Perdarahan subkonjungtiva sering terjadi pada bayi baru lahir. Dalam hal ini, kondisi ini diduga disebabkan oleh perubahan tekanan di seluruh tubuh bayi saat dilahirkan. Ketika bayi dilahirkan, seluruh tubuh bayi mengalami sejumlah besar tekanan, stres, dan kompresi. 

Bahkan ketika bayi dan panggul ibu adalah ukuran normal, bisa sangat sulit untuk memindahkan bayi melalui jalan lahir dan otot-otot panggul, dan pengalaman ini dapat menyebabkan stres yang cukup untuk mengakibatkan perdarahan subkonjungtival pada bayi. Kondisi ini biasanya menyebabkan kemerahan di salah satu mata. 

Baca juga: 4 Tips Menjaga Kesehatan Anak Usia 1-2 Tahun

Biasanya, tidak ada gejala lain yang spesifik. Termasuk perubahan dalam penglihatan. Kemungkinan tandanya adalah bercak yang tampak merah cerah. Bila anak mengalami kondisi demikian ada baiknya orang tua segera menemui dokter. 

Apalagi jika sebelumnya anak mengalami benturan di kepala. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan cedera pada tengkorak. Pendarahan mungkin berasal dari otak, bukan hanya di subkonjungtiva mata.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai perdarahan subkonjungtiva pada anak, bisa tanyakan langsung ke HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orang tua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Biasanya tidak diperlukan perawatan tidak diperlukan. Perdarahan subkonjungtiva akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7 hingga 14 hari, secara bertahap menjadi lebih ringan dan kurang terlihat.

Dokter mungkin menyarankan agar anak menggunakan air mata buatan (Visine Tears, Refresh Tears, TheraTears) beberapa kali per hari jika mata merasa teriritasi. Dokter mungkin menyarankan anak untuk tidak mengonsumsi obat apa pun yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.

Dibutuhkan evaluasi lebih lanjut jika dokter menemukan kondisi anak karena tekanan darah tinggi atau gangguan perdarahan. Mungkin dibutuhkan resep tambahan untuk menurunkan tekanan darah ataupun kondisi lain yang menjadi penyebabnya.

Orang tua harus mengajari anak untuk tidak menggosok matanya secara berlebihan. Jika orang tua mencurigai ada sesuatu di mata anak, siram dengan air mata anak dengan menggunakan jari-jari dengan hati-hati. Selalu gunakan kacamata pelindung, untuk menghindari partikel di mata anak.

Referensi:
Summit Medical Group. Diakses pada 2019. Bleeding in The White of The Eye.
MedlinePlus. Diakses pada 2019. Subconjunctival hemorrhage.
Healthline. Diakses pada 2019. Bleeding Under the Conjunctiva.