• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Demi Mental Sehat, Ini Pentingnya Menyadari Gejala Depresi

Demi Mental Sehat, Ini Pentingnya Menyadari Gejala Depresi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Demi Mental Sehat, Ini Pentingnya Menyadari Gejala Depresi

“Menyadari gejala depresi sedini mungkin sama pentingnya dengan pengobatan untuk kondisi tersebut. Sebab, depresi adalah masalah kesehatan mental yang bisa terus memburuk hingga berujung fatal, jika tidak segera ditangani.”

Halodoc, Jakarta – Kamu mungkin sudah sering mendengar tentang depresi. Namun, apa sih sebenarnya gejala depresi itu? Bagaimana menyadari masalah kesehatan mental ini sedini mungkin agar bisa mendapatkan penanganan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat perlu dicari tahu jawabannya.

Mengutip laman Psychology Today, depresi adalah masalah kesehatan mental yang memengaruhi lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia. Dari mereka yang terkena dampak, 76-85 persen orang dengan gangguan kesehatan mental di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah tidak memiliki akses ke pengobatan. 

Baca juga: Cek Fakta: Kunyit Mampu Mengurangi Depresi

Menyadari Gejala Depresi Itu Penting

Depresi dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, membuat seseorang menarik diri dari aktivitas sosial dan fisik (termasuk pekerjaan dan/atau sekolah), serta kehilangan hubungan penting dengan orang lain. 

Salah satu gejala utama depresi adalah penarikan diri dari lingkungan sosial. Namun, di sisi lain, isolasi sosial dapat memperburuk gejala depresi. Jadi, dapat dikatakan bahwa ini seperti lingkaran setan yang saling menguatkan.

Selain itu, orang yang mengalami depresi seringkali melakukan kebiasaan buruk yang dirasa bisa mengatasi gejala, padahal justru semakin memperburuk. Misalnya seperti kebiasaan tidur yang buruk, atau penyalahgunaan alkohol dan zat.

Karena alasan inilah, sangat penting untuk menyadari gejala depresi dan segera mencari bantuan ahli. Semakin cepat depresi disadari dan ditangani, risiko perburukan gejala dan hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalkan.

Seperti Apa Gejalanya?

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) mengakui beberapa jenis gangguan depresi. Dua yang paling umum adalah depresi klinis (gangguan depresi mayor), dan gangguan depresi persisten. 

Keduanya memiliki gejala yang sama. Namun, gangguan depresi persisten biasanya tidak terlalu parah dan bertahan lebih lama. Secara umum, berikut ini beberapa gejala depresi yang perlu diwaspadai:

  1. Suasana Hati yang Buruk

Bukan sekadar bad mood, gejala depresi ini ditandai dengan kesedihan terus menerus dan perasaan hampa. Hal ini bisa berlangsung berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. 

Pada anak-anak dan remaja, yang mungkin belum bisa mendeskripsikan gejala dengan jelas, biasanya ditandai dengan sikap mudah marah dan sangat sensitif.

  1. Penurunan Minat

Gejala depresi lainnya yang juga umum dialami adalah penurunan minat atau kesenangan yang pernah dinikmati. Kondisi ini disebut juga dengan istilah anhedonia.

  1. Perubahan Nafsu Makan

Tanda umum lain dari depresi adalah perubahan dalam nafsu makan. Bagi beberapa orang bisa jadi kehilangan nafsu makan, tetapi bisa juga kebalikannya, makan berlebihan.

Studi pada 2012 yang diterbitkan di International Journal of Obesity, meneliti ribuan pria dan wanita selama 11 tahun. Peserta yang melaporkan gejala depresi dan/atau kecemasan selama kurun waktu itu, memiliki perubahan berat badan yang signifikan dan kemungkinan lebih besar untuk didiagnosis sebagai obesitas.

Baca juga: Hati-Hati, Rindu Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

  1. Gangguan Tidur

Mengutip laman Very Well Mind, gangguan tidur adalah salah satu gejala paling umum yang dialami pengidap depresi. Sekitar 80 persen orang dengan depresi diperkirakan mengalami insomnia. 

Sementara itu, sekitar 15-25 persen mengalami tidur berlebihan atau hipersomnia. Baik itu insomnia atau hipersomnia, sama-sama dapat memengaruhi kualitas hidup pengidap depresi. 

  1. Merasa Bersalah dan Tidak Berharga

Depresi dapat membuat segalanya menjadi negatif, termasuk cara melihat diri sendiri. Pengidap gangguan kesehatan mental ini mungkin berpikir tentang diri sendiri dengan cara yang tidak menarik dan tidak realistis, seperti merasa seolah-olah tidak berharga.

Mereka mungkin juga mengalami kesulitan melepaskan kesalahan masa lalu, yang mengakibatkan perasaan bersalah. Hal ini membuat mereka sibuk dengan rasa bersalahnya, dan percaya bahwa kesalahan kecil adalah bukti ketidakmampuan diri.

  1. Kesulitan Berkonsentrasi

Baik gangguan depresi mayor maupun gangguan depresi persisten membuat pengidapnya mengalami sulit konsentrasi dan membuat keputusan. Orang dengan depresi mungkin mengenali ini dalam diri mereka sendiri, atau orang lain di sekitar mereka yang mungkin menyadarinya.

Baca juga: Mengenal Sindrom Paris, Saat Realita Tak Sesuai Ekspektasi

  1. Sering Memikirkan Kematian

Seseorang dengan gejala depresi berat mungkin berpikir tentang bunuh diri, melakukan upaya bunuh diri, atau membuat rencana khusus untuk bunuh diri. 

Itulah pembahasan mengenai pentingnya menyadari gejala depresi. Dapat diketahui bahwa masalah kesehatan mental ini tidak boleh dianggap sepele. Sebab, dapat menurunkan kualitas hidup, menggiring ke kebiasaan tidak sehat seperti pemakaian narkoba dan kecanduan alkohol, hingga keinginan bunuh diri.

Dengan menyadari gejala depresi yang dialami, kemungkinan untuk mendapatkan penanganan dan sembuh sangatlah mungkin. Jadi, bila kamu merasa mengalami gejala-gejala yang tadi dijelaskan, gunakan aplikasi Halodoc untuk bicara dengan psikolog atau psikiater segera. Dengan aplikasi Halodoc, kamu juga bisa beli obat yang diresepkan dengan mudah, lo.

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2021. Depression Explained.
Very Well Mind. Diakses pada 2021. Symptoms of Clinical Depression.
International Journal of Obesity. Diakses pada 2021. The Associations of Anxiety and Depression Symptoms With Weight Change and Incident Obesity: The HUNT Study.