• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fakta Seputar Uji Coba Pertama Vaksin Corona pada Manusia

Fakta Seputar Uji Coba Pertama Vaksin Corona pada Manusia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Sudah sejak awal bulan Maret, ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 yang disebabkan virus corona jenis baru menjadi pandemi, dunia mengalami banyak perubahan. Kita tidak bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya. Para ahli meyakini, pandemi ini tidak akan berakhir hingga kelak vaksin ditemukan.

Kabar baiknya, para ahli dan beberapa perusahaan farmasi kini sudah mulai melakukan uji coba akan vaksin tersebut. Laporan yang diterbitkan pada Selasa (14/07) di New England Journal of Medicine, para peneliti melaporkan hasil vaksin COVID-19 pertama yang diuji pada manusia. Uji coba ini melibatkan 45 sukarelawan sehat. Vaksin ini ditujukan untuk menguji keamanan vaksin, dan hasilnya ternyata cukup menjanjikan. 

Baca juga: Sampai Kapan Pandemi Corona Akan Berlangsung? Ini Perkiraan Para Ahli

Amankah Vaksin Baru Ini untuk Manusia?

Melansir dari laman Time, Moderna Therapeutics, firma biotek berbasis Massa yang mengembangkan vaksin bersama para peneliti dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases. 

Hasil uji coba keamanan vaksin pada manusia ini dilaporkan pertama kali dalam siaran pers pada tanggal 18 Mei lalu. Sukarelawan pertama divaksinasi pada 16 Maret, selang dua bulan setelah urutan genetik virus SARS-CoV-2 diterbitkan. Sebanyak total 45 sukarelawan ini menerima satu dari tiga tingkat dosis vaksin, yang diberikan dalam dua suntikan sekitar satu bulan terpisah. 

Laporan penelitian tersebut mengungkapkan, tidak ada efek samping serius dari vaksin yang tengah diuji coba. Namun, lebih dari setengah sukarelawan ini mengalami efek samping ringan seperti kelelahan, sakit kepala, kedinginan, dan rasa sakit di area injeksi. Semua peserta menghasilkan antibodi terhadap SARS-CoV-2.

Para ahli menemukan, antibodi tersebut mampu menetralkan virus sama efektifnya dengan antibodi yang diambil dari orang yang secara alami terinfeksi SARS-CoV-2 dan berhasil sembuh. Jadi, vaksin tersebut menghasilkan antibodi setara dengan antibodi yang dimiliki pasien yang sembuh dari COVID-19. 

Namun, reaksi lebih kuat muncul setelah suntikan kedua. “Kami melihat respons yang kuat terjadi setelah vaksinasi kedua,” kata Dr. Lisa Jackson, penulis utama dalam studi ini. Ia juga menambahkan, “Tampaknya diperlukan dua dosis, yang diharapkan dari jenis vaksin ini dan dari vaksin terhadap virus yang muncul yang belum ada dalam populasi. Sistem kekebalan perlu dibentuk dengan dosis pertama untuk kemudian merespons dengan lebih kuat pada vaksinasi kedua. "

Baca juga: Vaksin Corona Belum Tersedia, Begini Cara Tekan Angka Penularan

Langkah Pencegahan lain juga Tetap Perlu Dilakukan

Meski terlihat menjanjikan, sampai berapa lama respon imun dari vaksin untuk melindungi seseorang dari COVID-19, belum diketahui. Kini para sukarelawan tetap dimonitor selama satu tahun untuk mencari tahu. Sementara itu, Moderna juga sudah merencanakan untuk studi lanjutan yang akan mencakup 300 orang yang setengahnya ditempatkan dalam kelompok plasebo.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS mengesahkan penelitian fase 3 yang melibatkan 30.000 orang, yang akan membandingkan efektivitas vaksin dibandingkan dengan plasebo. Hal ini mengingat kebutuhan vaksin sudah sangat mendesak.

Ada banyak pekerjaan yang perlu dilakukan para peneliti hingga nanti vaksin bisa digunakan oleh banyak orang. Begini urutannya: 

  • Uji coba perlu menunjukkan vaksin itu benar-benar aman. Sebab, tidak akan berguna apabila menyebabkan lebih banyak efek samping daripada penyakit yang ditimbulkan oleh virus itu sendiri.
  • Uji klinis juga perlu menunjukkan vaksin meningkatkan respons imun yang melindungi orang dari sakit.
  • Cara memproduksi vaksin dalam skala besar harus diganti untuk dosis vaksin dalam jumlah yang sangat banyak. 
  • Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS harus menyetujuinya sebelum diberikan kepada orang.
  • Akan ada tantangan logistik besar untuk benar-benar mengimunisasi sebagian besar populasi dunia.
  • Gagasan memberi orang vaksin dan kemudian sengaja menginfeksi mereka (dikenal sebagai studi provokasi) akan memberikan jawaban yang lebih cepat. Namun saat ini, cara tersebut dipandang terlalu berbahaya dan tidak etis.

Selagi menunggu vaksin benar-benar teruji klinis dan diproduksi massal, maka kita harus tetap melakukan cara-cara pencegahan yang selama ini kita terapkan. Lakukan physcial distancing, pakai masker saat berada di tempat ramai, jangan keluar rumah jika tidak mendesak. Selain itu, tetap terapkan gaya hidup sehat serta cuci tangan dengan air dan sabun sebelum berkegiatan.

Baca juga: Ini Yang Mungkin Terjadi Jika Physical Distancing Diakhiri Terlalu Cepat

Kita semua ingin pandemi ini segera berakhir, namun ini tidak akan terjadi jika tidak mengambil bagian dalam upaya pencegahan penularan COVID-19. Oleh karena itu, pastikan mengikuti anjuran otoritas setempat dan lakukan upaya pencegahan seperti yang disebutkan sebelumnya. 

Sementara itu, jika kamu merasa gejala penyakit yang kamu alami mirip COVID-19, kamu bisa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter di Halodoc. Melalui fitur chat, kamu tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan layanan kesehatan. Praktis, bukan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
BBC. Diakses pada 2020. Coronavirus Vaccine: When Will We Have One?
Time. Diakses pada 2020. Moderna's Coronavirus Vaccine Looks Promising in Its First Tests.
The New York Times. Diakses pada 2020. Coronavirus Vaccine Tracker.