• Home
  • /
  • Waspada, Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otak

Waspada, Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Difteri

Halodoc, Jakarta - Penyakit difteri, yang beberapa tahun belakangan marak terjadi di Indonesia, biasanya ditandai dengan adanya pembengkakan pada leher. Penyakit ini terjadi karena adanya infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada area hidung dan tenggorokan. Ketika infeksi terjadi, gejala tidak akan langsung muncul saat itu. Gejala baru akan muncul setelah 2-5 hari seseorang terpapar bakteri.

Bukan hanya bengkak pada leher, gejala akan ditandai dengan keluarnya cairan hidung yang disertai dengan darah, sakit kepala, sakit tenggorokan, serta demam yang tak kunjung membaik. Apakah gejala yang dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan otak pada pengidapnya? Simak jawabannya dalam penjelasan berikut!

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otak, Benarkah?

Kerusakan otak merupakan kerusakan sel yang terjadi di dalam otak, apapun penyebabnya, baik yang disebabkan oleh faktor luar seperti kecelakaan atau karena bawaan lahir. Tak hanya itu, kerusakan otak sendiri dapat dipicu oleh kebiasaan yang sering kali dilakukan tanpa sadar dan telah berlangsung selama bertahun-tahun lamanya.

Sedangkan pada pengidap difteri, kerusakan otak disebabkan oleh bakteri yang menghasilkan racun dan merusak jaringan dalam hidung dan tenggorokan, sehingga saluran napas mengalami penyumbatan. Kemudian, racun tersebut menyebar melalui aliran darah dan menyerang berbagai organ, salah satunya otak. Tak hanya otak, organ jantung pun dapat terinfeksi dan menimbulkan radang otot jantung.

Pada organ lainnya seperti ginjal, bakteri penyebab difteri akan menyebabkan gagal ginjal. Sedangkan pada saraf, bakteri dapat menyebabkan kelumpuhan. Efek samping berbahaya dapat ditimbulkan oleh area yang terinfeksi, untuk itu, penanganan tepat sangat penting dilakukan guna mencegah terjadinya komplikasi akibat difteri. Penyakit yang satu ini merupakan penyakit menular berbahaya yang berpotensi mengancam nyawa. 

Baca juga: Waspada Penyakit Menular, Ini 6 Gejala Difteri

Ketahui Faktor Risikonya

Bakteri berbahaya penyebab difteri disebut dengan Corynebacterium diphtheria yang dapat tertular melalui percikan air liur yang dikeluarkan pengidap saat batuk atau bersin. Penularan bahkan dapat terjadi secara tidak langsung melalui benda-benda yang telah terkontaminasi air liur pengidap. Meskipun penyakit yang satu ini dapat dialami oleh siapapun, beberapa orang dengan faktor risiko berikut ini memiliki risiko lebih tinggi mengidap penyakit difteri:

  • Tinggal di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

  • Hobi melakukan traveling dan tidak sengaja mengunjungi daerah yang sedang mewabah.

  • Seseorang dengan kekebalan tubuh rendah, seperti pada pengidap AIDS.

Segera temui dokter di rumah sakit terdekat jika kamu memiliki sejumlah gejala berat, seperti keringat dingin, gangguan penglihatan, sesak napas, kulit memucat, serta jantung berdebar tak beraturan. Jika sejumlah gejala tersebut muncul, segera pergi ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan medis.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Adakah Langkah Pencegahan Penyakit Difteri?

Pada dasarnya, penyakit difteri dapat dicegah jauh-jauh hari dengan melakukan imunisasi DPT, yaitu vaksin difteri yang diberikan dengan kombinasi vaksin tetanus dan batuk rejan. Imunisasi jenis ini merupakan salah satu imunisasi wajib bagi anak-anak yang sudah dapat dilakukan saat mereka menginjak usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta usia 5 tahun.

Kemudian, vaksin ini (Tdap atau Td) dapat diberikan ulang guna memberikan perlindungan tubuh yang optimal. Biasanya pengulangan vaksin dilakukan saat anak berusia 10-12 tahun dan 18 tahun. Khusus untuk vaksin Td, pemberian ulang akan dilakukan 10 tahun sekali. 

Bagi anak-anak yang sudah memasuki usia 7 tahun dan belum mendapat imunisasi lengkap yang telah disebutkan di atas, jangan khawatir. Pasalnya, imunisasi ini dapat diberikan sesuai anjuran dokter. Namun, bagi anak-anak berusia di atas 7 tahun dan belum mendapat imunisasi lengkap, vaksin Tdap dapat langsung dilakukan. Dalam hal ini, selalu diskusikan dengan dokter apa yang menjadi hambatan, agar vaksinasi lengkap dapat dilakukan.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2019. Everything You Need to Know About Diphtheria.
NHS. Diakses pada 2019. Diphtheria.