• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fakta Seputar Operasi Bariatrik untuk Mengatasi Obesitas
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fakta Seputar Operasi Bariatrik untuk Mengatasi Obesitas

Fakta Seputar Operasi Bariatrik untuk Mengatasi Obesitas

5 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 19 Juli 2022

“Operasi bariatrik dilakukan dengan tujuan untuk membantu penurunan berat badan. Tindakan bedah ini umum dilakukan pada pengidap obesitas yang kesulitan menurunkan berat badan dengan pola makan sehat dan rutin olahraga.”

Fakta Seputar Operasi Bariatrik untuk Mengatasi ObesitasFakta Seputar Operasi Bariatrik untuk Mengatasi Obesitas

Halodoc, Jakarta – Obesitas menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian. Bukan tanpa alasan, kelebihan berat badan turut menjadi pemicu munculnya banyak masalah kesehatan yang serius dan membahayakan. Sebut saja tekanan darah tinggi, kolesterol, penyakit jantung, dan stroke.

Biasanya, pengidap obesitas akan dianjurkan untuk menurunkan berat badan dengan metode diet tertentu yang diimbangi dengan olahraga rutin. Namun, cara tersebut tidak selalu memberikan hasil optimal. Nah, pengidap obesitas yang tidak berhasil menurunkan berat badan dengan metode yang disebutkan di awal biasanya dianjurkan untuk menjalani operasi bariatrik.

Apa Itu Operasi Bariatrik?

Operasi bariatrik adalah prosedur medis yang dilakukan secara khusus dengan tujuan untuk mengatasi kelebihan berat badan dan membantu menghilangkan lemak berlebih pada tubuh. Biasanya, pengidap obesitas yang menjalani operasi bariatrik akan mengalami penurunan berat badan mencapai 40 sampai 68 persen dalam rentang waktu sekitar 2 tahun. 

Siapa Saja yang Membutuhkan Tindakan Operasi Bariatrik?

Nyatanya, tidak semua pengidap obesitas dapat melakukan prosedur bedah bariatrik. Terdapat beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi bagi pengidap obesitas yang hendak melakukan prosedur ini, di antaranya:

  • Memiliki indeks massa tubuh di atas 35 disertai penyakit penyerta. 
  • Mengidap dua atau lebih masalah kesehatan kronis. 
  • Tidak sedang hamil bagi wanita.
  • Tidak sedang mengonsumsi obat yang bisa menghambat kelancaran tindakan bedah.

Jenis Operasi Bariatrik

Operasi bariatrik terdiri dari beberapa tindakan bedah yang bergantung pada kondisi pengidap. Adapun, jenis operasi bariatrik yaitu:

  1. Gastric Bypass

Bypass lambung atau gastric bypass dilakukan dengan menstapler organ lambung sehingga ukuran kantung lambung menjadi lebih kecil. Nantinya, kantung akan menembus lambung dan sebagian organ usus. Jenis operasi bariatrik ini akan membuat pengidap lebih cepat kenyang  sehingga porsi makan pun berkurang. Selain itu, prosedur bedah ini membantu menurunkan tingginya kalori makanan yang terserap. 

  1. Sleeve Gastrectomy (SV)

Operasi bariatrik jenis ini dilakukan dengan cara mengangkat beberapa bagian dari organ pencernaan. Prosedur ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah masuknya makanan pada tubuh dalam jumlah berlebih. Dampaknya, pengidap obesitas nantinya akan merasa kenyang lebih lama.

  1. Adjustable Gastric Banding (AGB)

Selanjutnya ada prosedur AGB. Jenis operasi bariatrik yang dilakukan dengan mengikat lambung bagian atas menggunakan pita. Hal ini dilakukan dengan tujuan membentuk kantong dan lubang berukuran kecil pada sisi bawah perut. Pita akan membantu menahan makanan pada sisi kantong atas lambung dalam waktu lebih lama. 

  1. Teknik Gabungan

Jenis terakhir adalah teknik gabungan yang mengakibatkan terjadinya malabsorpsi nutrisi yang masuk ke tubuh, baik makro dan mikro. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membatasi proses penyerapan makanan pada tubuh. Contoh dari teknik bedah gabungan ini adalah prosedur biliopancreatic diversion (BPD) dan BPD yang digabungkan dengan duodenal switch (BPD DS).

Perlukah Persiapan Khusus?

Sebelum operasi dilakukan, pengidap akan menjalani beberapa pemeriksaan,  di antaranya:

  • Pemeriksaan fungsi paru dan syndrome sleep apnea.
  • Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya kelainan endokrin dan metabolik.
  • Pemeriksaan terkait kelainan gastroesophageal.
  • Pemeriksaan untuk mengukur tingkat kepadatan tulang.
  • Pemeriksaan komposisi tubuh.
  • Pemeriksaan resting energy expenditure.

Selain itu, dokter akan memberitahu perubahan pola makan yang harus diikuti setelah tindakan bedah dilakukan, apa saja efek samping dan risiko yang mungkin terjadi. 

Adakah Metode Diet Tertentu yang Perlu Dijalani Sebelum Tindakan Operasi Bariatrik?

Tak hanya pemeriksaan fisik, dokter juga menyarankan pengidap untuk melakukan diet tertentu sebelum menjalani operasi bariatrik. Jenis diet yang dianjurkan adalah diet rendah kalori dengan asupan kalori harian antara 1000 sampai 2000 kalori atau bahkan tidak lebih dari 800 kalori.

Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan kadar vitamin di dalam tubuh. Jika terdeteksi adanya defisiensi salah satu jenis vitamin dalam tubuh, kamu harus menjalani diet khusus lainnya untuk mengatasi defisiensi tersebut. Beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak kamu hindari selama menjalani diet antara lain:

  • Makanan atau minuman tinggi gula.
  • Makanan berlemak dan makanan yang digoreng.
  • Minuman beralkohol.

Selain itu, kamu juga perlu membatasi asupan makanan tertentu sebelum menjalani operasi bariatrik, seperti: 

  • Makanan olahan dari tepung.
  • Produk olahan dari susu.
  • Daging keras.
  • Minuman soda.
  • Sayuran mentah dan buah yang dikonsumsi bersama kulitnya.

Prosedur Operasi Bariatrik

Tindakan bedah bariatrik dilakukan di rumah sakit dengan pemberian anestesi, sehingga pengidap tidak sadar selama prosedur dilakukan.

Sekarang, metode operasi bariatrik banyak dilakukan secara laparoskopi dengan bantuan alat berbentuk tabung yang sudah dilengkapi kamera. Tindakan akan memerlukan waktu selama beberapa jam. Setelahnya, pengidap harus dirawat selama beberapa hari untuk memantau apabila terjadi komplikasi. 

Bagaimana Hasilnya?

Operasi bariatrik dilakukan dengan tujuan penurunan berat badan jangka panjang. Berapa banyak berat badan yang turun bergantung pada jenis pembedahan bariatrik yang dipilih dan bagaimana pengidap berhasil melakukan perubahan pola hidup dan pola makan. 

Beberapa pengidap kemungkinan berhasil menurunkan berat badan sebanyak 50 persen, sedangkan lainnya bisa lebih besar. Tak hanya membantu menurunkan berat badan, tindakan bedah bariatrik dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi karena obesitas, misalnya:

  • Masalah kesehatan jantung.
  • Hipertensi.
  • Gangguan tidur atau sleep apnea.
  • Diabetes tipe 2.
  • Perlemakan hati yang terjadi bukan karena konsumsi minuman beralkohol.
  • GERD.
  • Nyeri sendi atau osteoartritis

Perawatan Setelah Operasi Bariatrik

Pengidap obesitas yang telah melakukan bedah bariatrik harus menjalani diet tertentu dan berolahraga secara rutin. Perubahan pola hidup tentunya dilakukan untuk mencegah munculnya komplikasi dan berat badan bertambah setelah tindakan. 

Diet Setelah Operasi Bariatrik

Biasanya, diet yang harus dijalani setelah melakukan bedah bariatrik disesuaikan dengan tekstur makanan. Pengidap yang baru selesai menjalani tindakan bedah akan diberikan makanan dengan tekstur cair dan berangsur meningkat hingga kembali ke tekstur padat. 

Diet dilakukan secara bertahap, biasanya membutuhkan waktu antara 4 sampai 6 minggu sesuai dengan kondisi kesehatan pengidap. Beberapa jenis makanan yang dapat dikonsumsi setelah operasi yaitu: 

  • Puree atau makanan lumat tanpa gula dan rendah lemak.
  • Makanan lunak yang telah bertekstur.
  • Makanan padat.
  • Suplemen dengan kandungan vitamin B12, D, dan zat besi.

Makanan tinggi lemak dan gula tetap menjadi pantangan setelah tindakan dilakukan. Mudahnya, makanan yang asupannya dibatasi atau bahkan dihindari setelah operasi sama dengan sebelum operasi dilakukan.  

Adakah Risiko dan Efek Sampingnya? 

Operasi bariatrik sebenarnya aman dan memiliki efektivitas yang cukup baik untuk pengidap obesitas. Meski begitu, tindakan ini juga tidak lepas dari beberapa risiko yang mungkin terjadi, di antaranya: 

  • Infeksi.
  • Perdarahan.
  • Muncul reaksi terhadap obat atau anestesi.
  • Gangguan pada paru-paru.
  • Terjadi penggumpalan darah.
  • Masalah kebocoran yang terjadi pada sistem pencernaan.
  • Kematian. 

Selanjutnya, komplikasi dan risiko jangka panjang yang mungkin muncul di antaranya: 

  • Masalah penyumbatan pada usus.
  • Mengalami sindrom Dumping, seperti mual, muntah, pusing, dan diare. 
  • Mengalami hernia.
  • Terdapat batu empedu.
  • Mengalami kekurangan gizi atau malnutrisi.
  • Mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah. 
  • GERD.

Sementara itu, efek samping dari operasi bariatrik cenderung ringan. Beberapa efek yang kerap muncul setelah operasi dilakukan yaitu: 

  • Sembelit atau konstipasi.
  • Sulit menelan.
  • Mengalami diare.
  • Kulit mengendur di tempat bekas bedah.
  • Defisiensi vitamin dan mineral.
  • Rambut rontok, tetapi hanya terjadi sementara. 

Sebelum melakukan operasi bariatrik, pastikan kamu melakukan diskusi dengan dokter. Lalu, lakukan pemeriksaan medis jika memang dibutuhkan. Manfaatkan layanan Janji Medis di aplikasi Halodoc, kamu bisa download aplikasi Halodoc secara gratis di Play Store dan App Store.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Bariatric surgery.
NHS UK. Diakses pada 2022. Weight Loss Surgery.
WebMD. Diakses pada 2022. Choosing a Type of Weight Loss Surgery.