Demam Rematik saat Hamil, Berbahayakah?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Demam Rematik saat Hamil, Berbahayakah?

Halodoc, Jakarta - Jika kamu hamil dan mendapatkan nasihat untuk selalu menjaga kesehatan, sebaiknya kamu tidak mengabaikannya. Memang benar, ibu hamil harus dua kali lebih keras di dalam menjaga kesehatan. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk janin yang sedang tumbuh dan berkembang dalam rahim. Pasalnya, ada banyak penyakit yang rentan menyerang ibu hamil, salah satunya demam rematik

Demam rematik sering terjadi sebagai komplikasi dari radang tenggorokan yang tidak mendapatkan penanganan. Namun, tidak semua radang tenggorokan yang mengacu pada kelainan ini, tetapi hanya yang diikuti oleh infeksi bakteri jenis Streptococcus tipe A. Tidak hanya itu, demam rematik bisa terjadi sebagai komplikasi dari demam scarlet karena infeksi bakteri yang sama. 

Berbahayakan Demam Rematik saat Hamil?

Seharusnya, tubuh memproduksi antibodi untuk memerangi kuman yang masuk ke tubuh. Pada pengidap rematik, antibodi menyerang jaringan tubuh yang sehat, terutama pada bagian kulit, sendi, tulang belakang, otak, dan jantung. Gejalanya mirip dengan radang tenggorokan, seperti amandel membengkak dan memerah, kesulitan menelan, tenggorokan terasa nyeri, nanah pada amandel, dan ruam merah pada kulit. 

Baca juga: 3 Faktor yang Tingkatkan Risiko Demam Rematik

Pastinya, semua ibu mendambakan untuk memiliki sang buah hati. Namun, bagi ibu yang memiliki kelainan demam rematik, tidak ada salahnya untuk merencanakan kehamilan dengan baik. Bicarakan dengan pasangan, dan tanyakan pada dokter ahli kandungan. Ibu bisa bertanya melalui aplikasi Halodoc pada fitur Tanya Dokter atau langsung membuat janji dengan dokter ahli kandungan di rumah sakit terdekat. 

Pasalnya, ada banyak komplikasi serius yang mengancam nyawa ibu dan janin yang masih terus berkembang di dalam rahim. Berikut beberapa di antaranya:

  • Kelahiran Prematur

Pada studi berjudul Rheumatoid Diseases Increases Risks in Pregnancy yang dilakukan oleh Eliza Chakravarty, MD., asisten profesor kedokteran untuk imunologi dan rheumatologi Stanford University disebutkan sekitar 28 persen ibu hamil yang melahirkan anak dalam kondisi prematur atau kurang dari 37 minggu karena memiliki riwayat demam rematik atau kelainan autoimun rematik lainnya. 

Baca juga: Pola Hidup untuk Pengidap Demam Rematik

  • Preeklampsia

Kelainan ini membahayakan karena mengancam nyawa ibu sekaligus janin. Preeklampsia adalah tekanan darah tinggi yang terjadi selama ibu mengandung. Ketika sudah sampai pada tahap komplikasi, ibu bisa mengalami kejang, kelainan pada ginjal, yang berujung pada kematian jika terlambat dilakukan penanganan. 

  • Bayi Memiliki Berat Badan Rendah

Taiwan National Health Insurance Research Dataset mengungkapkan bahwa masalah yang sering terjadi ketika ibu hamil memiliki riwayat rematik adalah lahirnya sang buah hati dengan berat badan rendah. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Erasmus MC dari University Medical Center Rotterdam pada tahun 2009 berjudul Association of Higher Rheumatoid Arthritis Disease Activity During Pregnancy with Lower Birth Weight: Results of A National Perspective Study.

Ada risiko besar terjadinya komplikasi kehamilan jika ibu mengidap demam rematik ketika hamil. Namun, itu bukan menjadi penghalang bagi ibu untuk memiliki atau merencanakan kehamilan. Ibu hanya perlu melakukan pemeriksaan kesehatan dan bertanya lebih lanjut pada dokter terkait waktu yang tepat untuk merencanakan kehamilan. Jika dibutuhkan, konsumsi vitamin dan suplemen yang membantu mengurangi terjadinya cacat lahir juga bisa dilakukan. 

Baca juga: Ketahui 5 Komplikasi dari Penyakit Demam Rematik


Referensi: 
Standford News. Diakses pada 2019. Rheumatoid Disease Increase Risks in Pregnncy.
Erasmus MC. 2009. Diakses pada 2019. Association of Higher Rheumatoid Arthritis Disease Activity During Pregnancy with Lower Birth Weight: Results of A National Perspective Study.
Johanna M.W.Hazes, dkk. 2011. Diakses pada 2019. Rheumatoid Arthritis and Pregnancy: Evolution of Disease Activity and Pathophysiological Considerations for Drug Use.