• Home
  • /
  • Diare Kronis pada Anak, Apa Penyebabnya?

Diare Kronis pada Anak, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
diare-kronis-pada-anak-apa-penyebabnya-halodoc

Halodoc, Jakarta – Diare adalah salah satu penyakit umum yang tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pada anak-anak, diare biasanya disebabkan oleh alergi terhadap makanan tertentu atau terlalu banyak mengonsumsi buah-buahan. Kondisi ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam satu atau dua hari.

Namun, bila diare berlanjut sampai empat minggu, kondisi ini dianggap sebagai diare kronis. Lantas, apa yang menjadi penyebab diare kronis pada anak? Yuk, cari tahu di bawah ini.

Baca juga: Jangan Salah, Ini Bedanya Diare Kronis dengan Diare Akut

Diare adalah kondisi ketika frekuensi buang air besar seseorang meningkat menjadi beberapa kali dalam sehari dan feses yang dikeluarkan bertekstur encer. Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi pada anak-anak. 

Namun, bila diare berlangsung sampai beberapa hari lamanya seperti pada kasus diare kronis, hal ini dapat menyebabkan anak mengalami berbagai masalah kesehatan serius. Karena itu, jangan sepelekan diare pada anak dan segera hubungi dokter bila Si Kecil mengalami diare yang berlangsung lebih dari satu hari.

Baca juga: Amankah Memberikan Obat Diare Anak yang Dijual Bebas?

Mengetahui penyebab diare kronis pada anak juga penting, agar orangtua dapat mewaspadainya dan melakukan pencegahan. Berikut ini penyebab diare kronis pada anak-anak:

1. Infeksi pada Saluran Pencernaan

Diare kronis pada anak kadang-kadang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit berbahaya. Anak-anak dapat terinfeksi melalui air, minuman, atau makanan yang terkontaminasi; atau melalui kontak langsung dengan orang lain. Setelah terinfeksi, beberapa anak jadi memiliki masalah dalam mencerna karbohidrat, seperti laktosa atau protein dalam makanan seperti susu, produk susu, atau kedelai. 

Nah, mengonsumsi jenis makanan tersebut setelah terinfeksi dapat menyebabkan diare yang berkepanjangan atau diare kronis, yang seringkali bertahan sampai 6 minggu. Infeksi bakteri atau parasit juga dapat mengakibatkan diare tidak bisa sembuh dengan cepat tanpa pengobatan. 

2. Penyakit Celiac

Penyakit Celiac adalah gangguan pencernaan yang merusak usus kecil. Penyakit ini dipicu oleh konsumsi makanan yang mengandung gluten. Gluten adalah protein yang ditemukan secara alami dalam gandum, barley, dan gandum hitam. Protein ini biasanya bisa ditemukan dalam makanan, seperti roti, pasta, kue, dan biskuit. Penyakit Celiac dapat terjadi pada anak-anak dari segala usia.

3. Gangguan GI Fungsional

Pada gangguan GI fungsional, gejala yang terjadi disebabkan oleh perubahan cara kerja saluran pencernaan. Anak-anak dengan gangguan GI fungsional sering mengalami gejala, tetapi saluran pencernaannya tidak menjadi rusak. Perlu diingat, gangguan GI fungsional bukanlah penyakit, tetapi adalah sekelompok gejala yang terjadi secara bersamaan.

Dua gangguan GI fungsional yang menyebabkan diare kronis pada anak-anak adalah diare pada balita dan sindrom iritasi usus (IBS).

  • Diare Balita

Diare balita atau disebut juga diare fungsional adalah penyebab umum diare kronis pada balita (usia 1–3 tahun) dan anak usia prasekolah (usia 3–5 tahun). Anak-anak yang mengalami diare balita dapat buang air besar sebanyak 4 kali dalam sehari dan tidak memiliki gejala lainnya. Mereka biasanya juga dapat tetap bertumbuh dengan baik, mengalami pertambahan berat badan, dan sehat.

Diare balita biasanya dapat sembuh dengan sendirinya pada saat anak-anak mulai sekolah dasar. Para peneliti menduga bahwa minum terlalu banyak minuman manis, terutama yang mengandung sirup jagung fruktosa tinggi dan sorbitol, dapat menyebabkan diare pada balita.

  • IBS

IBS adalah penyebab umum diare kronis pada anak-anak usia sekolah dasar dan remaja. Gejala-gejala IBS yang paling umum adalah sakit perut atau rasa tidak nyaman atau kram pada perut yang disertai dengan diare, sembelit, atau keduanya. Namun, penyakit ini tidak menyebabkan gejala, seperti penurunan berat badan, muntah, atau BAB berdarah.

4. Alergi dan Intoleransi Makanan

Alergi makanan, intoleransi laktosa, intoleransi fruktosa dan intoleransi sukrosa juga adalah penyebab umum diare kronis.

  • Alergi Makanan

Susu, produk susu, dan kedelai biasanya adalah penyebab alergi makanan yang paling umum yang memengaruhi saluran pencernaan pada anak-anak. Kondisi ini biasanya terjadi pada tahun pertama kehidupan dan dapat membaik pada usia 3 tahun. Makanan lain yang dapat menyebabkan alergi, antara lain biji-bijian sereal, telur, dan makanan laut.

  • Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa adalah kondisi umum yang dapat menyebabkan diare setelah makan makanan atau minuman yang mengandung susu atau produk susu. Penyebabnya adalah rendahnya kadar laktase, atau defisiensi laktase, yaitu enzim yang membantu mencerna laktosa.

  • Intoleransi Fruktosa

Intoleransi fruktosa adalah kondisi yang dapat menyebabkan diare setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung fruktosa, yaitu gula yang ditemukan dalam buah-buahan, jus buah, dan madu.

  • Intoleransi Sukrosa

Intoleransi sukrosa adalah kondisi yang dapat menyebabkan diare setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung sukrosa, atau yang dikenal juga sebagai gula meja atau gula putih.

5. Penyakit Radang Usus 

Dua jenis utama penyakit radang usus adalah penyakit Crohn dan colitis ulserativa. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak dari segala usia, tetapi paling sering yang berada di usia sekolah dasar atau remaja.

6. Pertumbuhan Bakteri Berlebih di Usus Kecil

Ini adalah kondisi di mana terjadi peningkatan jumlah bakteri atau perubahan jenis bakteri di usus kecil. Penyakit ini sering dikaitkan dengan penyakit yang merusak sistem pencernaan, seperti penyakit Crohn.

Baca juga: Cegah Diare Kronis dengan Menjaga Pola Makan

Itulah beberapa penyebab diare kronis pada anak. Untuk melakukan pemeriksaan terkait diare kronis yang dialami Si Kecil, ibu juga bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihan kamu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2020. Symptoms & Causes of Chronic Diarrhea in Children.