11 July 2018

Emotional Hijacking Alasan Emosi Meledak Pemain Bola di Piala Dunia

Emotional Hijacking, Pembajakan emosi, World Cup 2018

Halodoc, Jakarta – Pecinta sepak bola tentu tak asing dengan sosok Zinedine Zidane. Maestro Sepak Bola, Juara Dunia, Juara Eropa, Juara Liga Champions, yang juga pernah menyandang sebagai pemain terbaik dunia, dan tentunya sederet penghargaan lain yang tak bisa disebutkan satu per satu.

Namun, di balik kilauan prestasi yang diukirnya, ada sebersit memori yang tak akan pernah dilupakan banyak orang, apalagi penggemar beratnya. Zizou, sapaan akrabnya, menutup karier emasnya dengan aksi kontroversial, tidak logis, benar-benar di luar nalar sehat.

Di Final World Cup 2006 yang mempertemukan Perancis vs Italia, Sang Kapten menyeruduk dengan sengaja dada bek Italia, Marco Materazzi hingga jatuh tersungkur. Sontak wasit pun mengganjar Zizou dengan kartu merah, dan Perancis pun harus menelan kekalahan.

Banyak pengamat, penggemar, dan orang di luar sana yang menyayangkan tindakan Sang Maestro. Ikon publik Perancis itu pernah berkata, “Lebih baik saya mati daripada meminta maaf (pada Materazzi)”. Namun, setelah publik tahu apa yang dikatakan Materazzi terhadap Zizou, banyak dari mereka yang membela aksi Zinedine Zidane. Diketahui bahwa Materazzi dengan sengaja menghina adik perempuan Zizou dengan kata-kata tak pantas.

Emotional Hijacking, Trik “Kotor” Menghasut Lawan

Jangan berpikir kalau permainan sepak hanyalah sekadar adu skill, kecepatan, dan otot saja. Sebab ada satu hal penting lainnya, yang bisa menjadi kekuatan atau bahkan kelemahan atlet di lapangan, yaitu masalah mental dan psikologi. Sedikit saja pemain terhasut, bisa menjadi bumerang bagi ia atau timya.

Kasus seperti Zidane tak satu-dua kali terjadi di dunia sepak bola. Kasus terkenal lainnya, pernah terjadi saat timnas Inggris bertemu Portugal di perempat final Piala Dunia 2006. Saat berduel dengan bek Portugal, Ricardo Carvalho, penyerang Inggris, Wayne Rooney entah sengaja ataupun tidak mendaratkan kakinya di sekitar selangkangan Carvalho. Tak lama kemudian, Cristiano Ronaldo pun mendatangi wasit, protes atas aksi yang telah dilakukan Rooney.

Kesal atas tindakan yang dilakukan Ronaldo, Rooney pun mendorongnya di depan wasit. Akhirnya, wasit pun “menghadiahi” Rooney dengan kartu merah. Namun, kartu merah itu diberikan atas aksi Rooney terhadap Carvalho.

Menariknya, Ronaldo tertangkap kamera saat mengedipkan sebelah matanya ketika Rooney keluar lapangan. Rooney menganggap Ronaldo yang juga rekannya di Manchester United itu telah memengaruhi wasit. Alhasil, Inggris mesti tersingkir dari laga tersebut.

Nah, kasus seperti di atas ini bisa disebut sebagai emotional hijacking, pembajakan emosi. Menurut ahli, pembajakan emosi ini merupakan respons cepat seseorang saat dihadapkan pada situasi kritis. Berdasarkan teori, setiap individu  memiliki naluri respons cepat terhadap sesuatu hal, tapi aksinya bisa dapat benar atau salah.

Pembajakan Saraf Otak

Menurut ahli berdasarkan penelitian, ‘ledakan emosional’ seperti kasus di atas itu sebenarnya adalah pembajakan saraf. Dalam kondisi itu, pusat sistem limbik (bagian otak), yang disebut amigdala (pusat kendali semua emosi di otak), mengambil alih neokorteks.

Nah, neokorteks sendiri merupakan bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran seseorang. Inilah bahayanya, ketika neokorteks berhenti befungsi, amigdala dalam seketika akan mengendalikan otak, dalam artian membajaknya. Oleh sebab itu, dikenal istilah pembajakan emosi. Dengan kata lain, nalar kritis tak akan berjalan dengan semestinya saat amigdala mengambil alih.

Kata ahli, sebenarnya apa yang dilakukan amigdala ini sebetulnya merupakan “karunia” Tuhan pada umat manusia. Pembajakan amigdala bisa dijadikan “senjata” pertahanan diri terhadap ancaman. Namun, jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, hal ini dapat berubah menjadi respons tidak tepat terhadap situasi tertentu. Misalnya, berujung pada tindakan agresi terhadap  orang lain.

Ledakan emosional yang ekstrem biasanya disebabkan oleh kejadian yang memicu kemarahan atau ketakutan pada individu. Yang perlu diwaspadai, banyak orang gagal mengendalikan pembajakan saraf ini. Contohnya, seperti yang dilakukan Zizou terhadap Materazzi.

Sang Maestro sepak bola itu pernah berkata, “Jika Anda melihat 14 kartu merah yang saya terima selama karier saya, 12 di antaranya adalah hasil provokasi. Ini bukan pembenaran, bukan alasan, tapi kemarahan.”

Nah, kira-kira apakah kasus emotional hijacking atau pembajakan emosi akan terjadi pada partai semifinal atau final World Cup 2018?

Punya keluhan medis dan ingin berdiskusi langsung dengan dokter? Kamu bisa lo bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!