• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Demam Bisa Menjadi Gejala dari Dermatitis Atopik

Demam Bisa Menjadi Gejala dari Dermatitis Atopik

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Demam Bisa Menjadi Gejala dari Dermatitis Atopik

Halodoc, Jakarta – Dermatitis atopik adalah jenis eksim yang paling umum dan sering terjadi pada anak-anak. Bisa dibilang ini adalah kondisi kronis yang dapat datang dan pergi selama bertahun-tahun atau sepanjang hidup, dan dapat terjadi secara bersamaan dengan jenis eksim lainnya.

Orang dengan dermatitis atopik biasanya dipicu oleh sistem kekebalan yang terlalu aktif, sehingga memicu peradangan yang akibatnya merusak pelindung kulit, membuatnya kering, serta rentan terhadap gatal-gatal dan ruam. Apa saja gejala dermatitis atopik? Apakah demam bisa menjadi gejala dari dermatitis atopik? Selengkapnya baca di sini!

Baca juga: Keringat dapat Memperparah Eksim Atopik, Kok Bisa?

Gejala Dermatitis Atopik

Gejala dermatitis atopik (eksim) sangat bervariasi dari orang ke orang dan itu meliputi:

1. Kulit kering.

2. Gatal, yang mungkin parah, terutama di malam hari.

3. Bercak berwarna merah hingga abu-abu kecokelatan, terutama pada tangan, kaki, pergelangan kaki, pergelangan tangan, leher, dada bagian atas, kelopak mata, serta di dalam lekukan siku dan lutut. Pada bayi, bercak merah juga bisa terjadi pada wajah dan kulit kepala

4. Benjolan kecil dan menonjol, yang dapat mengeluarkan cairan dan mengeras saat digaruk.

5. Kulit menebal, pecah-pecah, dan bersisik.

6. Kulit merah, sensitif, dan bengkak karena digaruk.

Apakah dermatitis atopik bisa mengakibatkan demam? Jawabannya bisa. Lebih dari separuh anak-anak dengan dermatitis atopik mengalami asma dan demam pada usia 13 tahun. Selain demam, komplikasi dari dermatitis atopik bisa juga kulit bersisik dan gatal kronis. 

Kondisi kulit yang disebut neurodermatitis (lichen simpleks kronik) dimulai dengan bercak kulit yang gatal. Orang yang mengalami kondisi ini akan menggaruk area tersebut, yang membuatnya semakin gatal. Pada akhirnya, kondisi ini dapat menyebabkan kulit yang terkena berubah warna, tebal dan kasar.

Goresan berulang karena kondisi dermatitis atopik dapat menyebabkan luka terbuka dan retakan. Ini meningkatkan risiko infeksi dari bakteri dan virus, termasuk virus herpes simpleks. Orang dengan dermatitis atopik juga mengalami masalah tidur karena siklus gatal dan menggaruk akan membuat pengidapnya susah mendapatkan tidur yang nyenyak.

Pencegahan dan Penanganan Dermatitis Atopik

Penyebab dermatitis atopik tidak diketahui, tetapi penyakit ini tampaknya disebabkan oleh kombinasi faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Banyak dari orang yang mengalami kondisi ini mengalami penurunan jumlah atau bentuk cacat protein yang disebut filaggrin di kulit mereka. Protein ini tampaknya penting dalam menjaga hidrasi kulit normal.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Dihindari saat Mengalami Eksim Atopik

Penting untuk dipahami bahwa kepekaan terhadap makanan sepertinya bukan faktor pemicu utama untuk sebagian besar kasus dermatitis atopik. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pengidap dermatitis atopik tampaknya memiliki masalah pada sistem imunnya. Faktor emosional dan stres terkadang dapat memperburuk kondisi, walaupun lagi-lagi bukan juga penyebab utama atau mendasari gangguan dermatitis atopik.

Orang dengan gangguan dermatitis atopik dapat mempertahankan kesehatannya dengan memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Butuh membeli obat tapi sedang malas keluar rumah? Tidak perlu khawatir, kamu bisa membeli obat di Halodoc. Kamu bisa mengunggah resep obatmu, dan pesanan akan diantar dalam waktu kurang dari satu jam. Ayo, download aplikasinya sekarang juga!

Baca juga: Gejala yang Muncul di Kulit Akibat Eksim Atopik

Penting untuk mengalihkan perhatian supaya kamu tidak fokus pada gatal dan ketidaknyamanan karena dermatitis atopik. Menghindari pemicu yang diketahui, menjaga kebersihan dengan mandi, mengoleskan pelembap untuk melindungi dan memperkuat pelindung kulit, mendapatkan tidur berkualitas, konsumsi makanan yang sehat, dan mengelola stres bisa menjadi penanganan untuk dermatitis atopik. Jika metode ini tidak cukup, ada opsi perawatan lain termasuk pemberian kortikosteroid topikal dan topikal non steroid biologi.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Atopic Dermatitis (Eczema).
Medicinenet.com. Diakses pada 2021. Atopic Dermatitis Symptoms, Causes, vs. Eczema, Remedies, and Treatment.
National Eczema Association. Diakses pada 2021. Atopic Dermatitis.